Oleh: Rovicky | Oktober 4, 2007

‘Idul Fitri Bersama di Republik Mimpi


dream.gifSahabat saya Muntaha yang sedang kuliah di International Islamic University Malaysia berbagi tulisan tentang keprihatinannya perbedaan hari raya dalam satu negara. Ulil amri menurut Pak Muntaha saat ini paling besar ya negara. Karena kita tidak memiliki pemimpin dunia. PBB bukanlah pemimpin yang memiliki kontrol atas dunia.

Di hampir semua negara-negara Islam atau negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam masyarakatnya dapat menikmati kebahagiaan berhari raya bersama, bersatu padu dalam kebahagiaan; namun di Indonesia masyarakat untuk saat ini hanya dapat bermimpi untuk dapat merasakan indahnya kebersamaan dalam kebahagiaan.

Apa akar permasalahannya

Hari raya ‘Idul Fitri bukan seperti shalat, wudhu dan ibadah sejenisnya yang dapat dilakukan dengan leluasa oleh individu, ‘Idul Fitri adalah ibadah sosial, ibadah yang melibatkan semua elemen umat Islam, tak pandang bulu dari ormas dan jama’ah manapun mereka; Muhammadiyah, NU, Perti, Persis, Masyumi, al-Irsyad, Syi’ah, Salafi, Hizbut Tahrir, Jama’ah Tabligh; bahkan dari, Islam Jama’ah, Islam Liberal hingga Islam abangan; semuanya ada di Indonesia dan semuanya merasa perlu dan merasa memiliki ‘Idul Fitri; yang mana berjuta-juta umat Islam Indonesia banyak yang berafiliasi di dalam ormas-ormas tersebut, atau “dipaksa” oleh opini masyarakat untuk dimasukkan dalam organisasi dan jama’ah-jama’ah tersebut; dan perlu dicatat bahwa semua berdiri di atas nama Islam dan tentu semua menginginkan untuk menuju surga.

Nah, pada saat umat Islam Indonesia ingin mengadakan “hajatan akbar” berupa perayaan ‘Idul Fitri; ternyata ada di antara pemimpin-pemimpin dan ilmuwan-ilmuwan/ulama’ dari kelompok-kelompok itu yang merasa paling punya wewenang dan ingin didengar suaranya untuk menentukan hari “H”nya ‘Idul Fitri; tentu dengan metode masing-masing, ada yang memakai hisab, ada pula yang menggunakan metode ru’yat, baik ru’yat lokal maupun yang lebih maju lagi ru’yat global. Yang pasti hilal (bulan sabit) tidak akan terpengaruh sedikitpun dengan segala macam observasi tersebut, sebab bulan sabit itu satu dan dia mempersilahkan kepada umat Islam untuk meneliti dan mengobservasi dirinya, itu tidak penting bagi sang hilal. Toh meskipun pada tahun 2001 Muhammadiyah dan Persis yang menggunakan hisab hasilnya berbeda dalam menentukan ‘idul Fitri, dan juga tahun 2006 warga NU yang menggunakan ru’yat ternyata saling menyalahkan dan akhirnya “pecah” menjadi dua golongan; PBNU dan PWNU Jatim, seandainya hilal dapat mengungkapkan kesedihannya tentu dia sangat murka melihat dirinya sebagai tanda-tanda kebesaran Allah menjadi penyebab umat Islam Indonesia berselisih dan berpecah belah. Di samping itu pihak-pihak yang menentukan ‘Idul Fitri bersikukuh bahwa pendapatnya adalah benar dan harus dipertahankan, kalau perlu sampai nafas terakhir; sebab ini masalah tanggung jawab sebagai pemimpin di hadapan “umatnya” dan di hadapan Allah kelak, ini adalah urusan surga dan neraka!

Ini semua mengindikasikan bahwa apapun metodologinya, dan sekuat apapun dalil syar’i yang dijadikan hujjah, metodologi apapun yang disepakati baik ru’yat saja maupun hisab, di negeri yang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia ini perbedaan dalam menentukan ‘Idul Fitri peluang berbeda masih sangat terbuka lebar dan menganga.

Apa tujuan ‘Idul Fitri

Tujuan ‘Idul Fitri adalah untuk merayakan kebahagiaan, kebersamaan, dan saling menyatakan kebesaran rahmat dan nikmat Allah kepada antar sesama umat Islam khususnya dan juga menunjukkan kepada alam semesta bahwa umat Islam itu meskipun sekarang ini tercabik-cabik, tapi masih ada harapan dan motivasi untuk meraih kegemilangan di masa mendatang.

‘Idul Fitri adalah kembali kepada fitrah; di antara fitrah umat Islam, meskipun dibungkus dengan berbagai macam ormas, sebenarnya fitrahnya masih tetap ingin bersatu padu dalam ‘Idul Fitri; melupakan semua bungkusnya, bahkan fitrah ingin saling memaafkan dan saling melupakan kesalahan masa lalu dengan saling bermaaf-maafan; inilah fitrah masyarakat Indonesia. Fitrah yang harus dicarikan wadah untuyk mempersatukannya; dan seharusnya peluang itu ada di depan mata; bersama-sama berhari raya ‘Idul Fitri.

Syahdan di negeri ini; satu rumah, bahkan penulis mengatahui ada sepasang suami istri yang sama-sama taat beragama; ternyata pilihan ‘Idul Fitrinya berbeda, dan menjadi gunjingan banyak orang di hari yang seharusnya tidak perlu ada desas-desus tidak sehat tersebut, adakah ini yang diharapkan Islam?, ketika di malam hari juga mungkin ada yang mendengar satu mesjid menyerukan dengan suara lantang agar masyarakat bangun bersahur, tapi di masjid yang “berseberangan jalan” ada sahutan dengan mengumandangkan laungan menggema takbir ‘Idul Fitri; yang membawa pesan sangat jelas, jangan kalian bersahur, kalian tidak benar, yang benar adalah kami yang sedang bertakbir, dan begitulah sebaliknya. Andaikata baginda Rasulullah SAW masih ada; mungkinkah beliau berbahagia dengan kondisi umatnya seperti saat ini. Namun begitu semua yang saling berselisih tersebut beranggapan bahwa dialah yang paling sesuai dengan sunnah Nabi SAW.

Dalam ‘Idul Fitri disunnahkah untuk mengucapkan salam dan do’a “Taqqbbalallahu minna wa minkum”, sebagai ungkapan kemenangan, kemenagan umat Islam, kemenangan apakah yang akan diraih dari perpecahan umat, ‘Idul Fitri yang seharusnya menjadi momen persatuan untuk menuju kemengan, namun di Indonesia menjadi peletakan batu pertama untuk saling terus berpecah belah. Bila ‘Idul Fitri berbeda dan dalam satu lingkungan sosial; dapat dipastikan bahwa ketidaknyamanan pasti akan terjadi; meskipun ada senyum, senyuman itu hanya sampai di tenggorokan, belum sampai masuk ke hati. Toleransi yang dipaksakan oleh pengambil kebijakan dengan alasan “masyarakat kita sudah dewasa dalam menyikapi perbedaan”, “ini masalah khilafiyah, perbedaan dalam agama itu rahmat”. Benarkah, perbedaan ‘Idul Fitri dalam satu rumah, kantor dan RT rahmat?. Mungkin bibir dapat mengatakan rahmat; namun hati nurani yang masih dalam fitrah akan menolaknya, meskipun sudah berulang kali untuk dihibur dengan berbagai macam alasan dan dalil.

Mengapa hanya dalil hisab dan ru’yah yang selalu ditonjolkan; dan masyarakat juga sudah yakin. Bahwa tokoh-tokoh ormas pemegang kebijakan sudah “final dan puas” dengan dalil masing-masing, bukankah Islam itu luas; masih ada dalil-dalil lain, seperti maqashid as-syari’ah, yang jelas berpihak kepada maslahat (kebaikan) dan maslahat dalam ‘Idul Fitri hanya dapat ditemui jika dilakukan secara bersama-sama. Kebersamaan ‘Idul Fitri. Itulah yang jelas kita dapatkan dari wejangan tuntunan umat Islam, kanjeng Nabi SAW, “Hari berpuasa adalah hari kamu semua berpuasa hari raya adalah di mana kamu semua berhari raya“. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh at-Turmudzi, ad-Daruquthni, dan al-Bayhaqi.

Ternyata pemegang kebijakan terjebak dengan teknis observasi dan sama sekali kurang memperhatikan dan menitik beratkan tujuan utama disyari’atkannya ‘Idul Fitri.

Diperlukan kedewasaan dan hati yang lapang

Bagi warga Indonesia yang merasakan hidup di luar negeri pada saat ‘idul Fitri mungkin merasa sedih karena jauh dari keluarga, famili dan tentu ini adalah momen yang sangat bersejarah dan penuh arti dalam hidup seseorang; bahkan juga di Indonesia sendiri; fenomena mudik menunjukkan antusias masyarakat untuk “bersama” berbahagia bersama keluarga; namun kasihan umat Islam Indonesia, kebersamaan itu akhirnya kandas di tangan qarar, fatwa, tarjih dan istilah-istilah lain yang dipakai oleh tokoh-tokoh ormas Islam; Namun jika melihat kenyataan bahwa di kampung halaman hari raya berbeda-beda sampai selama 3 hari, rasanya rasa kangen dan kerinduan jadi sirna, atau bahkan menjadi phobi dengan realita umat Islam Indonesia, dan bagi yang berada di luar negeri menjadi iri dengan negara Islam lain dan putus asa melihat problematika bangsa Indonesia dengan muslim mayoritasnya.

Di semua negara Islam, perbedaan ‘Idul Fitri itu hampir tidak terjadi atau sangat jarang terjadi; di semua negara Teluk, di semua Negara Timur Tengah, di Afrika Utara, di Asia Tengah, dan di negara-negara ASEAN (tentu saja kecuali Republik Indonesia) semua rakyatnya dapat merasakan kebersamaan dan kebahagiaan ‘Idul Fitri, sebab pemimpin-pemimpin dan ilmuwan-ilmuwan/ulama’ di negeri-negeri tersebut jauh lebih melihat bahwa ‘Idul Fitri milik umat Islam seluruhnya, bukan milik kelompok dan golongan. Indonesia dengan berjuta-juta penduduk memang dapat dibanggakan dengan banyaknya ulama’ dan ilmuwan-ilmuwannya; baik yang ahli dalam bidang ru’yah maupun hisab/astronomi tidak terhitung banyaknya. Tapi hal serupa juga kita dapatkan dengan melimpah ruah di Mesir, di Timur Tengah, di Afrika Utara, di Asia Tengah dan juga di semua Negara ASEAN; negara-negara tersebut juga punya ulama-ulama besarnya yang bahkan mendunia yang negara kita saat ini belum mampu melahirkannya, dan tentu negara-negara tersebut juga punya pakar-pakar falak dan ahli ru’yah yang mungkin lebih senior dari Indonesia, tapi di manakah suara dan pendapat ulama’-ulama’ negeri-negeri tersebut ketika menentukan ‘Idul Fitri? Nyaris tak terdengar, dan bahkan tidak muncul. Dikarenakan mereka menyadari sepenuhnya bahwa urusan “mengumumkan” jatuhnya hari raya ‘Idul Fitri bukan ditangan individu atau kelompok; tapi di tangan ulil amri, para ulama’ dan ilmuan tugasnya adalah memberikan masukan yang akurat dan data valid kepada ulil amri tentang observasi hilal; itulah tanggung jawab mereka; dan bila terjadi kesimpangsiuran atau bila adu dalil tidak terelakkan di antara kubu-kubu yang ada, maka surat An-Nisa’: 59 difungsikan dan ditaati: “Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasulullah dan kepada ulil amri dari kalian“. Kubu-kubu yang berselisih tentunya sudah “puas” dan nyaman dengan dalil-dalil yang dipegang; kalau sudah begitu maka ulil amri harus dimainkan perannya atau memainkan perannya untuk menghindarkan perselisihan; itu semua harus dilakukan sebab ritual ‘Idul Fitri bukan ritual individu dan kelompok, tapi ritual yang melibatkan umat Islam. Dan dalam kaidah fatwa diterangkan bahwa fatwa harus meilhat i’tibar al-maalaat (melihat efek dan akibat yang akan ditimbulkan), dan perbedaan ‘Idul Fitri jelas berakibat tidak sehat di masyarakat. Kemudian para ulama juga sudah sepakat bahwa agama ini datang untuk mendatangkan maslahat (kebaikan) bagi semua elemen masyarakat; dan semua hukum Islam berpihak kepada maslahat dan menghindari madharat (kerusakan), dan jelas bahwa beda ‘Idul Fitri akan mencetuskan banyak problem (mafsadah/madharrat); baik ritual maupun sosial. Maka semua keputusan dari pemegang kebijakan dalam masalah ‘Idul Fitri seyogyanya melihat realita di masyarakat sebagai petimbangan besar sebelum mencetuskan keputusan untuk menentukan jatuhnya ‘Idul Fitri.

Langkah strategis yang harus ditempuh

Untuk keluar dari khilaf dan polemik tahunan ini kiranya harus ada langkah untuk menyelesaikannya; ormas-ormas harus dengan “legowo” menyerahkan kebijakan mengumumkan ‘Idul Fitri kepada ulil amri; mengingat ‘Idul Fitri milik bersama. Tentu ulil amri tersebut harus bersikap netral, fair dan mengakomodasi semua tokoh, ulama, dan ilmuan dari semua kubu; kemudian hasil dari ijtihad jama’i (kolektif) tersebut harus disepakati dan hanya boleh diumumkan oleh ulil amri. Yang menjadi usulan penting dalam forum pertemuan antar ormas dan jama’ah-jama’ah tersebut adalah jangan sampai semua yang terlibat tersebut terjebak dalam adu dalil; siapa sebenarnya ulil amri di Indonesia?

Kalau polemik dalam masalah ini terjadi, tidak ada gunanya masyarakat merayakan kemerdekaan RI yang ke 62 bulan Agustus lalu. Menurut penulis, yang layak menjadi ulil amri di sini adalah Departemen Agama, atau barangkali ada kelompok-kelompok yang merasa perlu menjadi ulil amri di negeri ini?. Bisa saja terjadi.

Sebenarnya mencari titik temu persamaan itu bisa terjadi, dengan syarat seperti yang dikatakan Menteri Agama, “kalau mau”. Benar, kalau mau, Allah SWT memberikan tip bagi pasangan suami istri yang sedang berselisih untuk bersatu kembali dengan berita: “Dan jika kalian khawatir terjadi peceraian di antara mereka (suami istri) maka utuslah hakam (hakim penengah) dari keluarga suami, dan juga dari keluarga istri. Kalau mereka berdua menginginkan islah (berbaik-baikan) kembali, maka Allah akan memberikan taufiq di antara mereka“. (An-Nisa’: 35), tapi kalau memang kubu-kubu yang berselisih sudah enggan untuk bersatu-padu dari manakah ada jalan pertemuan meskipun sudah ada penengah?.

Mudah-mudahan, ‘Idul Frtri bersama akan dapat kita rasakan nantinya di alam nyata Republik Indonesia, meskipun umat Islam Indonesia dari semenjak tahun 1990-an terpaksa harus berlebaran bersama di Republik Mimpi.

Taqabbalallhu minna wa minkum, mohon maaf lahir batin.
Walahu a’lam.
Muntaha Artalim Zaim
International Islamic University Malaysia
1 Oktober 2007, 19 Ramadhan 1428.

Iklan

Responses

  1. harap tenang

  2. yupe, setuju
    harusnya perselisihan ini diselesaikan oleh pemerintah
    dan pemerintah harus tegas dengan keputusannya

  3. Yang salah siapa? yang bikin perbedaan atau pemerintah?

  4. Salah satu pihak mohon legawa kalau pendapatnya kurang tepat. Arab Saudi katanya tanggal 13 Okt. Saya sebenarnya ingin mengikuti Muhamadiyah tapi kalau ternyata Muhamadiyah kurang tepat perhitungannya, mbok legowo saja. Jadi kita mantap berlebaran bersama-sama di tanggal 13 Oktober.

  5. Artikel yg sangat menyentuh dan menggugah hati dan pikiran. Apakah merupakan sesuatu hal yg mudhorat dan terhina kl bapak2 yg terhormat dan mulia yg mewakili ormas2 atau golongan2 tertentu tsb, untuk bisa menerima apapun keputusan pemerintah untuk penentuan hari besar umat islam ini?

    Sudah merupakan hal yg tidak mungkinkah, kl umat islam di Republik Indonesia ini bisa merayakan hari besarnya bersama2 hanya untuk 2 kali dalam setahun?…Masya ALLAH…

    note: saya minta izin untuk mengutip artikel ini untuk disebarluaskan di milist yg saya ikuti dan mencantumkannya di blog saya, jika berkenan?

  6. wah temennya pak muntaha juga? itu orang gak pulang2 😛 titip salam dari umay, btw pak muntaha lagi misuh2 di mailing list kampus kita, soale malah ada tariqah yang udah lebaran hari ini (11/10/07)

  7. Salam juga Umay, dari Maroko sampai Merauke satu rumah satu ‘idul Fitri, kecuali Indonesia yang Islamnya sudah sangat maju atau jangan-jagnan ini “penemuan baru” dalam agama Islam.
    Ada apa dengan bangsa kita?. Islamnya yang sudah terlampau maju atau jangan-jangan ini “penemuan baru” dalam agama Islam.
    Jika dalam satu keluarga saja tidak dapat memberikan rahmat maka slogan Islam yang Rahmatan lil ‘Alamin biarlah ada dalam khayalan dan mimpi.
    Btw, Pakde Ravicky mudah-mudahan segera dapat mengusulkan kriteria yang disepakati semua pihak. Orang Malaysia sudah ber’idul Fitri di bulan, umat Islam Indonesia masih belum bisa menemukan definisi awal bulan.

  8. Ngapain ente misuh-misuh, emang ente lebih tinggi ilmunya ketimbang ahli fiqih/falaq ormas-ormas itu? ikuti aja apa yang menjadi keyakinan anda. Bukankah perbedaan itu rahmat? Saya do’akan semoga anda lekas balik ke tanah air mengkaji lagi permasalahan ini lebih dalam dengan para ahli fiqih/falaq.

  9. @ makmur

    apa benar perbedaan itu rahmat? yang saya lihat ummat malah semakin bingung, malah ada yang lebaran tanggal 12 tapi sholat ied-nya tanggal 13, kan lucu 😛 jaman nabi juga tidak pernah ada perbedaan ied, masak sih kalender hijriyah tidak bisa ditentukan pas awal tahun, kalender masehi aja bisa, padahal Allah sudah bilang ummat islam adalah ummat yang terbaik, kok kalah sama ummat yang lain

  10. Kalau kalender ditentukan awal tahun itu berarti penentuan tanggal pada bulan-bulan berikutnya berarti pakai hisab dong.. kalau pakai ru’yat berarti setiap akhir bulan rame-rame lihat bulan dulu baru tentukan apakah besok itu tanggal 1 atau masih 30. Itu maksudnya kalau pakai rukyat tidak bisa bikin kalender tahunan… Kalau konsisten, mestinya kalau mau nentukan waktu sholat harus lihat fenomena alam dulu tidak boleh menggunakan jadwal sholat,buk sebab hadist tidak pernah mengatakan waktu sholat dalam bentuk jadwal atau satuan jam/menit…. nah karena itu saya mengajak kita hormati saja pendapat orang lain tanpa harus memaksakan satu/sama. Karena pastinya setiap orang punya dasar dalil dan ijtihad yang diyakini kebenarannya… Dengan demikian terbuka lebar kesempatan bagi yang ingin terus mengkaji ilmu berkaitan dengan hal itu. Itu yang saya maksudkan perbedaan membawa rahmat. Harapan kita terbuka pula pintu dialog dan diskusi diantara mereka yang berbeda itu semoga kelak suatu saat mendapatkan titik temu… Kepada pemerintah hendaknya menjadi “wasit” yang adil tidak memihak kepada salah satu, sebab pemerintah kita sekarang bukanlah “khilafah” yang memiliki otoritas untuk mengatur urusan agama dan keyakinan penganutnya.

  11. @ semua
    saya setuju ama om Makmur. sumber hukum islam yang pokok itu al-quran dan hadits.
    menentukan awal puasa dan lebaran kan jelas haditsnya. harus pake rukyat. atau ada yang mau MENENTANG/MENDHOIFKAN hadits ini?? SIAPA?
    rukyat itu apa? (baca2 dong, ngaji dong, jangan ngomong doang dong, tanya ulama dong- Mohon jangan googling- hehehe..).
    kata orang yang suka ngaji :
    “QODOUL QODI YAQTO’UL KHILAF” -(sory lupa redaksinya) “keputusan pemerintahan yang sah itu menghilangkan perbedaan” jadi kalo ada perbdaan kaya gitu, kita orang awam wajib ikut pemerintah.

  12. udah telat nih isue, tapi aku setuju sama om Makmur, gara-gara berbeda aku belajar kenapa bisa beda antara pemerintah, NU dan Muhammadiyah. Aku belajar bagaimana melakukan rukyat dan hisab. sampe aku koleksi tuh software “planetarium”, untuk mengetahui hisab modern. Aku tinggal sama mertua beda idul fitri (gak masalah tuh), dirumah orang tuaku juga beda (juga gak masalah tuh). Kami damai dan saling diskusi. Aku memilih hisab dan orang tuaku memilih rukyat (ayahku kerja di LAPAN), kita sepakat baik rukyat maupun hisab adalah ijtihad bisa beda. so ayolah kita belajar bagaimana cara rukyat dan hisab kemudian tentukan kemudian jangan sok menjadi yang paling benar (karena kebenaran hanya milik ALLAH SWT).

  13. BTW, malam takbiran kemarin jalan ke Jakarta gak ? cobalah jalan terus lihat deh bagaimana umat muslim merayakan lebarannya. Luar biasa (berjoget-joget) di atas bis seperti kesetanan. bahkan ada yang berjoget didepan mobilku (posisi waktu itu di jl. Ahmad Yani deket lapangan GOLF rawamangun) cuma pake celana dalem saja….

    sudahlah hilangkan perbedaan tentang penentuan idul fitri, saatnya menghormati perbedaan dan bersatu mencoba menyelesaikan bagaimana caranya agar masyarakat menghormati Malam Idul Fitri. Peace Man
    sumpah gw sedih banget

  14. om Makmur n om wahyu ……setuju, hormatilah perbedaan.
    Puasa saja kagak kok……ribut Idul Fitri, hehehe

  15. saya pribadi condong pada metode hisab, karena metode hisab lebih mencerminkan Islam yang Rahmatan lil alamin. Contoh di Eropa utara, dimana matahari terbit pukul 02.00 pagi dan tenggelam pada pukul 23.00 malam bagaimana bisa dilakukan rukyat? Tentu ini menunjukan bila kita masih menggunakan rukyat umat Islam di seluruh dunia termasuk di Indonesia tidak akan pernah bersatu. Memang ada hadits yang menyatakan “berpuasalah dengan melihat hilal dan berbukalah dengan melihat hilal”, tetapi kita juga harus melihat latar belakang dari hadits tersebut, kepada siapa nabi memerintahkan hal tersebut ? yakni kepada suku Arab Badui yang ummi, suku Badui adalah suku pengembara yang nomaden, mereka tidak mengerti hal hisab, maka untuk memudahkan Rasulullah memerintahkan untuk melihat hilal (Rasulullah sendiri adalah orang yang ummi). Memang pada saat itu sudah ada ahli hisab, namun teknologi yang ada pada masa itu kurang mendukung ketepatan untuk megnghisab. Hisab pada masa itu hanya terbatas pada mengitung hari dan peredaran bulan (belum bisa mengetahui kecepatan bulan, pola pergerakan, konjungsi, serta posisi bulan paling muda / diatas ufuk), maka wajarlah bila rukyat menjadi solusi pada masa itu. Di masa kini dimana teknologi sudah sangat maju, manusia sudah dapat mengetahui kecepatan bulan, peredaran benda angkasa, dsb. Kita telah dapat menentukan usia paling muda (diatas 0 derajat) dengan metode hisab. Kecepatan peredaran bulan tidak akan berubah, hal itu sudah menjadi ketetapan Allah SWT yang menjadikan bulan sebagai perhitungan waktu. Jadi masuknya bulan baru tidak lagi ditentukan berdasarkan melihat hilal, tetapi cuku dengan mengetahui dimana posisi bulan (manzilah) yang mana sudah menjadi ketetapan Allah (lihat surah Yunus ayat 5). Jadi metode hisab memang tidak terdapat di dalam hadits karena hadits tidak terlepas dari keterbatasan ruang dan waktu pada masa itu. Tetapi metode hisab (perhitungan) berasal dari sumber hukum Islam tertinggi, yaitu Al-Quran. Mohon maaf bila ada kesalahan, wassalam.

  16. DARI ALBI FITRANSYAH

    UMAT ISLAM SELURUH DUNIA, GUNAKANLAH RUKYAT KOTA

    KONSEP RUKYAT KOTA YANG TERINTEGRASI SELURUH KOTA-KOTA DI DUNIA

    Assalamu’alaiukum.
    Saya seorang pengamat astronomi & seorang matematika.
    Berdasarkan pemahaman saya & kesepakatan dari ahli astonomi muslim , bahwa ada beberapa ketentuan internasional mengenai penanggalan islam , yaitu:

    1. Rukyat hilal
    adalah dasar pergantian bulan-bulan qamariyah.

    2. Pola pergerakan Bumi, Bulan, dan Matahari telah menyebabkan belahan Bumi yang pertama kali mengalami rukyat hilal selalu berubah-ubah setiap bulan.

    3. Umur bulan qamariyah secara syar’i adalah 29 atau 30 hari.

    4. Umur tanggal adalah setara dengan umur hari, yakni 24 jam , karena tidak logis ada tanggal yang umurya hanya beberapa jam saja atau adanya keragu-raguan, sebanarnya setelah lewat maghrib, masih tanggal berapa sih? Apa sudah tanggal baru atau masing tanggal lama.

    5. Saat pergantian tanggal di dalam kalender qamariyah adalah pada waktu ghurub Matahari .

    Dalam Muktamar ke-30 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Lirboyo tahun 1999, rukyat internasional menjadi salah satu agenda bahasan Bahtsul Masail Diniyah. Permasalahannya adalah apakah boleh penentuan awal bulan qamariyah atau hijriyah, khususnya Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah, didasarkan atas rukyat internasional?
    Dengan pendekatan fiqh, muktamirin memutuskan bahwa penggunaan rukyat internasional untuk penentuan awal bulan qamariyah dengan mengenyampingkan batas-¬batas matla’ tidaklah dibenarkan.

    Di dalam wacana fiqh, jawaban untuk masalah ini diwakili oleh dua teori, yakni teori ittifaq al-Matali’ yang disusun oleh mazhab Hanafi, Maliki, dan Hanbali, dan teori ikhtilaf al-Matali’ yang dibangun oleh mazhab Syafi’i. NU, sebagai ormas keagamaan Islam yang akrab dengan belukar pemikiran fiqh mazhab Syafi’i, tentu saja condong berpegang pada teori ikhtilaf al-mntali’.
    Menurut teori ittifaq al-Matali’, peristiwa terbit hilal yang dapat dirukyat dari suatu kawasan Bumi tertentu mengikat seluruh kawasan Bumi lainnya di dalam mengawali dan menyudahi puasa Ramadhan. Dasarnya ialah bahwa sabda Nabi Muhammad SAW: Sumu liru’yatihi… (berpuasalah kalian karena melihat hilal), itu ditujukan untukseluruh umat secara umum, sehingga apabila salah seorang dari mereka telah merukyat hilal, di belahan Bumi mana pun ia berada, maka rukyatnya itu berlaku juga bagi mereka seluruhnya.
    Sedangkan menurut teori ikhtilaf al-Matali’, rukyat hilal itu hanya berlaku untuk kawasan rukyat itu sendiri dan untuk semua kawasan lainnya yang terletak di sebelah baratnya. Sedangkan untuk sebelah timurnya, rukyat hilal itu hanya berlaku bagi kawasan yang berada di dalam atau tidak melampaui ¬batas matla’.

    Rukyat di suatu kawasan, menurut teori ini, tidak dapat diberlakukan untuk seluruh dunia karena, pertama, berdasarkan riwayat Kuraib yang ditakhrij oleh Imam Muslim, bahwa Ibnu Abbas yang tinggal di Madinah menolak berpegang pada rukyat penduduk Syam kendati telah diisbat oleh khalifah Mu’awiyah. Ibnu Abbas mengemukakan alasan, Hakadza Amarana Rasulullah (Begitulah Rasulullah menyuruh kami). Kedua, adanya perbedaan terbit dan terbenam Matahari di pelbagai kawasan di Bumi menyebabkan tidak mungkin seluruh permukaan Bumi disamaratakan sebagai satu matila’.
    Karena “ajaran” perbedaan matla’nya inilah, teori ikhtilaf al-Matali’ dengan mudah dipersepsi sebagai biang terjadinya perbedaan hari dalam memulai maupun mengakhiri puasa Ramadhan di berbagai kawasan di Bumi. Bahkan, lebih jauh, teori ini pun kemudian dituding sebagai pemicu perpecahan umat
    Maka, dalam beberapa tahun terakhir ini muncul di kampus-kampus gerakan untuk memasyarakatkan teori ittifaq al-Matali’ (kesatuan matla’ intemasional) yang diharapkan menjadi jurus pamungkas pemersatu awal dan akhir Ramadhan di seantero dunia. Malah bila perlu, untuk menuju kesatuan waktu ibadah tersebut kaum muslimin digalang untuk bersatu di bawah satu kepemimpinan Islam sejagat (khilafah).
    Tapi persoalannya, logiskah perintah Nabi SAW, Sumu liru’yatihi… itu difahami sebagai dalil yang menghendaki berlakunya rukyat secara intemasional? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu melihatnya dengan pendekatan yang proporsional.

    Pertama, kiranya kita sepakat bahwa hadis kandungan di atas adalah petunjuk tentang penentuan waktu memulai dan mengakhiri puasa Ramadhan. Karena berkenaan dengan waktu, maka pemahaman akan implementasinya haruslah menggunakan logika sistem perjalanan waktu, bukan logika pengertian bahasa.

    Kedua, sunnatullah tentang sistem perjalanan waktu di Bumi adalah bersifat setempat-setempat (lokal), tidak bersifat global. Waktu di Bumi mengalir dari timur ke barat sejalan dengan aliran siang dan malam. Kawasan di timur mengalami syuruq dan ghurub Matahari lebih dulu daripada kawasan di barat. Semakin jauh jarak barat-timur antar kedua kawasan, semakin besar beda waktu antara keduanya. Maka, orang yang melakukan perjalanan jauh, melepaskan diri kawasan tinggalnya, akan menghadapi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan beda waktu.
    Dengan begitu, semua waktu yang disebut di dalam dalil-dalil syari’at logisnya adalah dipahami sesuai logika sistem perjalanan waktu di Bumi yang bersifat setempat-setempat itu. Kalau pada saat ghurub Matahari di Indonesia hilal belum bisa dirukyat, adalah tidak logis kalau kita kemudian mengikuti rukyatnya orang Mekah. Sama persis tidak logisnya dengan memahami masuknya waktu Zuhur untuk Indonesia pada kira-kira pukul 4 sore karena mengacu pada “tergelincir Matahari” nya Mekah, atau pada kira-kira pukul 10 pagi karena mengikuti “tergelincir Matahari”nya Tokyo.

    Kasus:

    a. Dalam kaitannya dengan penampakan hilal, di Indonesia pada tanggal 11 Oktober 2007 terdapat 2 daerah yang dipisahkan oleh sebuah garis, sebut saja garis batas wujdul-hilal untuk mudahnya(lihat gambar).

    b. Daerah sebelah barat garis batas wujdul-hilal dipastikan (insya Allah) hilal sudah dapat dilihat.

    c. Daerah sebelah timur garis batas wujdul-hilal dipastikan (insya Allah) hilal belum dapat dilihat.

    Dengan demikian bila rukyat dilakukan di Jakarta (sebelah barat garis batas wujdul-hilal) pada tanggal 11 Oktober 2007 di waktu magrib, maka hasilnya menyimpulkan bahwa besoknya (tanggal 12 Oktober 2007) adalah 1 Syawwal 1428 H. Tetapi kalau rukyat itu dilakukan di Samarinda atau Menado atau Ambon yang letaknya di sebelah timur garis batas wujdul-hilal maka hasilnya, insya Allah, menyimpulkan bahwa besoknya (tanggal 12 Oktober 2007) belum 1 Syawwal.

    Butir kedua prinsip kesatuan wilayatul-hukmi essensinya mengatakan bahwa Muhammadiyah menganut prinsip “hanya ada satu Lebaran untuk satu negara”. Prinsip ini nampaknya dianut juga oleh kubu rukyat dan kubu Pemerintah. Buktinya, sepanjang sejarah kubu-kubu ini tidak pernah menetapkan dua daerah Lebaran di Indonesia. Catatan: Dua wilayah hari Raya tidak sama dengan hari Raya ganda. Hari Raya ganda maksudnya ada dua hari Raya untuk satu tempat.

    Isu Utama dan Isu Minor
    Sepanjang pengamatan kami, ada isu yang dihembuskan sebagai isu utama sebagai sumber perbedaan dalam menyimpulkan akhir/awal Ramadan, yaitu masalah definisi hilal. Isu ini minor karena kesepakatan dapat dilakukan dengan mudah jika kedua pihak-pihak yang berbeda pendapat ini keluar dan melihat hilal secara langsung dan sepakat benda itulah yang disebut hilal. Isu yang lebih utama lagi sebenarnya adalah prinsip kesatuan wilayatul hikmi. Secara kenyataan bahwa Indonesia tahun ini akan mempunyai dua zona penampakan hilal. Ini akan menimbulkan persoalan bukan saja bagi kubu hisab tetapi juga kubu rukyat kalau metodanya menggunakan prinsip kesatuan wilayatul hukmi. Lalu bagaimana menyatukannya? Apakah 1 Syawwal mengikuti daerah yang sudah ada penampakan hilal atau harus tunggu sampai semua daerah sudah ada penampakan hilal? Apapun keputusannya hasil akhirnya akan bersifat “tanpa dasar yang logis” (arbitrary). Jangan heran kalau pendapat ulama, bahkan imam mazhab berbeda-beda. Menurut Imam Hanafi dan Maliki, kalender kamariah harus sama di dalam satu wilayah hukum suatu negara, inilah prinsip wilayatul hukmi. Sedangkan menurut Imam Hambali, kesamaan tanggal kamariah ini harus berlaku di seluruh dunia, di bagian bumi yang berada pada malam atau siang yang sama. Sementara itu, menurut Imam Syafi’i, kalender kamariah ini hanya berlaku di tempat-tempat yang berdekatan, sejauh jarak yang dinamakan mathla’. Inilah prinsip matlak madzhab Syafi’i.

    Yang menarik adalah pendapat Ibn Abbas, salah satu ulama yang pernah hidup di masa Rasullulah. Riwayat Kuraib yang diceritakan oleh Muslim bahwa Khalifah Mu’awiyyah di Damaskus shaum/puasa pada hari Jumat sementara Ibnu Abbas di Madinah shaum/puasa pada hari Sabtu. Ketika Kuraib bertanya kepada Ibnu Abbas kenapa tidak berbarengan saja dengan Mu’awiyyah, Ibnu Abbas r.a. menjawab : “Tidak, beginilah Rasulullah saw, telah memerintahkan kepada kami”. Yang dimaksud oleh Ibnu Abbas tentu saja hadist nabi saw yang dikutip di atas. Padahal Damaskus dan Madinah waktu itu masih dalam satu wilayah hukum/satu kekhalifahan.

    Sepanjang pengetahuan kami, tidak ada ayat al-Quran atau hadist yang bisa dikatakan memenuhi persyaratan cukup untuk menunjang konsep prinsip kesatuan wilayatul hukmi Ada hadist yang kadang diajukan sebagai dalil untuk penerapan prinsip kesatuan wilayatul hukmi, yaitu:

    Bahwa seorang Arab Baduwi datang kepada Rasulullah SAW seraya berkata: “Saya telah melihat hilal (Ramadhan)”. Rasulullah saw. lalu bertanya: “Apakah kamu bersaksi bahwa tidak ada ilah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah?” Orang itu menjawab,’Ya.’ Kemudian Nabi SAW menyerukan: “Berpuasalah kalian” (HR. Abu Dawud, An Nasa`i, At Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas).

    Tetapi hadist ini tidak bisa memenuhi syarat cukup sebagai dasar argumen untuk penerapan prinsip kesatuan wilayatul hukmi. Dalam hadist ini tidak disebutkan adanya isu perbedaan zona penampakan hilal. Apakah orang badui ini melihatnya di tempat yang jauh dari Madinah (tempat tinggal rasullulah) yang memungkinkan adanya perbedaan zone penampakan hilal? Tidak ada penjelasan

    Dengan kata lain, dasar hukum penggunaan prinsip kesatuan wilayatul hukmi tidak ada mempunyai persyaratan yang cukup. Para mazhab tidak punya kesamaan dan tidak diatur dalam hadist atau al-Quran.

    Pertama harus diakui bahwa tidak benar cara hisab dan rukyat adalah isu utama dari perbedaan hasil penentuan 1 Syawwal.

    Kedua harus diakui bahwa prinsip kesatuan wilayatul-hukmi adalah salah tempat dan salah applikasi. Prinsip kesatuan wilayatul-hukmi sebagai opini ulama, tidak bisa membatalkan hadist untuk menentukan akhir puasa (shaum) atau al-Quran untuk menentukan tanggal. Oleh sebab itu di Indonesia yang wilayahnya membentang sangat lebar (5,271 km) dan luas (1,919,440 km persegi) tidak mungkin selalu diberlakukan 1 hari Lebaran, tanpa melanggar juklak dari rasullulah (hadist nabi) dan pedoman al-Quran. Kadang-kadang Lebaran di Jakarta dan di Menado berbeda. Seperti halnya waktu sholat, waktu puasa dan Iedul Fitri tidak perlu sama untuk semua wilayah republik Indonesia. Jadi tahun ini ada dua wilayah Iedul Fitri di Indonesia, bukan dua Lebaran. Wilayah pertama adalah sebelah barat garis batas wujdul-hilal seperti kepulauan Tanibar, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Barat serta daerah-daerah di sebelah baratnya akan berhari Raya pada tanggal 12 Oktober 2007. Selebihnya dibagian timur akan berhari Raya pada tanggal 13 Oktober 2007).

    Kesimpulan:

    1. Di dalam kalender Islam terdapat garis tanggal wujudul hilal dan visibilitas hilal, yang dapat membelah bumi dengan posisi kemiringan tertentu. Sehingga selalu, dari batas garis wujudul hilal tersebut ke arah barat , kemungkinan melihat hilal semakin mungkin.

    2. Garis tanggal pembeda di atas pada setiap bulan dalam penanggalan Islam akan berubah-ubah letak dan posisinya. Jadi, bisa saja membelah suatu negara yang sangat luas.

    3. Seharusnya, dalam menentukan awal bulan, dalam hal ini penanggalan Islam, hendaknya saya mengusulkan agar, membuat DAFTAR KOTA-KOTA YANG SUDAH MASUK TANGGAL 1 ATAU BELUM. Misal:

    -Daftar kota-kota di seluruh dunia yang sudah masuk tanggal 1 adalah:
    Jakarta, Tanggerang, Pontianak, Padang, Medan, Aceh, Kuala Lumpur, Penang, Bangkok, New Delhi, Jeddah, Riyadh, Mekkah, Madinah, Kairo, London, dan seterusnya sampai ke barat sampai bertemu di titik garis wujudul hilal kembali>

    -Daftar kota-kota di seluruh dunia yang belum masuk tanggal 1 adalah:
    Bandung, Cirebon, Tasikmalaya, Garut, Semarang, Jogjakarta, Surabaya, Ujung Panjang, Jayapura, Tokyo, terus ke barat sampai bertemu di titik garis batas wujudul hilal tadi

    Sehingga, saya atas nama ahli falaq mengusulkan kepada Pemerintah Republik Indonesia, Departemen Agama RI, agar jika garis tanggal Wujudul hilal dan visibilitas hilal melewati Negara Indonesia, maka harus dilakukan pembagian wilayah waktu tanggal, seperti disebutkan sebelumnya.

    4. Tidak menjadi masalah dalam 1 negara terdapat 2 penanggalan yang berbeda . Tetapi dalam 1 kota diharuskan berada pada hari yang sama.

    5. Berdasarkan garis wujudul hilal dan visibilitas hilal di atas, kota-kota yang belum dapat melihat hilal tadi pada Ghurub Maghrib di tempat terbitnya hilal pertama kali, secara ilmiyah, pasti besoknya pada Ghurub matahari hari berikutnya pasti hilal akan nampak juga.

    6. HIZBUT TAHRIR, adalah salah. Jika kita akan menggunakan penanggalan apapun, pastinya harus ada garis tanggal yang membelah bumi menjadi 2 bagian yang berbada.

    7. HIZBUT TAHRIR telah mencampur adukkan penanggalan Islam dengan penanggalan Masehi.

    8. HIZBUT TAHRIR tidak memahami syarat-syarat penanggalan.

    9. Dengan menggunakan dan mengetahui garis tanggal wujudul hilal, maka tidak akan mengalami kekacauan penanggalan.

    10. Meskipun dunia telekomunikasi, internet, satelite, telah maju, sehingga seluruh dunia dapat menerima kabar hilal di suatu tempat, maka :
    JANGAN MEMEBRIKAN INFORMASI MUNCULNYA HILAL DI SUATU KOTA KEPADA ORANG YANG BERADA DI SEBELAH TIMUR.
    BERITAKANLAH KABAR MUNCULNYA HILAL KEPADA KOTA-KOTA YANG BERADA DI SEBELAH BARATNYA.

    11. Bumi adalah bulat. Tidak Datar.

    12. Jika tidak ada garis tanggal wujudul hilal dan visibilitas hilal, maka akan kacaulah penanggalan islam yang digunakan.

    13. HIZBUT TAHRIR TIDAK MEMAHAMI KAJIAN ILMIYAH ASTRONOMIS YANG ADA

    14. Seperti halnya, jadwal sholat, yang mana setiap kota di seluruh Indonesia berbeda-beda. Di Jakarta, maghrib jam 18.00 WIB, sedangkan di Bandung maghrib jam 17.55 WIB. Di Jogja maghrib jam 17.46 WIB.
    Jadi, dalam hal ini wujudul hilal sebagai pembelah bumi juga harus ada.
    15. Dilema yang muncul bila sistem hilal global dipergunakan sebagai acuan adalah pada awal dan akhir ibadah shaum, di bagian timur garis pergantian bulan umat Islam akan berpuasa sebelum waktunya (hilal penentu awal shaum belum ada). Bila awal shaum menunggu pengamat bagian barat dapat melihat hilal, berarti sebagian umat Islam di sebelah timur akan memulai puasa selepas fajar subuh bahkan setelah terbit matahari. Sebaliknya bisa terjadi sebagian Muslim di barat memulainya selepas fajar subuh sehari sebelumnya, bila hilal telah berhasil diamati di bagian timur garis tanggal.

    MATEMATIKAWAN, & PENGAMAT ASTRONOMI MUSLIM, ALBI FITRANSYAH,S.Si

  17. Kalau sekarang berpuasa di NKRM : Negara Kesatuan Republik Muhammadiyah he he he


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: