Oleh: Rovicky | Juli 24, 2007

Nasionalisme ada disebelah mana ?


flag-indonesia.gifSebelum merdeka kita (rakyat “Proto Indonesia“)  mencari identitas bangsa yang salah satunya ditandai dengan Sumpah Pemuda. Sebelumnya ada banyak kerajaan dan juga adanya orang Jawa, orang Sumatra, orang Ambon, Orang Kalimantan … sehingga wektu itu sulit menyebut orang Indonesia. Sumpah Pemuda meleburnya menjadi Bangsa Indonesia. Kemudaian ketika gelora kebangsaan ini membara muncullah perang kemerdekaan yang bersamaan juga dengan perang dunia. Pada saat kita berhasil “merebut” kemerdekaan semangat serta kebanggaan Nasionalisme sangat kental terlihat dengan pekik MERDEKA !!!.

Masa Sukarno menjadi presiden semangat kebangsaan Indonesia menjadi salah satu modal untuk mengembangkan serta mengisi masa-masa merdeka. Bahkan sempat kita menyatakan diri BERDIKARI (Berdiri di kaki sendiri). Go to hell with your aid … Namun ada swara lain yang menyatakan nasionalisme seperti yang muncul saat itu sudah keterlaluan karena terlalu egosentris, susah menjadi warga dunia yang menginginkan kebersamaan. Ini sebenarnya sudah muncul terutama pasca Perang Dunia II, dimana manusia menjadi sadar akan kebersamaan ketimbang kesendirian.

Saat munculnya Suharto menjadi pemimpin negara Indonesia, dia merubah nasionalisme ini menjadi semangat membangun selaras dengan kebersamaan dengan pihak asing dan juga kebersamaan didalam negeri. tetapi terjadi degradasi rasa nasionalisme yang berbau partizan. Suharto telah membangun fisik tak bisa dipungkiri,  pembangunan fisik menjadi sangat dominan. Semangat, mental dan rasa kebangsaan berubah menjadi semangat membangun.

Runtuhnya bangunan fisik akibat krisis moneter di Asia dan juga runtuhnya Suharto menjadikan mental dan “morale” (smangat/gairah) bangsa ini semakin luntur. Suharto digantikan Habibie, namun HBB hanya “pilot” yang berusaha mendaratkan pesawat tanpa baling-baling yang sedang menukik tajam … seolah impossible mendarat darurat dengan kondisi pesawat sepert saat itu. Akhirnya pesawat mendarat dengan tubuh luka-luka karena kebocoran BLBI yang nilainya sahohah !. Dua presiden berikutnya Gus Dur dan Megawati (mnurutku) tidak berhasil memunculkan smangat Nasionalisme ke Indonesia-an itu pulih lagi. Kedua Presiden ini masuk dalam masa sulit dengan membawa bola panas dan peswat yang enggan terbang, setelah melalui masa terjun bebasnya negeri ini memang tidak mudah.  Krisis identitas diri muncul diseluruh negeri. Bahkan saling mencemooh antara yang nasionalis dan yang menyatakan dirinya realis …. iih !

Saat ini SBYudhoyono masih juga memperbaiki pesawat tinggalan yang sudah tidak mudah lagi untuk terbang … Apakah pesawat ini bisa terbang dengan semangat nasionalisme kembali ?

Ah landasan sudah berubah, cuacapun juga mudah berganti …
Nasionalisme diperlukan untuk membangun pesawat ini lagi …
Namun tidak hanya nasionalisme yang diperlukan menerbangkan pesawat bertajuk “Indonesia” ini….

Kata seorang penyair …
wah sulit !!!
Kata si sinis …
hehehe bikin pesawat tetuko ya ?
Kata saya …
Harus bisa !!!

Iklan

Responses

  1. Kata SBY-JK
    “Bersama kita bisa!!!”

  2. Pak Dhe Rovicky,mohon izin untuk dimuat di Buletin Pralenan PEJUANG 45 No.48 yang akan terbit bulan Agustus 2007 sebagai konsumsi pembaca muda TUNAS PEJUANG 45. Untuk Pak Dhe ketahui, Buletin Pralenan PEJUANG 45 adalah media untuk kalangan keluarga PEJUANG 45 yang diterbitkan oleh Yayasan Taman Makam Wiratama 45, dimana saya sebagai relawan adalah salah satu pengasuhnya.Sedang Yayasan tersebut didirikan tahun 1990 oleh Bapak Poerwoko Soegarda, SH . ( mantan Kepala Sekolah SMA Teladan Negeri Yogyakarta saat saya masih menjadi murid disana). Disamping itu mohon izin untuk menuliskan apa & siapa sebagai penulis artikel diatas.(termasuk sebagai alumni TLD). Adapun alamat e-mailnya : makamp245@yahoo.co.id
    Sebelum dimuat dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih.

  3. maksud saya “apa dan siapa “Pak Dhe Rovicky

  4. Wah silahkan saja Ompapang
    Wah hiya aku juga inget crita Pak Poerwoko, sesepuh SMA Teladan
    Salam Teladan JayaMahe 😀

  5. Kapan terbang lagi ya pesawatnya?

    Sebenernya nasionalisme kita masih sangat tinggi (lihat saja ketika piala Asia kemarin2, ketika Indonesia bertanding… , walau cuma di sepakbola…, ga tahu di yang lain…)

  6. Pak Rovicky, bisa dong…Kalo kita sendiri gak yakin, siapa lagi yang harus yakin?
    China bisa maju, masa kita tidak.
    Hanya itu yang perlu nasionalisme, tp harus diartikan secara luas. Kalo itu uang untuk jatah orang miskin terus dipotong, kalo vaksin flu burung diganti standar yg lebih jelek sehingga penyakitnya merebak, kalo ada pasir laut di jual ke tetangga sehingga pulau kita tenggelam, kalo bisnis di dlm negeri pake barang selundupan itu semua ya ga nasionalis.
    Sy jd inget tulisan di kompas beberapa waktu lalu tentang bisnis MLM. Salah satu MLM terbesar dr Amerika kalo mau buka di China mereka harus buat pabrik jg disana. Mereka ga mau negaranya cuman jd pasar produk yg harganya mahal dan ga ada nilai tambah bg masyarakat selain komisi yg ga seberapa dibandingkan keuntungan perusahaan. Di kita kok ga kayak gitu ya.. Ngabis-ngabisin devisa aja buat ngimpor barang-barang kayak gitu.

  7. Lha lucu jhe, pak dhe. Jargon BERDIKARI itu kok dipake ketika kita membangun pesawat, suatu kebutuhan tersier yang nggak buat rakyat jadi kenyang. Tapi di urusan Blok Cepu, pemerintah malah mati2an pake argumen, “Kalau tidak dengan inestasi asing maka pertumbuhan ekonomi akan tersendat”.

  8. Kita sudah berlayar pakdhe, tinggal bagaimana mengatur layar untuk menuju alam yang semakin merdeka, oleh dari dan untuk kita bersama sama.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: