Oleh: Rovicky | Oktober 26, 2006

Bahasa dalam interpretasi makna


> Namun dari cara Fatimah menjelaskan kepada Rasulullah adanya tamu di luar,
> seolah-olah Malaikat Maut Izrail yang datang menjemput itu adalah laki-laki.
> Demikian pula Jibril.

talk.gifSaya ubah dikit judulnya atas ide tulisan Pak Hari Primadi. mas Hari Prima yang menyoroti “jenis kelamin” malaikat ini cukup menggelitik dan menarik. Sangat antromorphis banget. Dianalogikan dengan manusia, bagaimana “mereka” menjadi “mirip aku”.

Dalam sebuah pengertian kata dan kalimat, bahasa akan sangat memegang peranan. Keyakinan saya malaikat tidak memiliki jenis kelamin, sekali lagi ini aspek keyakinan. Nah ketika sebuah ayat turun dari Loh Mahfudz (bener ga nulisnya?), maka akan menyentuh asek bahasa dimana diturunkannya.

Masing-masing bahasa memilki ciri-ciri tersendiri.
Bahasa German mengenal “jenis kelamin” untuk setiap kata benda. “Dir Das Die”, Jenis kelamin sangat penting. Bahasa Inggris sangat mementingkan tenses (waktu), play – played – played. Bahasa Jawa sangat mementingkat derajat, kowe-panjenengan-sinuhun, wis pokoke kalau jawa itu bahasanya tidak egaliter deh :(.

Itulas sebabnya pengertian dan tafsir sebuah kalimat dari sebuah bahasa yg tidak ada saat ini menjadi terkendala dengan bahasa. (asumsinya bahasa Qur-an adalah bukan bahasa Arab kini). Memang untuk AQ lebih banyak menyentuh bahasa Arab karena diturunkan di Arab. Perkembangan bahasa tentunya juga ada, bahasapun juga evolutif dan tidak mandeg. Nah Pak Latip tentunya lebih tahu bahwa bahasa Qur’an juga bukan bahasa Arab moderen. Dan kita tahu beberapa kata yg tidak dikenal atau tidak ada padanannya dengan bahasa Arab kuno sekalipun. Misal “Alif Laam Mim”, ini artinya (tafsirnya) bisa bermacam-macam dan bahkan ada yang tidak menafsirkan sama sekali.

Bahkan Kang Latif yg blajar bahasa arab crita:
Juga sebenarnya ada perbedaan yang sangat besar antara tafsir dengan ta’wil…..
Bahasa Arab klasik memang susah…
Jangankan alif laam mim dan yang sejenisnya yang jelas-jelas mutasyabihat, wong makna istiwa’ di kalimat Tsummas-tawaa ‘alal ‘arsy (Al:Baqoroh) saja orang Arab sendiri banyak yang tidak memahami.
Salam
A.Latif. S

Disinilah menurut saya pengertian dalam AQ tidak singular dalam interpretatisa (multi interpretatif), kalau bahasa fisikanya mungkin bisa disebut “non-unique solution”. (mas-mas dan mbak yang dari MIPA-Geofisika, tentunya mahfum dengan istilah “non-unique solution”.
Nah yang mengundang kontroversi adalah ketika ada yang menganalogikan bahwa karena Non Unique Solution ini bukan berarti hanya ada satu versi kebenaran. Mengapa saya katakan versi ? hal ini semata karena kebenarannya sangat tergantung siapa yg menginterpretasikannya.

Bagaimana kalau dianalogikan dengan seismik, maaf kalau ada yg tersinggung ini terlalu rendah ya menganalogikan AQ dengan seismic, tetapi anda tahu maksudnya kan, ini hanya soal interpretasi saja. Jadi bukan isinya yg dianalogikan looh jangan diplesetkan dulu, sekali lagi saya tegaskan, saya juga yakin kalau AQ itu wahyu Illahi.

Interpretasi seismik sangat tergantung dengan metode, alat, juga kemampuan interpreternya serta waktu yg dperlukan untuk melakukan analisa (interpretasi). Dahulu interpretasi seismic hanya dengan kertas, kita harus memerengkan kepala untuk melihat seismic ini. Kemudian kita memilki komputer, seismik tidak hanya hitam-putih, bahkan warna-warninyapun menumbuhkan ide baru atau informasi baru. Saat ini sudah sangat moderen bahkan dengan seismic 3d bisa melihat dunia bawah permukaan dengan lebih jelas, apalagi didukung fasilitas visualisasi “dome vision”. Wah semakin-makin deh, kita seolah merasa mengerti atau menyelami bawah tanah ini seolah seperti ontorejo.

Nah apakah AQ dibenarkan menganalogikan “fenomena interpretasi” AQ dengan fenomena “non-unique solution” ini ? Just FYI, Semua hasil
interpretasi bisa dianggap benar secara metodologi. Tetapi tidak ada yg akan berani menyatakan dirinya bahwa interpretasinya merupakan
kebenaran mutlak, walaupun sudah di bor oleh driller. Mengapa ? Karena masih perlu juga konversi domain waktu dalam seismik dengan domain jarak (kedalaman) pada data sumurnya..

Kawan-kawan geoscience mungkin lebih mudah mengerti apa yg aku tulis diatas.
wis ah kerjo sik

Salam

RDP
“kalau ada yg menginterpretasi dengan metode hermeunetik pasti mengundang badai deh 🙂 “

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: