Oleh: Rovicky | Agustus 1, 2007

Korupsi itu sampah


Tempat penampungan sampahSaya lebih suka mengibaratkan korupsi itu sebagai sampah. Setiap proses selalu menghasilkan tiga kategori produk yaitu produk utama, produk sampingan dan sampah. Sampah merupakan salah satu produk dari sebuah proses. Nah Korupsi ini merupakan salah satu produk dari proses bekerja yg harus selalu dibuang, harus selalu dibersihkan. Mungkin saja pemikiran korupsi sebagai sampah ini muncul karena frustrasi korupsi ngga mungkin dihabiskan menjadi nol 😦

😦 “Sampah itu bau, kentut juga bau. Apakah kentut merupakan hasil proses tubuh yang korup, dhe”
😀 “Istilah sampah itu sering dipakai untuk hasil olah kerja otak manusia, ketimbang proses alam. Daun yg berguguran bisa saja dianggap pupuk alamiah kalau masih bisa digunakan”

Menurut Tante Wiki, sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. . Sebuah pabrik atau mesin apapun selalu saja menghasilkan sampah. Tahukan kamu bahwa sebuah proses kerja apapun dimanapun selalu menghasilkan sampah salah satunya perilaku korupsi. Perilaku korupsi itu ada dimana-mana baik di Amerika yg diagung-agungkan itu, ataupun India yg sudah menggeliat, juga termasuk tetangga kita Malaysia, semua tidak ada bersih 100% atau bebas korupsi 100%.

Sampah ini tidak ada kalau tidak ada yang bekerja. Lantas apakah korupsi ini diperbolehkan keberadaannya dalam sebuah proses bekerja ?. Saya dengan sangat terpaksa menjawab, ya. Tapi maksud saya bukannya anda dibolehkan untuk korupsi, tetapi setiap kerja yg anda lakukan pasti menghasilkan perilaku korup.

😦 “Wong orang yang sangat religiuos aja bisa memelintir ayat suci demi keuntungan sendiri kok. Hiya kan, Pakdhe ?”
😀 “Hust … jangan njujug ke situ Thole”

Lantas ?

Setiap mesin yg baik (efisien) selalu akan menghasilkan sampah yg sedikit, produk sampingan secukupnya, namun produk utamanya yang harus besar. Dalam ilmu permesinan, mesin ini harus menghasilkan produk utama sangat banyak dengan bahan bakar ngirit dan sampahnya sedikit sehingga disebut mesin yang memiliki efisiensi tinggi. Produk utama dalam mesin itu adalah kerja atau gerak mekanis, produk sampingannya panas, dan sampahnya berupa asap.

Nah Indonesia yang diibaratkan mesin ini tentunya memiliki tingkat efisiensi juga, tapi karena tingkat korupsinya tertinggi berarti efisiensinya rendah. Ya, kuncinya didalam tolok ukur atau parameter “efisiensi” sistem kerja ini. Ekonomi biaya tinggi ini merupakan tolok ukur yang pas yang menunjukkan “mesin Indonesia” ini merupakan mesin berefisiensi rendah. Produk sampahnya terlalu besar, sedangkah produk utamanya terlalu sedikit. Bahan bakar (baca biaya) terlalu besar ketimbang produk utamanya, yah inilah yang namanya tidak efisien.

Setiap orang yang akan membeli mobil selalu saja melihat efisiensi bahan-bakarnya. Apakah efisiensinya rendah atau tinggi, apakah boros bahan bakar atau hemat, bahkan sekarang sudah mulai melihat bagaimana dengan gas buangnya. Salah satu sampah mesin yang mudah dilihat adalah gas buang tetapi secara menyeluruh efisiensi mesin tidak hanya gas buang, mesin mobil yg terlalu panas ini juga termasuk sampah dan mengurangi tingkat efisiensi. Dan orang tidak akan membeli mesin yg boros.

Demikian juga para investor asing yang akan menggunakan mesin Indonesia. Penelitian yg menunjukkan tingkat korupsi tinggi di Indonesia menunjukkan mesin Indonesia ini efisiensinya rendah. Itulah sebabnya banyak investor asing (termasuk pabrik sepatu Nike) yang hengkang dari Indonesia memilih negara lain yg efisiensinya tinggi seperti Thailand, Korea, Malaysia dan India. Walaupun hanya utk pekerjaan input data mereka memilih ke India, ini semata-mata bukan hanya karena India lebih berpendidikan, tetapi jelas efisiensi disana lebih tinggi.

Di Indoensia banyak juga orang yg berpendidikan (knowledgeable and skil full), namun keseluruhan sistemnya sudah tidak efisien lagi utk menjalankan kegiatan usaha bisnis.

Ada yang bisa memanfaatkan sampah ?
corrupt.jpg

Siapa sih yg suka sampah … eh korupsi ? Eh, nanti dulu… Sampah ini juga ada yang menyukai, ada saja orang yg bisa memanfaatkan sampah-sampah ini. Bahkan ada orang yg lebih suka memanfaatkan sampahnya ketimbang isinya. Di era informasipun sampah juga ada.

Coba lihat lembaran koran, mana sampahnya dan mana isinya ? Kalau anda tengok dibelakang rumah banyak sampah kertas koran yg kita kumpulkan … iya kan ?. Ada saja yang njawab, “Looh kan bisa dikiloin …. lumayan buat tambahan beli bumbu dapur“. Bahkan botol-botol kosong, kotak plastik menumpuk di almari menunggu pemulung yg membeli. Nah kalau kita mendaur-ulang sampah, maka kitapun akan dapat manfaat dari sampah.

Mengingatkan masa pilpres beberapa waktu yang lalu. Barangkali itulah sebabnya (lepas dari keraguan netralitasnya) survey dari LSI menyebutkan bahwa menghilangkan korupsi bukanlah prioritas pilihan responden dalam pilpress 2004  lalu. Rakyat (responden) lebih menginginkan keamanan, ketimbang memberantas korupsi.

Ini mungkin, hanya mungkin looh, salah satu aspek yang menunjukkan (banyak) ada rakyat yang dapat memanfaatkan sampah-sampah ini. Ya, ini mungkin karena mereka bermental pemulung ….. ya lebih banyak bermental pemulung ! Bahkan ada yg secara jujur menyatakan korupsi itu perlu dsb, karena mungkin mentalitas kebanyakan dari orang Indonesia ini adalah mental pemulung. Lebih suka hidup di lingkungan yang basah yang banyak sampah kertas korannya ketimbang isi informasi yg tertulis di koran.

Bagaimana dengan sampah ini ?

Gas buang tidak akan muncul seandainya mesin pabrik ini dimatikan, itu jelas. Tapi kalau dimatikan mesinya produksi jelas tidak akan ada. Jadi membumi hanguskan yang ada dengan revolusi jelas bukan solusi yang cerdas. Menghilangkan (mengeliminir) sampah sama sekali adalah hal yang mustahil, impossible, nggak mungkin …!! Namun yang dapat kita lakukan adalah membersihkan sampah setiap hari …. ya setiap hari ! Nah Pekerjaan rumah ini yang tidak pernah kita lakukan di tahun-tahun kemaren akhirnya terus menumpuk. Saat ini kita hidup diantara sampah yang mulai menggunung, menebar bau, sumber penyakit dan bahkan dapat menjadi sumber malapetaka mencemari lingkungan.

Sampah ini mula-mula ya sedikit, kalau dibersihkan tiap hari maka hanya memerlukan sapu ijuk. Tapi karena sudah tidak pernah dibersihkan maka sampahnya menggunung. Nah, sampah yg menggunung ini tentu tidak mungkin lagi menggunakan sapu ijuk, harus ada “bolduzer” untuk menghilangkannya, menampungnya di tempat pembuangan sampah akhir (penjara). Demikian juga korupsi ini. Kalau masih kecil yang cukup dengan audit dan pengawasan saja sudah cukup. Auditor ini mirip sapu ijuk yang kerjanya membersihkan sampah. Tetapi karena sapu ini dulunya tidak bekerja dengan baik, lama-lama sampahnya berkerak tak mungkin dibersihkan dengan sapu ijuk.

Kalau korupsi sudah menggunung ngga bakalan bisa dibersihkan dengan auditing saja. Sampah yang yang menggunung dibersihkan dengan bolduzer, korupsi yang sudah menggunung juga harus dengan KPK (sakjane pembentukan KPK inipun sudah menambah biaya ya ?)

Kalau sampah sudah menggunung apakah “buldoser” ini cukup kuat menghilangkan sampah ini? ya kita lihat saja, bisa-bisa malah buldozer ini akhirnya meruntuhkan gunung, menguburkannya dan menjadikian dirinya bagian dari gunung sampah. Menjaga kebersihan (“Law enforcement“) merupakan sapu pembersih sampah, harus dilakukan sambil bekerja, bukan hanya membuat boldoser setelah sampahnya menggunung, kan ?.

Jadi kalau kita bermimpi bebas sampah eh bebas korupsi … wah itu mimpi !
Kita tetap harus berjalan dan bekerja namun sampah ini jelas harus diminimalkan, terus di lokalisir dan dibersihkan setelah bekerja setiap hari …

Jagalah kebersihan ketika kerja dan menyapu tiap hari ….

Ya, bersihkan sampah sebelum menggunung …

… setiap hari !


Responses

  1. […] proses software. Itulah sebabnya saya menyebutkan bahwa korupsi itu bisa saja dianggap sebagai sampah yang tak terhindarkan dalam […]

  2. Selain efisiensi, untuk mencapai hasil kan ada parameter efektivitas juga Pak. Kalo efektivitas ini analoginya dengan apa ya Pak?

    Lalu kalo untuk meningkatkan efisiensi membutuhkan waktu, bisa nggak Pak yang ditingkatkan efektivitasnya saja dengan mempertahankan efisiensi minimal pada level yang sama?

  3. saya stuju aja sama padhe.,.,.,

    ngaturaken sugeng riyadi sedaya lepat nyuwun pangaksami.

  4. Ah.., Bisa kok pak. Asal..,

  5. Mantap infonya…

  6. […] Korupsi itu sampah […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: