Oleh: Rovicky | November 27, 2007

Smart marketing atau soal etika


Seorang kawan merasa terjebak oleh iklan sebuah perusahaan penerbangan yang konon merupakan perusahaan penerbangan termurah. Balik naik pesawat kok cuman duapuluh sembilan ribu rupiah dari Surabaya ke Palembang !! Tetapi setelah diperiksa ternyata lebih dari sertaus ribu rupiah. Atau 400% dari yang tertulis sebelumnya !

😦 “Wahhduh, Pakdhe. Opo iyo naek pesawat terbang kok malah mahalan naek taksi ya ?”

Kawanku ini kmudian mengeluh di mailist yang juga aku ikuti, namun yang diperolehnya adalah “tangganya ambruk, dan kena kepalanya” Blug !! … Udah jatuh ketimpa tangga. Udah merasa ketipu malah disalah-salahin karena tidak membaca term and condition😦

Beberapa orang mengatakan itulah yang disebut smart marketing, katanya. Aku sih rada pusing antara smart marketing dengan etika

Tricky

Memang benar, yang namanya marketing itu “tricky“. Maksudnya “tricky” ini juga multi dimensi, baik dalam hal menghadapi persaingan dengan (peng)usaha sejenis, maupun dalam ‘menggaet‘ pelanggan, maupun mengejar keuntungan.

Lubang pasta gigi.

Dahulu pernah ada cerita perusahaan pabrik odol yang marketernya sangat “smart” yaitu mengusulkan memperbesar ukuran lubang cepet “mecotot” dan akhirnya pelanggan akan cepet beli lagi. Sewaktu mengiklankan dengan contoh seorang eksekutif yang buru-buru ke kantor mengejar busway, sehingga lubang besar akan mempercepat acara gogok gigi pagi. Ini idenya pernah dianggap sebagai tindakan “smart“, namun buru-buru ada yang “sadar” akan “trick” ini. Dan mencegah karena ini ngga benar “mengakali” konsumen yang bodo.

Software add-on

Demikian juga ada yang menjual software “murah” untuk basic package-nya, dan nanti akan menarik harga tinggi utk add-on nya. Ini akan terjadi setelah si pemakai mencapai taraf “ketergantungan“. Disini masih sering menganggap bahwa menjual software (ataupun service) ini menjadi sebuah hal yang “lumrah” kata anda diatas, atau juga wajar saja, to. Itu namanya hebat bisa mendapatkan pelanggan yang “menguntungkan

Monopoli

Lah kalau sudah monopoli mungkin mudah melihatnya bahwa akan terjadi “keterpaksaan” yang akan menjadi twisted ketika disebut sebagai “bukan pemaksaan“. Hehehe … kalau dinegeri sono ada yang melarang monopoli ini,karena mereka menganggap ada “keterpaksaan” ini sudah merupakan gejala hal yang tidak seharusnya, atau bukan hal yang “baik”

Recycle market

Setelah terjadi ketergantungan atau keterpaksaan, maka produsen ataupun penjual jasa tinggal melakukan “recycle market”. Saat ini dikasi yang ini, nanti kalau sudah bosen dikasi itu … dimana pasar itu menjadi “mainan” produsen. Tanpa si konsumen sadar apa yang terjadi

Market selection

Ini idenya mirip idenya “natural selection“nya Darwin. Biarkan pasar yang menentukan pilihan. Ini yang akan lebih samar lagi soal smart atau etics. Yaitu membuat produk dengan segala macam ragam derivatifnya. Atau beragam versinya.
Contoh mudah adalah yang dilakukan sebuah perusahaan mobil. Mereka membuat satu jenis MPV (multipurpose van) dengan segala kelas atau sebut saja mobil satu jenis dengan gaya nano-nano. Apapun ada, apa yang anda mau ada turunannya. Dari jenis yang harga selangit kumplit dengan interior khusus, ataupun gaya diesel dengan exterior seadanya. Juga harga menengah sesuai
kemampuan.
Keuntungan perusahaan apa ? Suatu saat akan dketahui mana jenis yang paling “survive” menjadi pilihan alam, eh maksudnya pilihan pasar. Nah, perusahaan tinggal ambil saja produk itu sebagai produk unggulan. Artinya perusahaan tidak perlu melakukan studi khusus untuk memberikan yang terbaik bagi konsumen.

Beda dengan produk mobil Porsche atau Ferrari, yang menjual mobil dengan biaya riset suangat mahal namun memberikan produk yang dianggap “terbaik” kepada pelanggannya atau pembelinya. sesuai hasil R&D atau hasil riset lab-nya. Tentunya biaya riset pasti diketahui oleh pelanggan/pembeli karena mereka memang mengerti apa yang harus dibayarnya. Sedangkan yang diatas pasar diberikan kebebasan memilih, tetapi perusahaan mendapatkan “keuntungan” dari kelakuan pasar.

Looh apa salah ?

Ah, …. Aku ga akan bilang mana yang salah dan mana yang benar karena itu penilaian yang sangat individual maksudku sangat relatip.

tertimpa_tangga.jpgHanya saja dalam kasus mas kawan saya yang “merasa” tertipu beli tiket murah itu, aku hanya bisa bilang, “kaciaaan deh loe !“… kok malah menjadi orang yang kepleset ketimpa tangga, dan seolah-olah disukurin lagi ! … dalam bahasa ‘jawa kuno’ disebut “Victimise the victim” ! Yang salah malah si konsumen yang jadi korban. Dan si produsen malah ngekek-ngekek ketawa-ketiwi … karena ngga ada yang mengatakan produsen ikut bersalah ….😦

Looh apa ya begitu ta seharusnya ?
Blaik !!!


Responses

  1. Hari ini sebuah milis pekerja bersepeda heboh karena ada iklan lembaga pembiayaan dg bentuk iklan yg melecehkan pesepeda dan sekaligus melakukan pembodohan bahwa kredit itu ‘murah’.

    Antara ethics dan common sense malah sedang dibrak abrik salahsatunya oleh iklan.

  2. ini yang di ribut-ribut di milis itu ya Pakdhe?

  3. keren dah masukannya.biar tempe tapi hasil burger..hehhehee

  4. kalo kata orang jawa alon-alon asal klakon hati-hati makan palkon


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: