Oleh: Rovicky | September 4, 2007

Soal gebuk-gebukan di Malesa


Berita mengejutkan tentunya kalau wasit karateka Indonesia sempat digebugin di Malesa Kuala lumpur. Yang aku baca di Kompas
menyebutkan pemukulan terjadi di malam hari didekat hotel tempatnya menginap.

Sebenernya banyak yang pernah mengalaminya, hanya saja karena seolah ini peristiwa yang membuat “malu”, maka jarang dicritakan. Saya dulu (juga sewaktu awal datang di KL, malesa sini, masih tinggal di Darby Park hotel dekat KLCC-Kuala Lumpur City Center, yaitu lokasi seputar Twin Tower) ditanyain polisi preman, juga di deket Lotus-Darby (seputaran KLCC juga), tetapi wektu itu sepertinya bukan polis tapi penjenayah. Merka pura-pura mencari dolar palsu yang beredar, setelah tak tunjukin dompetku isinya duwik rupiyah mereka terus kabur. Setelah aku tanya sekuriti Darby hotel, katanya itu penjenayah (penjahatttt!!). Jadi jangan lengah bahwa KL itu aman. memang aman utk orang lokal, tetapi dimana saja yang namanya pendatang itu targettindak kejahatan. “Be aware” dimana saja !

Saya curiga mereka yang nggebuki pak wasit ini namanya pasukan RELA (secara pintas kita ngga bisa membedakan mana Rela mana polis karena kita warga asing).

 

Ikatan Relawan Rakyat Malaysia (RELA), ialah sebuah Agensi Keselamatan Kerajaan dibawah Kementerian Dalam Negeri. RELA telah ditubuhkan pada 11 Januari 1972 diBawah Peraturan-peraturan Perlu Ikatan Relawan Rakyat Malaysia (1974) Pindaan., berikutan pembubaran Pasukan Kawalan Kampung (Home Guard). Reference

Problem ini muncul terutama karena yang namanya RELA itu hanya semacam HANSIP-KAMRA-WANRA di Indonesia jaman dulu. Mereka diambil dari banyak orang Malesa yang (kemungkinan) nganggur kagak punya kerja khusus, kalau tak silap lulusan setingkat SMU saja. jadi secara tidak menerima pendidikan khusus kepolisian tetapi memiliki dan bertindak serta kewenangan berlebihan. Sehingga mereka ini banyak bertingkah macam-macam. Apalagi dengan pemberitaan ttg warga Indonesia sbg pendatang haram dll. Jadi dapat dibayangkan dengan mental sebel karena lapangan kerjanya diambilin orang Indonesia (TKI maupun professional), dan juga berita buruk yang selalu ada di TV3, maka mereka seolah-olah seperti (bertindak seperti) “preman” yang dibayar pemerintah.

Membawa IC atau passport-pun kalau kita ngeyel kita juga bisa kena gaplok. Hanya karena mereka memang tidak terdidik sebagai polis beneran. Kalau polis aslinya aku sendiri sering bersimpati dengan mereka yang yang ramah, tapi kalau yang ini … wiss sing waras ngalah, sumprit deh !!

Coba baca ini pendapat dari dalam malesa sendiri maupun dari luar (BBC):
http://aliran.com/oldsite/ms/2006/0302.html
http://www.aliran.com/content/view/185/10/
http://news.bbc.co.uk/2/hi/asia-pacific/4720386.stm

Namun walaupun banyak TKI ke Malesa, juga ada warga Malesa yang jadi pekerja gelap di Indonesia, moga2 kita bersikap baik ke mereka.


Responses

  1. Memang, kalau kita sedang di negeri orang, berhati-hati tetap perlu. Kelihatannya KL aman, tapi teman-teman di Malaysia juga selalu bepesan agar kita tetap berhati-hati…sama juga kan seperti di Indonesia. Jadi sebaiknya kita tetap kepala dingin…biarkan hukum yang ditegakkan.

  2. Ganyang sajah!!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: