Oleh: Rovicky | September 27, 2007

Mengintip jendelanya Johari


https://i1.wp.com/www.is.wayne.edu/dntiri/images/cultural.gifSuatu saat seorang kawanku merasa sangat terganggu dengan ulah dan polah tingkah kawan tetangga barunya yang dikenal di lapangan dunia maya yang disebut mailing list. Segalanya menjadi terdengar aneh karena adanya perbedaan persepsi dan ada perbedaan keinginan, ada perbedaan latar belakang, beda suku … wis pokoke nano-nano dan serba bhineka kalau pakai bahasa koeno-nya. Kawan satu hanya mau guyonan, eh kawan satunya menganggap itu serius. Yang satu menganggap aku sudah berhati-hati sehingga harus mlipir (lewat pinggir) yang lain menganggap itu namanya merembet ke masalah yang lain.

😦 “Lah sakjane karepe nopo ta Pakdhe?”
😀 “Lah ya itu thole, karepe semua baik tetapi yang satu belum tentu senang dengan kekarepan kawannya”

Dan akupun teringat apa yang pernah aku tulis dahulu Dunia ini rumit, gak bisa diseleseikan lewat mailing list !. Tapi mestinya bisa donk diuraikan kalau memang tidak dapat diseleseikan tuntas. Ya mungkin salah satunya coba kita lihat mengapa konflik itu terjadi dengan mengintip lewat jendelanya si Johari.

Johari Window atau Jendela Johari merupakan alat yang dikembangkan oleh dua orang ahli psikologi yaitu Joseph Luft dan Harry Ingham pada tahun 1955. Alat ini dikembangkan untuk memperbaiki interaksi antar manusia yang belum saling mengenal supaya dapat saling mengenal dan mengetahui dan memperkecil kemungkinan konflik.

johari-1.jpg Secara mudah Johari window ini memperlihatkan adanya empat kuadrant, yaitu kuadran public arena, ruang privat, buta, dan tidak tahu.

  • Arena publik (PUBLIC) adalah kuadran dimana kita saling mengetahui. Kita tahu orang lain juga tahu.
  • Ruang privat (PRIVATE), adalah kuadran dimana kita tahu dan orang lain ngga tahu. Rahasia nih, buat gwe doank.
  • Kuadran buta (BLIND) yaitu dimana kita tidak tahu tetapi justru orang lain tahu.
  • Kuadran tulalit (UNKNOWN) ini merupakan kuadran dimana kita tidak tahu dan mereka juga tidak tahu.

Umpan balik (Feedback)

johari-2.jpg

Semakin banyak kita memperoleh umpan balik dari lawan biacara, maka akan semakin banyak yang kita tahu. Jadi Kalau ditanya itu mbok ya menjawab. Kalau diajak ngomong itu mbok ya jangan diem saja. Dengan memberikan umpan balik inilah kita dapat membantu orang lain supaya mengerti dirinya sendiri.

😦 “Iya ya Pakdhe, aku juga ngga bisa lihat panu di punggungku kalau si fulan tidak ngasih tahu pas main di sungai itu”
😀 “Benar thole, orang lain banyak mengetahui kelemahan kita. Tetapi tanpa dia memberitahukan kita juga tidak tahu. Hanya kadang kala memberitahukan kelemahan itu tidaklah mudah, kan ? Salah salah dikira mengejek”

Disclosure (keterbukaan)

johari-3.jpg

Memang banyak hal-hal yang sifatnya pribadi, hal-hal rahasia sendiri yang tidak boleh diketahui orang banyak. Juga banyak hal-hal yang bersifat pribadi dan tidak perlu campur tangan orang lain.

🙂 “Di Malesa ini aku pernah mendapat surat pos yang sampulnya bertuliskan “sulit & persendirian” aku setengah mati cari padannya jebul artinya private confidential … Setelah dibuka ternyata speeding ticket … Blaik! “ 😛

Keterbukaan merupakan salah satu usaha agar orang lain mengerti tentang diri kita. Ada banyak hal yang tadinya bersifat pribadi yang dapat dishare atau dibagi ke orang lain sehingga orang lain mengerti tentang nilai-nilai yang kita junjung. Bagi orang Jawa Timur kata sampeyan itu biasa. Tapi bagi orang Jogja istilah sampean itu terasa kasar. Kalau kita tidak terbuka mengatakan bahwa aku ngga suka disebut sampeyan ya tentusa aja orang Jawa Timur akan terus mengatakannya.

johari-4.jpg

johari-5.jpg

Membesarnya ruang publik akan menjadikan manusia-manusia yang berinteraksi ini untuk lebih mudah saling mengenal dan saling mengerti satu dengan yang lain. Hal ini dapat dicapai seandinya masing-masing yang berinteraksi ini memberikan umpan balik atas apa yang dikeluarkan pihak lain. Juga dengan semakin terbukanya pemikiran masing-masing akan memberikan tambahan ruang untuk diisi dengan pemikiran-pemikiran baru untuk lebih mempermudah interaksi dan komunikasi.

Sebaliknya mengecilnya ruang publik menjadikan interaksi dan komunikasi semakin sukar dan rumit.

johari-6.jpg

Yang menarik adalah konflik itu bukan disebabkan terlalu lebarnya kuandran tulalit ini, tetapi justru karena semakin luasnya ruang privat yang tidak boleh dimasukin pihak lain, dan semakin menyempitnya ruang buta (blind) yang menyebabkan friksi-friksi diantara manusia-manusia ini.

Negara Indonesia merupakan negara yuang majemuk, terdiri dari hampir 200 suku. Hiya bener menurut Wikipedia sudah tercatat lebih dari 170. Duapuluh tahun lalu jumlah bahasa tercatat lebih dari 750 bahasa yang dalam 20 tahun terakhir ini 30 persen sudah punah. Jumlah pulau di Indonesia tercatat lebih dari 17 000, dimana 6000 diantaranya berpenghuni. Dapat dibayangkan bagaimana diversity atau keberagamannya Indonesia ini.

Tentusaja konflik akan selalu saja muncul seandinya tidak ada keterbukaan dan saling memberikan umpan balik apa mau-nya dan saling mendengarkan apa kemauan pihak seberangnya.

😦 “Jadi kalau gitu, kasih komentar doonk, biar pakdhe tahu apa keinginan pembacanya”
😀 “Hust kowe iki ! Lah wong banyak yang isinan” 😛

Iklan

Responses

  1. Mas Rov…
    kalau menurut Michelle LeBaron :

    “Academic definition of conflict is a difference that matters” and
    “Academic definition of culture is what is all around us that we don’t see” kalau menurut dia analoginya seperti air dimana ikan berenang didalamnya.

    waduh ada kerjaan dulu nanti dilanjutkan kalau lagi mood… he he he

  2. Berat….

  3. Buagus koq, next info di tunggu ya, C U

  4. aduhhh…
    headernya bikin laper niccchh

    btw, infonya yahui banget pren..

  5. […] Akan lebih baik mempelajari siapa dia dan siapa saya, seperti yang ada dalam tulisan sebelumnya Mengintip jendelanya Johari supaya saling mengenal dengan […]

  6. bagus sih pake teori johari windows,cuman untuk kuadran ke 4,susah guys!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: