Oleh: Rovicky | Mei 28, 2007

Serba-serbi DKP


Ah rasane kok gatel kalau ngga ngasih komentar soal DKP. Ini diskusi selintas dengan kawan maya. Sayang kalau dilewatkan. Biar buat catatan pribadi saja.

Dari segi “kejujujuran dan kebersihan” barangkali AR memang jagonya. Dengan modal itulah beliau berani berbicara bebas tanpa takut-takut. Biasanya kalau sudah pernah berbohong atau tidak jujur selalu mudah “dikendalikan” oleh yg mengerti ketidakjujurannya.

Seorang kawan ndak stuju atas kalimat diatas :

 

> 1. Kalau Jujur ya dananya nggak akan masuk dalam team suksesnya, kecuali beliau mengatakan itu urusan team susksesnya.

Kejujuran dalam hal apa dulu, Kang?. Kalau dalam kehidupan sehari-hari dalam artian sosial, agamis dan pengayaan pribadi aku rasa AR jauh dari sisi buruk disini. Tapi dalam hal berpolitik … aku bisa menganalogikan dengan seorang pemain sepakbola. Dalam kehidupak diluar lapangan sepakbola bisa saja seseorang itu jujur dan baik hati. Tetapi di lapangan bola, permainan “sliding tackle” dengan pelanggaran dikit-dikit itu biasa, pertandingan keras pasti akan sering terdengan sempritan wasit itu juga wajar dan normal. Kepandaian AR didalam bermain politik ini yg cukup handal. Dia tahu teori politik dan hukum politik. Tapi melihat seorang politisi dengan mencampurkan kesopanan pemain bola ketika diluar lapangan jelas tidak bisa dipakai dalam bermain bola. Demikian juga aku ngeliat AR, SBY, Kalla, dll.
Penilaiannku akan mencoba lepas dari dua sisi ini. Kejujurannya dalam kehidupan sebagai pendidik (dosen) bolehlah dipuji. Tapi dlam politik. Sorry, gwe yakin smua politisi ya emang gitu lelakonnya. Karena gwe kagak suka politik permainannyapun bukan sebuah tontonan indah dinikmati tapi enak dikomentari.

Tapi didalam politik ini emang rada beda dengan sepak bola. Kehidupan diluar politik akan dipakai sebagai “bahan baku” meningkatkan rating. Bahkan tampang cakep dan gagah bisa dipakai dalam meningkatkan pemilih, kan ? Itu kasu”nyata“n, itulah kenyataan pahit yang harus kita hadapi bersama, ntah bener pa enggak tapi itu “terjadi” di Indonesia.

Aku malah melihat adanya “bahaya” pada Pak AR. Karena beliau tidak dalam posisi “menguasai” berbeda dengan tahun 97/98 saat lengsernya HMS. Wektu itu pak AR bahkan bisa mengontrol massa (rakyat+mahasiswa) utk tidak jadi berkumpul ke Istana. Konon wektu itu senjata didepan istana sudah dengan peluru tajam. Tapi Pak AR wektu itu pegang kontrol kuat dan dapat menyetop. Padahal saat itu beliau bukanlah legitimate leader (secara hukum tidak ada pangkatnya).

Saat ini sepertinya AR mulai mencoba kembali merebut pamor (rating) itu. Hanya saja akhir2 ini power yg dimiliki beliau kurang lengkap. Bahkan bukan ketua partai (PAN). Dulu wektu lengsernya HMS itu AR memilki pamor sbg natural leader tapi masih unlegitimate leader. Legitimate leader beliau tertinggi dicapai ketika menjadi ketua MPR. Namun saat itu konon justru beliau kurang banyak kiprahnya.
Langkahnya kali ini bisa saja meningkatkan ratingnya. Apalagi kalau beliay sampai dipenjara. Mental bangsa Indonesia yg pengasih dan penyayang terhadap si teraniaya masih bisa dipakai dalam perhitungan rumus meningkatkan pamor.

Namun walaupun beliau dalam posisi “bahaya” aku yakin beliau bisa lepas atau bisa memanfaatkan momentum yg dibuatnya.

> 2. Karena AR selalu menggembor2kan mengenai KORUPSI, ya seharusnya beliau ‘care’ terhadap aliran dana tim suksesnya. Yang seharusnya diaudit dan diexpose ke publik apapun hasilnya tanpa harus menunggu orang lain ber’nyanyi’ dalam hal ini ex menteri dkp…….baru mengaku…..Menurut saya ya ini namanya kepepet….

Ini politik, mas. bangsa pelupa mudah saja dijungkir walik, kan. Soal kepepet atau tidak, kalau jadi politisi harus pandai memanfaatkan ,omen dan momentum. Moment ini memang moment “menggoyahkan”. Saya yakin akan ada yg rontok atu menjadi korban kasus ini. Tapi bukan AR sendiri. Dia memang menggali lubang, tapi AR tau lubang yg dibuatnya sehingga siapapun yg salah dan lemah … skali lagi siapapun yang salah dan “lemah” akan masuk ke lubang ini. Makanya jadi politisi
jangan salah dan jangan lemah. Walopun sdikit dibuat teraniaya akan menaikkan rating jugak🙂

Menarik mengikuti perpolitikan di negeri ngastino ini🙂 Kata “legowo” memang paling sulit dimilki seorang mantan pemimpin atau petarung, ya. Kata ini dulu diteriakkan banyak orang ketika HMS, dan juga pemimpin2 yg dianggap merajalela, yg diminta legowo utk mundur.

Pak AR ini menurutku tipe petarung🙂 , jadi aku yakin dia akan terus ngogrek-ogrek siapa saja yg jadi pemimpin termasuk presiden2 yg sebelumnya🙂 . Kemampuan beliau sebagai tipe pembangun belum teruji utk tingkat nasional. Penggerak opini dan massa jelas sudah terlihat power2 yang beliau miliki. Biasanya manusia tipe “petarung” susah diajak kooperatif karena memilki keyakinan tinggi atas kemampuan diri. Sayangnya beliau lebih bayak bertarung didalam negeri, coba saja sesekali melawan “musuh” dari LN sehingga memperkuat posisi negeri ini di mata dunia luar, wah pasti seru deh …😀

> 3. Bagaimana dengan aliran dana dari departemen2 yang lain, bumn, pihak asing…….???? Ada nggak ya…..

Kalau aku sih yakin ada. Soal terungkap atau tidak itu urusan lain. Trus mana yang bener dan salah … mboh raweruh. Lah wong politik bukan soal bener salah je. Kita yag terbiasa nggembor “seharusnya gini, semestinya gitu … kudune ngono”, ya paling akan mlongo ngeliat kenyataan yang pahit getir ini.


> Silent is Gold, kalau kepepet ya baru ngaku, apakah ini disebut jujur? Atau ada manuver2 politik, hidden agenda nothing to loose….. Atau belum puas kata mas Thukul.
> Iramasuka, ABM asal bukan mega .memang manuver yang briliyan tetapi tidak legowo

Legowo itu bahasanya rakyat jelata macam kita. Kalau duduk diatas sana, mana kenal sama legowo ….. Tapi ada yg bisa dipakai buat belajar atau diambil manfaat dari move AR ini. Paling tidak buat bangsa ini menjadi terbuka matanya bahwa “adanya kenyataan, dana non budgeter yg amburadul kemana-mana”. Tentunya pemilu nantnya sudah harus bikin strategi pendanaan yang lain, dan berbeda dari tahun lalu. Namun aku yakin hal ini bagaimanapun bisa mengarah ke sisi lebih bagus untuk Indonesia-ku.

> Selamat berjuang bung AR hati2 terperosok lubang yg sedang anda gali…

Yep aku juga akan menyatakan hal yg sama … justru yang harus hati-hati adalah tim suksesnya.

Bagaimanapun seperti Mission Impossible ” as usual, if everythig goes wrong we will deny all about this action ….!”

–😦 “Whaduuh … Pakdhe jebul masih suka ngompol?”
+😀 “Opo tole ?”
–😦 “Ngomongn politik …. pesing … eh bising !”

 


Responses

  1. Pak Dhe…tempenya bikin pusing…:)
    Nyat nyut nih, soale mbaca “tempe” biar buat cemilan setelah didongengi…

  2. Iki wis tempe semangit
    udah ngga IN lageee

  3. Pak dhe, pak AR itu asli wong Solo lho, makanya beliau suka sayur SAMBEL TUMPANG yang bumbu utamanya tempe SEMANGIT.Pak dhe kan piyayi Jogja, jadi mesti karem sayur LODHEH tempe BOSOK, kalau aku sih seneng tempe PENYET pakai sambel bawang yang puedese eram.
    Bagaimanapun menu tempe tetap digemari untuk hidangan apa saja,termasuk menjadi camilan politik.Terusin pak Dhe.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: