Oleh: Rovicky | Oktober 8, 2007

Indonesia Malesa ini masalah regional sejak jaman rekiplik


Ikutan ribut-ribut soal sayang-sayangan eh rasasayange ah … Sepertinya ini menarik karena kakiku kebetulan ada di dua tempat. Kaki satu di Malesa satu kaki di Indonesia.

😦 “Pakdhe kok nyebut Malesa to ?
😀 “Yo ben impas demi keadilan wae, nek deweke nyebut Indon yo rasah mangkel, thole. Ga usah pakai argumentasi yang rumit-rumit. Samain aja alasannya seperti apa kata media di Malesa, ini hanya untuk mempermudah ditulis dan pengucapannya aja kan ?” 😛

Apakah permasalahan bilateral ini melulu kesalahan Indonesia sendiri ?
Wah kalau mencari siapa yang salah ndak ada gunanya, malah lebih terkesan memprovokasi. Akan lebih baik mempelajari siapa dia dan siapa saya, seperti yang ada dalam tulisan sebelumnya Mengintip jendelanya Johari supaya saling mengenal dengan baik.

Kelemahan dan kekuasaan itu memancing keserakahan dan emosi.

Bukan soal benar dan salah, tetapi itulah yang terjadi. Dunia kekuasaan itu cenderung serakah. Sejak jaman raja-raja jaman dahulupun juga sudah begitu. Kalau dulu kerajaan menyerang kerajaan, jaman sekarang negara lah yang menjadi institusi resmi dalam pengembangan kekuasaan. Yang pasti ada porsi karena kelemahan posisi di satu pihak (Indonesia), dan ada kekuatan lebih di posisi yang lain (Malesa) yang akhirnya memanfaatkan kelemahan itu. Kita bisa saja “victimize the victims” menyalahkan yang kalah atau menyalahkan yang lemah. “Salah sendiri Indonesia kok lemah” … tapi sebenarnya bukan itu point utama dalam mempermasalahkan hubungan kedua negara. Jelas Malesa secara legal formal tidak ada salahnya dalam beberapa kasus “pencurian” lagu, batik, angklung dll. Tetapi secara moral dimana tolok ukurnya sangat-sangat relatif ini jelas ada kesalahan Malesa. Misalnya kasus penganiayaan pekerja ini apapun bentuknya yang namanya penganiayaan itu salah, titik. Jelas tidak benar kalau ada yang melindungi pelanggar kemanusiaan. Mau yang menganiaya wong Jowo, wong cino atau wong bugis siapapun yang menganiaya harus diadili, ini kasus kriminal bukan kasus bilateral. Padahal kalau dari statistik Malesa jelas diakui 80% kriminal di Malesa itu disebabkan oleh warga setempat (klick utk lihat datanya).

😦 “Pakdhe, jadi siapa yang salah Pakdhe ?”
😀 “Tunggu dulu, bagaimana kalau kita melihatnya dengan kacamata sejarahnya ?”

Selama ini Malesa memang selalu menafaatkan kelemahan Indonesia. Kalau saya yang berhadapan dengan Malesa maka saya akan membawa kasus ini lebih luas lagi, yaitu problem kelemahan regional Asia Tenggara. Kita bisa saja caplok-caplokan sendiri di Asia tenggara, tapi suatu saat kita akan dicaplok oleh region lain, entah Cina, entah India entah Amerika atau malah Arab 🙂 . Kita ngga pernah tahu, kan ?.

Kalau saja Malesa tidak mau berbagi “weatlh” (kemakmuran) yang dimilikinya saat ini dengan region sekitarnya (termasuk Indonesia dan Thailand dan sekitarnya, maka mudah untuk diyakini, bahwa Malesa juga suatu saat akan menuai badai caplokan dari region lain. Sama halnya dengan Indonesia, kalau tidak mau berbagi kemakmurannya dengan daerah-daerah lain, maka akan menuai badai masalah kesenjangan. Hal ini secara historis sudah beberapa kali terjadi di region Asia tenggara ini. Katanya sih sudah dari sononya.

Indonesia sudah memiliki bibit-bibit kesenjangan dalam banyak segi, mulai dari kesenjangan ekonomi, kesenjangan pendidikan, kesenjangan politik dan sebagainya. Misalnya antara Jawa dengan Luar Jawa, banyak orang luar Jawa yang menganggap Jawa lebih dibangun ketimbang luar Jawa. Di dalam satu Pulau Jawa-pun ada kesenjangan antara Ibukota Jakarta dengan kota-kota dan propinsi lain. Di dalam Jakarta-pun juga ada kesenjangan antara Priok dengan Pondok Indah. Demikian seterusnya kalau kita turun kebawah ke daerah lebih sempit. Kesenjangan ini akhirnya dimanfaatkan pihak lain untuk memecah Indonesia atau barangkali akhirnya pecah sendiri merugikan diri sendiri tanpa campur tangan pihak lain sekalipun. Secara singkat Indonesia akhirnya menjadi lemah. Dan kelemahan inilah yang dimanfaatkan oleh Malesa sehingga mampu mencaplok Sipadan-Ligitan, dan juga saat ini masih berusaha mencaplok Ambalat. Jalannya memang bisa berliku-liku. Dahulu jaman kerajaan-kerajan ya melalui perang, saat ini perebutan melalui jalan pengadilan dunia atau dikenal Mahkamah Internasional.

Apakah tindakan Malesa ini salah atau bener ?
Sebelum bicara salah atau bener … Kita lihat saja sejarah perjalanan kawasan ini secara singkat.

😦 “Haiyak, Pakdhe. Mbok udah dimulai crita sejarahnya aja”

Sejarah Singkat Kawasan Melayu

malindo.jpgSudah sejak jaman dahulu kala daerah (kawasan Asia Tenggara terutama termasuk tanah melayu) ini berubah-ubah kekuasaan serta rajanya.

Dahulu ada kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang (kita mulai saja dari sini, ya). Sriwijawa kekuasaannya meliputi Sumatera Bagian Timur termasuk semenanjung malaka (Malesa Barat saat ini). Kemuadia daerah ini diserang oleh Majapahit. Dan akhirnya daerah kekuasaan Sriwijaya ini dikuasai Majapahit.

Majapahit inilah yang sering menjadi lagu dan dongengan serta lamunan indah yang dibanggakan sebagian rakyat Indonesia bahwa “dahulu” pernah ada kekausaan yang pernah besar menguasai Asia tenggara hingga Pilipina dan berpusat di Jawa. Itu dahulu, sekarang Indonesia ya harus kerja keras lag, tidak mungkin melakukan klaim ini milikku hanya dengan sejarah saja.

Bagaimana dengan Sriwijaya ?

Pangeran Sriwijaya Parameswara dengan para pengikutnya hijrah ke semenanjung, dimana ia singgah lebih dulu ke pulau Temasik dan mendirikan kerajaan Singapura. Pulau ini ditinggalkannya setelah dia berperang melawan orang-orang Siam. Dari Singapura dia hijrah ke Semenanjung dan mendirikan kerajaan Melaka membentuk kesultanan Melaka. Ketika Kasultanan itu berkembang, Majapahit sudah mulai memudar sekitar 1400-an. Pusat elaka ini ada di Negeri Melaka saat ini. Kesultanan Melaka inilah yang selalu menjadi dongengan indah dan manis bagi Rakyat Malesa saat ini. Karena kekuasaan yang berpusat di Malesa saat ini dan yang terbesar yang dimiliki dari segi sejarahnya,  ya  hanyalah Kesultanan Melaka, hmmm … yang notabene pelarian dari Sriwijaya yang terusir oleh serangan Majapahit.

Setelah itu itu ada juga kerajaan-kerajaan lain yang menyelimuti perjalanan sejarah di Indonesia dan Malesa, tapi mungkin kepanjangan kalau diceritakan. Nah, yang perlu diketahui adalah adanya caplok-caplokan daerah ini sejak jaman raja-raja dahulu. Sangat wajar kan kalau ada sedikiit kekesalan Sultan Melaka yang terusir dari Sriwijaya yang berpusat di Palembang ini. Demikian juga terjadi perebutan pengaruh Hindu dan Islam ketika masuk di Jawa, dan sudah tentu mengundang dikotomi bangsa terusir dan bangsa yang mengusir. Ntah bagian atau sebelah mana pembaca ini akan berdiri, sebagai yang mengusir atau terusir. Padahal itu cerita masa lalu saja. Silahkan mencari posisinya masing-masing 😛

malindo1.jpgJaman Kolonial

Kemudian, hmmm …. …. … kita loncati lagi saja sejarahnya menuju pada jaman kolonial. Karena intriknya dan mungkin relevansinya sedikit untuk konflik Mal-Indo kali ini. Walaupun ada juga masuknya Islam akan mempengaruhi juga akhirnya. Tapi kita kesampingkan bentar aja.

Negara-negara Eropa (Inggeris, Perancis, Belanda dan juga Portugis) mulai menjelajah keluar dari Eropa mulai tahun 1600-an, keluar kemana-mana termasuk Afrika dan Asia. Belanda dan Inggeris serta Portugis, berbagi-bagi kapling untuk menjadi sapi perahannya di Asia tenggara. Cikal bakal Malesa dikuasai Inggeris. Sedangkan cikal bakal Indonesia dikuasai eh dijajah Belanda. Daerah yang nantinya menjadi negara Indonesia ini “apes” ditangan Belanda, karena belanda tidak seperti Inggeris dalam “mengelola” daerah jajahannya. Walaupun Portugis katanya paling parah dalam mengelola sapi jajahannya. Cikal bakal Indonesia disedot habis seumber dayanya, sedang cikal bakal Malesa tidak begitu merana dibawah ketiak Inggeris, walaupun kecut tapi masih anget kali ya 😛 .

MERDEKA !

Indonesia akhirnya merdeka dari Belanda setelah dengan “merebut” dengan perang fisik dar der dor ! di Tahun 1945. Sehingga Indonesia ini gething dan “suebel mekucel-kucel” dengan Belanda. Saat ini setiap ada langkah atau tindakan dari Belanda selalu diembeli dengan anti, wis pokoke yang berbau Londo itu ngga enak termasuk nama bunga Kenikir Londo 😛 baunya apek !. Hal yang baik (kalau ada) dari pemerintah Belanda selalu dicap buruk dan menyakitkan, misalnya kultur stelsel yang sebenarnya akan positip kalau diterjemahkan tanam pilih dan tebang pilih mengatasi hama, diterjemahkan menjadi tanam paksa. Padahal kejadian itu juga diulang ketika Jaman Suharto ada wajib tanam tebu, tapi hampir semua lupa kalau itu juga bisa diterjemahkan tanam paksa. Sehingga kita tidak dapat memetik hasil positip yang ada sebelumnya, semua peninggalan Belanda selalu terdengar sumbang. Walaupun banyak peninggalan peta-peta hasil belanda itu masih dipergunakan hingga sekarang. Juga Pajang jalan kereta api juga masih saja sama sejak jaman Belanda.

Sedangkan Malesa “diberi” kemerdekaan oleh Inggeris. Sehingga orang Malesa dalam sejarahnya “tidak merasa dijajah Inggeris“. Bahkan ada satu sisi mereka berterimakasih telah ‘dijajah dengan baik‘ 🙂 . Justru Malesa sangat sebel bin ngga suka dengan Jepun (maksudnya Jepang), walaupun Jepang hanya numpang lewat Malesa beberapa tahun saja ketika perang dunia kedua. Mereka yang di Malesa ini justru merasa dijajah Jepun. Inggeris tentunya nyengir 🙂 kalau inget hal ini, Jepun yang mbesengut 😦 ngga kebagian apa-apa.

Dari dua perbedaan diatas sudah terlihat pembawaan Indonesia yang selalu penuh heroik dalam menghadapi negara asing. Semangat 45 sangat kental dengan mental gagah berani untuk maju perang. Berbeda dengan rakyat Malesa yang kaget dan terkesan keder ketika orang Indonesia menyatakan siap mati membela tanah air. Bener looh rakyatnya Malesa yang keder, tapi pasukan militernya Malesa lebih berani wong senjatanya lebih mutahir. Lah militernya Indonesia yang malah ragu-ragu atau diragukan rakyatnya sendiri, Blaik ! Hal ini karena di Malesa ini rakyatnya tidak terasa jiwa heroiknya. Namun dalam hal membangun Malesa beda jagi, mereka terkesan lebih tertata rapi ketimbang Indonesia yang “gagah-berani“.

Dengan demikian kita tahu bahwa Malesa dengan Indonesia memiliki kesamaan dan ketidak samaan dalam menjalani sejarah masa lalunya. Perjalanan ini membawa sikap mental serta perilakunya berbeda, pada aklhirnya.

😦 “Dari sisi penduduknya gimana Pakdhe ?
😀 “Yo manungso kabeh, dua-duanya sama manusianya thole
😦 “Hallah, Pakdhe

Penduduk Malesa ini secara etnis terdiri dari Tiga etnis besar yaitu, keturunan Melayu, Keturunan Cina dan Keturunan India. Orang India ini datang ke Malesa ketika jaman penjajahan Inggeris, karena India juga daerah jajahan Inggeris wektu itu. Negara Indonesia merupakan negara yang majemuk, terdiri dari hampir 200 suku. Menurut Tante Wiki sudah tercatat lebih dari 170. Duapuluh tahun lalu jumlah bahasa tercatat lebih dari 750 bahasa yang dalam 20 tahun terakhir ini 30 persen sudah punah. Jumlah pulau di Indonesia tercatat lebih dari 17 000, dimana 6000 diantaranya berpenghuni. Dapat dibayangkan bagaimana diversity atau keberagamannya Indonesia ini. Jadi jelas sekali penduduk Malesa yang hanya 20 juta-an ini lebih homogen ketimbang Indonesia.

Indonesia dan Malaysia juga pernah mengalami konfrontasi yang cukup parah tahun 1960-an. Namun konfrontasi ini tidak berlanjut. Sukurlah bahkan sudah 40 tahun hubungannya semakin membaik. Namun dua bulan akhir-akhir ini terasa gejolak baru muncul di kedua negeri ini. Soal konfrontasi ngga perlu diperpanjang ceritanya ya ? Bikin mangkel bagi yang pernah terluka saja.

Hanya sebagian yang serumpun, itupun secara biologis doank !

Jadi kalau dikatakan Malesa dan Indonesia ini bangsa serumpun ya ada benarnya (walaupun hanya porsi melayunya) tetapi perjalanan hidupnya membuat kedua bangsa yang secara biologis ini dekat menjadi jauh karena berbeda jalan yang dilaluinya. Ditambah lagi dengan krisis akhir-akhir ini yang menjadikan Indonesia terpuruk menjadi bulan-bulanan kawasan sekitarnya. Mungkin juga sih, secara tidak sengaja. Dalam sebuah lapangan tari-tarian ini tentu saja ada yang mengatakan wajar kalau ada yang kakinya keinjek atau atau terkena sikut. Saking senangnya kawan sebelah kita menari yang lupa ada sekelilingnya terkena sikut kan. Paling trus misuh-misuh “slompret tenan !”.

Bangsa kakak beradik ini masih dipercaya hanya akan satu kalau menggunakan issue melayu dan issue muslim, tetapi kenyataannya suku melayu dan muslim di Malesa juga hanya sebagian. Dan Melayu ini yang menguasai sisi politik, sedang yang menguasai ekonomi juga dari etnis Cina dan etnis India. Di Indonesia penguasaan politik masih terutama dari suku Jawa, paling tidak anggota DPR-nya dari daerah masih banyak yang tinggal di Jawa. Indonesia didalamnya ada banyak sekali suku (hampir 200). Diversity atau keberagaman ini ciri khusus Indonesia yang tidak dimiliki Malesa. Yang jelas issue serumpun dan muslim ini tidak lagi ampuh dapat dipakai sebagai tema atau issue untuk menyatukan kedua negeri yang “mengaku serumpun“.

Kedua bangsa kedua negara ini sudah terasa menjauh. Perlu saling mendekatkan diri, saling mengenalkan diri secara terbuka untuk saling mengenal kembali. Jangan sampai ada berita buruk dari kedua pihak yang justru akan memperlemah kawasan Asia Tenggara ini. Kalau yang sedang menguat tidak mau mengajak yang melemah untuk maju bersama maka keduanya pasti hancur suatu saat.

Iklan

Responses

  1. putuskan saja hubungan diplomatik dengan Malaysia beres kan….tetangga kok nyaplok..dulu pas zamannya Soeharto, Malaysia gak berkutik..sekarang wah belagu…menganiaya, dan merampok tetangga sendiri..
    belum selesai penganiayaan terhadap wasit (duta Indonesia)..sekarang tambah lagi..benar – benar Malaysia bangsa yang memalukan..dah tahu salah gak mau minta maaf…tambah lagi ketololannya JK..benar – benar tolol…harusnya Malaysia datang ke Indonesia tuk minta maaf, eh malah JK datang ke Malaysia tuh memohon supaya Malaysia minta maaf…menjatuhkan wibawa negara…

  2. harga diri bangsa tuh harus dipertahankan…kita bangsa timur yap..tapi tugas kita menjaga kewibawaan, kehormatan dan harga diri bangsa supaya gak diinjak – injak…Malaysia karma menantimu…

  3. @Wisnu
    Kalau Indonesia memutuskan diplomatik ya tambah runyem untuk kawasan ini. Yang tepat Indonesia juga harus solid, bersatu dulu. Jangan lagi berita buruk tentang Indonesia di blow-up sendiri oleh media Indonesia.
    Mulai saja memberitakan yang bagus-bagus tentang Indonesia.

  4. trus apa yang dilakukan dong sama pemerintah indonesia pak dhe??

  5. pak dhe, pakdhe, aku tuh udah jengkel2 tenan gara2 baca buku bung Hatta, gimana Malesa ini nggantung orang Indonesia pas jaman perang Indonesia nggajang Malesa jaman Bung Karno. Padahal Pemerentah Indonesia udah mintain ampunan ke pemerentah Malesa)
    Bung Hatta ae nganti janji ndak bakalan nginjekin kakinya ke Malesa ini (dan ditepati).

    Nah pak Lik ku jaman taun 70 an dikirim juga ke Malesa jadi guru SMA disana…..(uripe yo mapan pakdhe, wong dibayar gede)

    nah…brarti…yg mencerdaskan bangsa Malesa itu kan juga guru2 Indonesia to?
    la koq saiki jadi gitu? apa ndak mulang sarak to pakdhe???

  6. t’s Amazing Story…
    Salut buat Pak RDP..yang mampu membawa milister ke alam Sejarah yg sebelumnya kita pelajari waktu mulai SD dulu.

    Memang untuk berkembang menjadi suatu bangsa yg maju, itu harus tahu asal usulnya, sifat&watak yang melekat pada dirinya, kekurangan & kelebihan yang dimiliki.

    Suatu Bangsa/Negara itu ibarat Seorang Pribadi. Jika seseorang ingin berhasil & sukses dalam hidupnya, perlu sebuah perenungan&pemahaman ttg Asal Usul keluarganya, Sifat Kelebihan & kekurangan, Modal yang dimiliki, Komunikasi dg Tuhannya, serta Sikap Sosialnya.

    Kalau orang Jawa bilang, ” Kudu Isoh Nyawang Githok e dewe “. (” Harus bisa melihat Tengkuknya sendiri”)

    Salam anget

    bsw

  7. Sesungguhnya Indonesia itu pelit dalam memberi pulaunya kepada Malaysia, wong Irian Jaya saja tidak mau ditempati, pulau – pulau sekitar Kalimantan saja banyak yang tidak berpenghuni.

    Lha, ketika secara ofisial dikalim sebagai milik Malaysia, barulah ribut – ribut. Ketika tidak sedang panas, warisan pulau dan budaya itu ditelantarkan saja. 😕

  8. anti iNdong!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    Anti IndOnG!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: