Oleh: Rovicky | Oktober 25, 2007

Wartawan adalah …


Pas lagi iseng nengok blog berita di sebelah aku liat ada survey. Mmmmm … penasaran aku liat hasilnya ternyata :

siapakah-wartawan.jpg

Nah banyak yang bisa diinterpretasikan dari sini, mengapa kok wartawan dianggap “orang yang suka memeras pejabat” Ah, bisa jadi :

  • Ya betul kali ya, emang banyak kok orang yg suka memeras gitu. Jadi orang yang memeras itu namanya Wartawan gitu ya ? 🙂
  • Banyak pejabat yang ikutan survey (respon akibat dari pengalaman) 😀
  • Yang ikutan survey anak pejabat yang ngga kebagian buat uang saku 😛
  • Yang ngejawab survey ya wartawan sendiri, biar ditakuti pejabat 😦
    • Atau jangan-jangan survey itu semuanya betul, Definisi wartawan adalah “orang yang suka memeras pejabat (117) sehingga menjadi profesi yang disegani aparat (99), dengan memunculkan informasi (17) bagi yang tidak tahu (11) kalau mereka sedikit sekali yang pernah membela rakyat kecil (9)” 😀
  • .
  • Jadi kalo mnurut mu ?
Iklan

Responses

  1. Loh, bukannya profesi pakdhe selama ini juga wartawan? pakdhe kan sering memberikan kabar dongeng ke khalayak ramai 😀


    Warta = kabar/berita
    wan = orang

  2. 🙂 bagus juga tuh, koment yang nggabungin hasil survey. heheh..
    dengan persepsi seperti hasil survey tersebut, aku sudah tak asing lag.
    Entahlah, yang kutahu banyak oknum wartawan yang memang begitu, terlebih mereka yang WTS, Wartawan Tanpa Surat Kabar.
    Atau yang masuk gruonya ‘tempo’. tempo terbit, tempo nggak. (bukan tempe, heheheha)
    Atau masuk grup ‘kompas’, kompas (malak) sini, kompas sana.

    Sebagai seorang wartawan, aku tak terlalu memikirkan itu. Terserah mereka menilai,masih banyak wartawan lurus.
    hanya saja bagiku wartawan adalah ‘sosok dengan sebelas lidah’
    salam kenal pembuat Tempe
    tak tunggu mpeyan di rachmawan.wordpress.com

  3. Yang ngejawab survey ya wartawan sendiri, biar ditakuti pejabat ****

    huahahaha….. terpingkal saya.

  4. hehehehe…pakdhe pernah diwawancarai wartawan tah?
    trus diperes? kekekekekeke kaya sapihhh aja

  5. lha wartawan itu memang seneng disangoni je … tanpa pesangon … kalo wartawan bener, paling jadinya berita buruk. dengan pesangon, beritanya agak membaik. kalo wartawan palsu, ya jadinya kembali ke profesi asalnya sebagai pemeras. kalo disangoni, ya paling agak libur berapa hari gitu merasnya.

  6. Ilmuwan Jangan Menggunakan Kaca Mata Kuda

    Dalam waktu dekat ini, melalui sebuah seminar publik, para ilmuwan dari Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Gajah Mada (UGM) dan Pusat Pengkajian dan Penelitian Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (UI) akan mengumumkan hasil kajian ilmiah atas pemberitaan-pemberitaan yang dibuat jurnalis Tempo. Kajian ilmiah itu dilakukan atas pesanan Asian Agri -anak perusahaan Raja Garuda Mas (RGM) milik Sukanto Tanoto, pengusaha asal Medan.

    Dalam berbagai iklan berukuran besar yang dipublikasikan oleh Veloxxe Consulting yang juga disewa oleh Asian Agri untuk menjadi penyelenggara seminar publik, Asian Agri merasa bahwa pemberitaan Tempo tendensius, tidak berimbang, tidak cover both sides dan memuat unfairness news dan oleh karenanya Asian Agri mengadukan permasalahan itu kepada Dewan Pers. Memang seharusnya demikianlah yang dilakukan oleh perusahaan yang dirugikan oleh media.

    Kami ingin bertanya kepada para ilmuwan: Apakah hasil kajian tersebut merupakan sikap resmi perguruan tinggi, ataukah sikap oknum di perguruan tinggi tersebut yang telah memperoleh manfaat ekonomi dari kegiatan ini? Pertanyaan ini penting soalnya kami sungguh prihatin akan nasib lembaga perguruan tinggi yang terhormat itu, jika hanya digunakan sebagai pemberi statemen bahwa jurnalis Tempo bersalah karena melanggar Kode Etik Jurnalistik. Jika ini terjadi, sulit sekali publik memahami bahwa sikap tersebut dependen atau independen.

    Soalnya, ini masalahnya sesungguhnya bukan di situ. Persoalan besarnya seperti yang diberitakan berbagai media masa adalah adanya dugaan penggelapan pajak oleh Asian Agri. Jika dugaan ini benar, pertanyaannya adalah bagaimana upaya kita menyelamatkan keuangan negara? Jika tidak benar, bagaimana Asian Agri menangkis tudingan yang kini sedang diperiksa Ditjen Pajak dan dimonitor oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Inilah persoalan bangsa yang harus didiskusikan oleh kita semua, termasuk oleh para ilmuwan dari Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Gajah Mada (UGM) dan Pusat Pengkajian dan Penelitian Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (UI). Baik dibayar secara professional, maupun tidak.

    Saya kira tidak ada manfaatnya sama sekali para ilmuwan hebat yang mendedikasikan pengetahuan dan kebijaksanaannya itu dipinjam tangannya untuk mengeroyok seorang jurnalis yang memiliki idealisme, hati nurani, dan keprihatinan atas potensial kerugian keuangan Negara yang disebabkan oleh penggelapan pajak. Kita bisa mengharapkan agar ilmuwan tidak menggunakan kaca mata kuda, namun demikian pilihannya tetap ada di hati nurani masing-masing ilmuwan itu sendiri. Mau memilih kaca mata professional atau komersial?

  7. wartawan wajar aja meras pejabat, karena pejabat meras rakyat,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
    kalaaau semua masyarakat wartawan kan pejabat ga ada yang kaya,,,,,,,,,, asal ga korupsi aja…..
    Lebih baik jadi waartaaawan yang memeraas karena masih punya perasaan, karena yang diperaaas pejabat daari pada pejabat yg memeras duit rakyatttttttttttttttttttttttttttttttt….

    HIDUP WARTAWAN

  8. hidup wartawan

  9. di negri ini sulit cari yang bener, wartawan?? kalo yang telaten pasti tukang peras, yang di peras para pejabat, gak mungkin mau di peras kalo nggak ngerasa korup, tapi apa ada yang nggak korup? kalau mereka akhirnya ngasi amplop juga, katanya buat beli bensin/ rokok dll. kalo ada yang ngaku bersih, tapi masih ngasi duit alasannya takut di beritain yangg nggak2. kenapa takut kalo nggak salah, pengadilan nggak ngejamin orang bener terlihat bener, yang salah juga bisa bener, pusing gw?????? orang kecil kali ye yang paling bener??? nggak juga orang kecil di negri ini mentalnya juga sama aja, bawa motor bermasalah, mau ditilang malah bilang damai, kalo suruh ngantri juga cari jalan pintas, bayar ngk papa, berarti polisi dunk yang baek, ya nggak tau deh. gw kali yang baek.

  10. kalo nggak hidup pasti bukan wartawan kaliii, tapi almarhum

  11. Baru-baru ini wartawan angkatan lampau, Mochtar Lubis, memberikan berbagai award.

    Saya kira award-award itu terlalu murah dan terlalu berharga diberikan kepada wartawan-wartawan kita – wartawan-wartawan Indonesia masa kini, sebab wartawan-wartawan itu sebetulnya tidak mampu melakukan tugas-tugas kewartawanan “perjuangan” untuk bangsa dan rakyat.

    Lihat, berbagai kecurangan, berbagai korupsi terselubung dan besar dan mark-up jalan terus, isu pendidikan gratis yang bohong karena hanya versi Mendiknas dimana gratis adalah gratis menurut dia (gratis SPP tetapi buku-buku tetap membel dan mahal buat rakyat biasa) bukan versi publik (gratis ya gratis termasuk buku-buku dipinjamkan dan tidak harus membeli) terus berjalan, berbagai masalah tidak dapat terbongkar dan banyak lagi, semua nyata di depan mata kita, di mata publik, di mata wartawan-wartawan itu. Hampir semua wartawan itu entah kenapa, hanya membuat ulasan basa-basi dengan judul-judul bombastis, tidak pada dasarnya tidak mengunkap hal-hal sejarah atau masa lampau yang signifikan, jadi samasekali bukan merupaka analisa-analisa jurnalistik pembongkaran. Jadi kalau begini aanya, maka tidak pantas penghargaan-penghargaan itu diberikan. Dalam situasi saat ini, pejabat-pejabat di negeri ini tersenyum dan tertawa melihat kemampuan kebanyakan wartawan itu. Pemimpin-pemimpin itu semakin pandai berbohong, tak perlu minta maaf kepada publik meskipun mengeksploitasi tragedi terbaru, yang seolah itu ditujukan terhadapnya. Ini mungkin juga akibat banyak wartawan kita kurang kritis terhadap mereka, karena senang dan nikmat mengandalkan sumber-sumber resmi yaitu mereka, memblow-up mereka. Wartawan-wartawan itu penakut dan idak jelas, mungkin tidak pandai dan tidak berani menulis kritis dan interpretatif. Mereka seharusnya bercermin, dan mengikuti cara wartawan-wartawan Bule menulis. Karena sampai detik ini Indonesia hanya ada semakin banyak wartawan kelas seperti saat ini, maka hancur dan terjajah bangsa ini oleh bahkan manusia-manusia bangsa sendiri yang arogan dan ekspoitatif. Liputan-liputan hanya sekadar meramaikan suasana, tidak mengungkap apa-apa kecuali sekadar melansir statement-statement dari sumber-sumber resmi yang pandai merekayasa cerita. Sebetulnya award-award itu simpan saja kalau hanya juga untuk topik-topik yang semakin menjauh dari berbagai masalah terutama isu-isu Poleksos yang sangat diekspoitasi dan dipermainkandengan aroga oleh pejabat-pejabat sekarang ini. Selamat bangun wartawan-wartawan. Jangan ada yang kaya dan tidur dengan amplop-amplop dan nyaman dengan ketakutan tidak berdasar.

  12. wartawan itu yang jelas adalah kuli tinta. puasss…!!!

  13. Jelek banget jd wartawan ….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: