Oleh: Rovicky | September 30, 2007

Hati kecil masyarakat Islam dimanapun menginginkan hari raya yang satu.


Seorang kawan saya Muntaha Zaim, yang sedang belajar di UIA (Universiti Islam Antarabangsa UIA – International Islamic University IIU) mengajak ngobrol tentang fenomena perbedaan penentuan hari Raya atau penanggalan Islam.

Hati kecil masyarakat Islam menginginkan hari raya yang satu.
Kalau diminta memilih antara dua hal, berhari raya berbeda atau beda hari raya dalam satu negeri, kemungkinan besar akan banyak yang memilih dan berharap agar hari raya jatuh pada hari yang sama.
Akhirnya, mudah-mudahan ke depan kriteria untuk menyatukan dapat ditemukan oleh tokoh-tokoh dan yang ahli dalam bidangnya dan menjadi hari raya yang satu, dan itu insya Allah dapat dicapai jika ada “keinginan untuk islah dan bersatu”.
Allah SWT mengingatkan tentang kemungkinan bersatunya kembali pasangan suami istri yang sudah berselisih, “in yuridaa al-Ishlaha yawaffiqillahu baynahuma” (Kalau mereka berdua (suami istri) menginginkan untuk islah (berbaik-baikan lagi), maka Allah akan memberikan taufiq (jalan keluar dan langkah tepat) di antara mereka berdua, tapi kuncinya jika memang menginginkan. Tapi jika memang pasangan tersebut tidak ingin bersatu dari manakah akan ada jalan. Mungkin keinginan inilah yang harus dikedepankan untuk mendapatkan taufiq dalam penentuan berhari raya.

Menurut Muntaha ini ,memang masalah “ru’yat” dan “hisab” dan juga “kriteria” tentang standarisasi yang dianggab mu’tabar masih belum bisa disepakati oleh tokoh-tokoh ormas Islam di Indonesia. Sebagai contoh tahun 1981 antara Persis dan Muhammadiyah yang sama-sama menggunakan “hisab” ternyata dalam menentukan hari raya juga berbeda. PBNU yang berpegang dengan ru’yat ternyata juga berbeda pada tahun kemarin, PWNU Jatim merayakan lebih dulu satu hari dari keputusan PBNU.
Dan kalau dicari-cari dalil-dalil baik dari nash-nash Al-Qur’an dan Hadits-hadits dan juga dalil ‘aqli (science) antara ru’yah dan hisab sama-sama kuat. Dan sebenarnya tidak akan ada perselisihan antara nash dan sciences dalam masalah hilal ini sebab obyeknya jelas dan satu. Wallahu a’lam, dalam mengambil jalan keluar ini mungkin sekali lagi harus ditinjau dari maqashid ‘idul Fitri setelah memadukan (jam’) semua dalil, sebab kedua-dua kubu sama-sama berpegang dengan dalil.

😦 “Whaduh Pakdhe kalau sudah jadi perang ayat runyem deh”
😀 “Itulah thole tidak mudah menggabungkan pemikiran wong pinter-pinter yang tidak mau mengalah”

Untuk meninjau maqashid syari’ah (tujuan-tujuan disyaria’tkan suatu hukum) dalam ‘idul fitri, ada beberapa pandangan lain:

Puasa adalah ibadah bersama-sama, dan idul Fitri adalah ibadah perayaan kebersamaan,

Rasulullah SAW bersabda: “As Shoumu yauma Tashumuna wal Fitru yauma tuftirun” (Hari berpuasa adalah pada hari di mana kamu semua berpuasa, dan hari (idul) fitri adalah dimana kamu semua merayakan ‘idul fitri”. Hadits ini sangat jelas mengedepankan persatuan umat, yang bisa jadi kurang begitu banyak mendasari pihak-pihak yang berwenang dalam menentukan hari Raya atau awal puasa.
Seandainya hadits ini dijadikan sebagai dasar tentu akan sangat mudah menyatukan awal dan akhir puasa Ramadhan.

Tujuan ‘iedul Fitri adalah perayaan kegembiraan umat Islam,

Seringkali orang “menghibur diri” dengan menyatakan bahwa orang Indonesia sudah biasa berbeda, atau perbedaan dalam amaliah beragama itu adalah rahmat. Sepertinya jika ada mertua dan menantu yang berbeda merayakan ‘idul fitri dalam satu rumah, yang satu berpuasa wajib dan satu lagi mewajibkan dirinya berbuka, tentu sama sekali bukan ini yang diharapkan dalam Islam yang penuh rahmat. Begitu juga antara suami istri yang berbeda pilihan, pasti akan banyak mengalami hambatan sosial. Sebab jauh dari tujuan asal disyari’atkannya ‘idul fitri, juga termasuk tindakan yang sulit untuk dinalarkan. Dan menimbulkan implikasi dan dampak sosial yang kurang sehat.

Tidak semua perbedaan itu rahmat,

Dalam ilmu fikih hampir setiap permasalahan mulai dari thaharah sampai bab jihad sarat dengan perbedaan pendapat; tapi tidak semua perbedaan pendapat itu rahmat. Kita jadi ingin sekali mendapatkan tokoh sekaliber Ibnu Mas’ud RA, yang pada waktu Utsman bin Affan menjadi khalifah, ketika Utsman naik haji dan mabit di Mina, Utsman melaksanakan shalat Zhuhur dan Ashar sebanyak masing-masing empat rakaat. Oleh Ibnu Mas’ud ketika mendengar berita kontroversial tersbut Utsman R.A. dianggap telah meninggalkan sunnah Rasulullah SAW, sebab Rasulullah hanya shalat 2 raka’at 2 raka’at. Meskipun beliau secara prinsip tidak setuju dengan Utsman yang menyempurnakan empat rakaat, tapi ketika Ibnu Mas’ud shalat berjamaah di Mina di belakang Utsman R.A., ia shalat seperti shalatnya Utsman R.A. Ketika orang-orang mempertanyakan hal itu, Ibnu Mas’ud berkata, “Al-Khilafu Syarr (Berselisih itu jelek)”. Hadist Riwayat Abu Dawud.
Benarkah Utsman R.A meninggalkan sunnah dalam masalah ini?, sebelum tergesa-gesa mengambil keputusan mungkin posisi usman dihadapan Nabi SAW akan mencairkan masalah, adakah Utsman yang hidup lama bersama Nabi SAW tidak mengetahui sunnah? tentu tidak, beliaulah orang yang sangat faham dengan sunnah. Untuk melihat lagi mengapa Utsman menyempurnakan empat rakaat, perlu waktu tersendiri yang tentu saja saat ini bukan pada topik pembahasan.
Yang menjadi hikmah adalah Ibnu Mas’ud menganggap bahwa diantara perbedaan itu ada yang jelek, mungkin kalau beliau saat ini ada juga akan berpendapat bahwa beda hari raya di satu kampung bahkan satu rumah adalah termasuk yang jelek tersebut.

😦 “Disini kok Ibn Mas’ud mau mengalah ?”
😀 “Itulah yang beliau maksudkan. Didalam perbedaan sering muncul hal yang tidak baik, thole. Memang benar di dalam perbedaan itu ada hikmat yang dapat menjadi rahmah. Namun kebersamaan semestinya lebih diutamakan, dari sekedar berbeda dan terpisah. Caranya? … mengalah

Amrul hakim yarfa’ul khilaf (Keputusan ulil Amri dapat menghilangkan perbedaan pendapat).

Mungkin di antara masyarakat yang dalam mengartikan demokrasi terlalu jauh adalah masyarakat kita; untuk ‘idul Fitri pada tahun kemarin di Indonesia ada 4 hari berbeda, dan yang terakhir pada hari Rabu -kalau tidak salah- 1 syawal dirayakan oleh sebuah kelompok pengajian.
Kalau di negeri Islam lainnya, tidak terhitung ilmuan dan ulama’ yang punya pendapat berbeda-beda dan punya kapabilitas yang tidak diragukan, baik dari kalangan ahli ru’yah ataupun hisab, tapi semua hanya berwacana dan semua hanya mengusulkan dan memberikan yang terbaik. Begitulah di Mesir, Saudi, negara-negara Timur Tengah, dan juga Malaysia. Dan pada giliran mengumumkan Idul Fitri ulama’-ulama’ dan ilmuan-ilmuan hanya berani menunggu keputusan “Hakim”, yang terkadang kata ini di masyarakat kita seringkai hanya muncul ketika orang tidak punya wali dan mau menikah, sehingga walinya wali hakim. Itu semua disebabkan adanya kaidah besar dalam ilmu Fikih bahwa “Amrul Hakim Yarfa’ul Khilaf”. Disinilah mungkin pentingnya surat an Nisa’: 59, tentang urgensi ta’at kepada Allah, Rasulullah dan Ulil Amri.
Sebagai contoh kongkrit adalah catatan sipil pernikahan yang menjadikan adanya wali bagi calon pengantin wanita adalah syarat sahnya pernikahan, di semua KUA di Indonesia menyeragamkan pelaksanaan ini dan tidak memberikan toleransi kepada yang berpendapat lain, meskipun ada dalam khazanan fikih Islam yang legal. Dan alhamdulillah semua masyarakat menikmati keseragaman ini dan merasakan rahmatnya.

Yang menentukan ‘idul ‘Idul Fitri dan Shalat ‘Ied bukan individu.

Semenjak zaman Rasulullah SAW wacana individu dalam menganalisa dan mencari hilal selalu hasil akhirnya disampaikan dan dikembalikan kepada yang berwenang, Rasulullah SAW, dan sepeninggal beliau adalah khulafa’ul Rasyidin dan begitulah selanjutnya. Di Indinesia ada berpuluh-puluh ormas Islam, kalau seandainya semuanya membuat tim ru’yah dah hisab mungkin akan semakin menambah runyam.
Mungkin DEPAG adalah salah satunya wadah yang dapat mengakomodasi semua ormas-ormas tersebut dengan pakar-pakarnya masing-masing; yang pertemuannya tidak hanya sekedar ketika menjelang hari raya tapi terus intensif memantau setiap awal bulan Hijirah untuk menemukan kriteria dan akhirnya keputusan diambil dari sidang akbar dengan niat yang tulus ikhlas ingin mencari yang benar.

😦 “Pakdhe, Gusti Allah lebarannya kapan ?”
🙂 “Hust … !!!”

Epilog

http://rukyatulhilal.org

Memanglah benar secara naluriah, manusia ini ingin menjadi (ber)satu bukan dua, juga bukan tiga. “Satu” itu menjadi sebuah impian dalam kebersamaan dalam keragaman. Saat ini kita tahu bahwa manusia di dunia masih belum (ber)satu, dunia masih memiliki pemisah formal dan diakui bersama yang cukup besar yaitu “negara“. Pemisahan yang lain masih ada secara informal walaupun riil keberadaannya misalnya pemisahan negara-negara barat dan negara-negara timur. Namun keberadaannya tidak di”legal“kan, walaupun kita dapat merasakan keberadaannya. Konsep “negara“pun juga belum begitu lama kalau dirunut balik dalam sejarah. Karena sebelum munculnya konsep pemerintahan negara di dunia ini ada pemerintahan “kerajaan”. Manusia berkelompok berdasarkan atas kekuasaan kerajaan yang akhirnya berevolusi menjadi “negara”.

Sangking kuatnya konsep kekuasaan “negara” ini akhirnya mempengaruhi konsep “SATU” dalam diri individu manusia ini. Dalam benak hampir semua orang mengatakan diriku satu dalam sebuah nation yang sama yaitu “negara”, dalam bahasa populernya menjadi slogan “nasionalism”. Perasaan bersatu masih lengket dalam persaaan khusus. Rasa bersatu terkotak dalam “satu negara”. Karena pemikiran pemersatunya adalah “pemerintahan negara”. Saya kira dahulu dijaman kerajaan-kerajan pemikiran (ber)satu atau bersama bukan dalam satu negara, wong kata negara saja belum ada, dulu mungkin berpikir nasionalism masih dalam kungkungan konsep “SATU kerajaan”. Jadi kebersamaan saat ini masih lengket kalau dikatakan bersatu dalam satu negara.

Adakah konsep pemerintahan “negara” atau “kerajaan” dalam pemikiran Islam ?. Yang saya tahu sistem kerajaan itu bukan yang Islami, karena manusia dijadikan pemimpin bukan berdasarkan keturunan. Pemikiran keturunan ini juga sempat menggegerkan agama Ibrahim (samawi). Siapa yang berhak menjadi Nabi ? Apakah kurunan Ismail atau keturunan Ishaq. Namun munculnya Nabi Muhammad sebagai nabi menunjukkan bahwa konsep keturunan bukanlah konsep penting didalam ajaran Islami.

Yang menarik adalah Islam sepertinya juga tidak mengenal konsep pemerintahan yang disebut negara, walaupun dahulu mengenal “pemerintahan khusus” (satu) yaitu kekhalifahan. Tapi jelas konsep kekhalifahan ini sudah hilang didalam kelompok Islam dan agama samawi lain. Kristenpun sudah tak ada, hanya barangkali Katolik saja yang masih memiliki konsep kebersamaannya dengan kepausan, saya kira (cmiiw).

Kebersamaan dalam ibadah.

Lantas kalau memang kita bermimpi berhandai-handai Islam semestinya bersatu secara global di dunia ini mungkin nggak ? OK deh ini terlalu rumit kita kembali lagi saja untuk soal kebersamaan dalam berpuasa dan berlebaran secara global. Mungkin nggak ?
Kalau saja konsep keturunan dipakai dalam penentuan ibadah, wah pasti akan amburadul, yang keturunan arab puasanya mengikuti negara2 arab, yang keturunan Melayu mengikuti jadwalnya orang melayu, yang kturunan Cina mengikuti hisab-rukyat versi Cina dll. Persis seperti yang ditulis kawan saya Muntaha diatas itu, nanti perkawinan campuran menjadikan satu keluarga saja tidak (ber)satu lagi, kan ? Menantu dan mertua tidak dapat sungkeman dihari yang sama.

Hisab-rukyat Global (masih mimpi)

Saya bermimpi, nantinya ru’yat-hisab global menjadi satu rujukan seandainya Islam memang menginginkan kebersamaan ibadah secara global. Karena satu cara global inilah yang paling pas dipakai sebagai metode penanggalan. Sayangnya konsep hisab-ru’yat global itu “terlalu maju sejaman“, masih sulit diterima diantara pengikut Islam di dunia yg terpisah secara geografis. Ini tidak hanya soal Islam namun juga soal kemanusiaan yang lain juga, bahwarasa kebersamaan dalam satu negara jauuh lebih kuat dibandingkan rasa kebersamaan dalam satu dunia global. Secara praktis kebersamaan ibadah ini masih akan menemuai banyak kendala dalam pelaksanaannya, termasuk kendala “egoisme negara“. Saat ini kita tahu, ilmu pengetahuan, peralatan, teknologi termasuk komunikasi global bukanlah halangan dalam menyatukan dunia. Saat ini justru masih tergantung pada (individu) manusia dalam “kotak negara“nya dalam memutuskannya kebersamaan ibadah.

Rukyat-hisab global masih belum bisa diterima karena belum adanya rasa (ber)SATU, selama masih terkotak dalam kelompok-kelompok terpisah termasuk dalam negara, dalam ormas, dan lain-lain.

😦 “Pakdhe, apakah ber(satu) itu memang yang benar dan berbeda itu salah ?
😀 “Ini bukan sekedar perkara mencari mana yang benar mana yang salah, tapi itulah yang terjadi saat ini, thole”.

Wallahu a’lam.

Iklan

Responses

  1. Wah hebattt Pakdhe ini,
    berbicara agama juga manteb. Jadi Pakdhe lebaran kapan ? ikut Malaysia atau Muhammadiyah … walllah !

  2. akur mas rovik, selama ini juga ada pertanyaan keinginan besar dalam hati nurani saya, kenapa selalu idul fitri selalu selisih atau tidak pernah bareng2 perayaannya. memang benar mereka punya dalil masing-masing dalam menentukan hisab dan ru’yat, demi Allah dan semesta alam, Saya yakin Gusti Allah akan sangat senang jika melihat hamba-hamba nya bersatu dalam kebersamaan yang rukun dalam menjalankan dan melaksanakan perintah-perintah-Nya

  3. Konsep kalender hijriah mestinya memang dibangun atas konsep universalitas waktu, bukan dari konsep lokalitas waktu, yang menjadi dasar kalender masehi . Punya info pendapat ulama2 dengan pndangan lokal dan global?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: