Oleh: Rovicky | Januari 4, 2008

Bodo, Bejo, dan Brilliant !


good_luck_glitter_graphic_04.gif On Jan 3, 2008 9:20 AM, Adi Trianto wrote:
> Mas, ada guyongan gini, wong bodo kalah karo wong pinter, lha pinter kalah
> karo wong bejo…
> Bener gak sich…
>
> Adit

Guyonan lain ada juga,
Biasane orang yang bodo macam aku kalau sudah merasa sukses keluar dari kebodoannya trus akan berkoar-koar “seolah-olah” mengatakan bahwa pinter itu ngga menjamin kesuksesan. Bahkan biasanya suara yg menurutku menjerumuskan ini seperti ini jauh lebih nyaring dan lebih sering terdengar ketimbang seseorang yang pinter dan masih juga sukses. Yang lutjunya sebenernya disini hanyalah menunjukkan adanya peristiwa setiap orang yang akan mengalami pasang surut saja. Namun masa-masa ketika sedang surut dibawah inilah yang sering dibawa-bawa seolah-olah bagi yang tidak mengerti akan berarti menunjukkan bahwa pinter itu tidak perlu.

Setiap orang sukses dalam biografinya selalu membuat masa-masa “dibawahnya” sebagai tonggak monumen. Misalnya Thomas Alfa Edison tidak betjus sekolah, Billgate juga ngga lulus sekolah, anggota band Koes Plus pernah jadi penjual rokok pinggir jalan, dan lain-lain.
Padahal bukan sekedar yang tertulis itu yang perlu dipelajari. Untuk menjadi Thomas Alfa edison bukan berarti ngga harus sekolah, untuk menjadi Billgates bukan berarti keluar dari kuliah, dan kalau mau main band ga usah jual rokok di pinggir jalan dulu … 😛 Yang mungkin perlu diambil pelajaran adalah :

  • Setiap orang mengalami pasang-surut. Kedua posisi atas maupun bawah ini sangat diperlukan dalam setiap perjalanan kehidupan manusia. Tidak bisa dikatakan pasti benar bahwa kita harus mengalami susah dulu baru bisa sukses. Namun juga tidak 100 persen betul bahwa untuk sukses harus didahului dengan kesuksesan (pra-sukses).
  • Ada saat-saat tertentu dimana dalam perjalanan hidup seseorang ini akan ada saat dimana merupakan waktu paling pas untuk belajar, dan ada masa-masa dimana sesorang ini paling “ngeh” untuk bekerja. Tentunya yang terpenting mengetahui masa-masa penting ini dan untuk mengetahui saat-saat seperti ini tidak mudah. Bahkan sangat sulit. Ada beberapa teori psikologi maupun biologi (bioritmik) dalam hal ini, misalnya ada masa bermain diwaktu kecil yang harus dipenuhi, kalau tidak terpenuhi sewaktu kecil, maka masa ini akan “ditagih” dimasa dewasa atau masa tua nanti. Dan kalau tidak tepat, maka akan ada orang yang sudah cukup tua yang masih susah diajak serius bekerja, dan masih suka main layang-layang … wuspt !!
    Dalam keseharian-harianpun juga ada masa dimana kita harus beristirahat, dan kapan harus serius bekerja. Masing-masing orang mungkin tidak sama, tetapi kalau meeting Senin pagi jam 9-10 biasanya lebih efektif untuk membicarakan hal kemarin untuk persiapan minggu-minggu ini.
  • Menurut penelitian pesikologi juga, lebih banyak orang yang akan terinspirasi untuk sukses oleh sebuah kisah kesuksesan ketimbang terinspirasi oleh menghindari kegagalan. Kisah kegagalan hanya diperlukan bagi orang yang sering merasa gagal. Sehingga berteman dengan orang yang sukses akan mengajak diri kita ikutan sukses. Namun ini jangan diartikan menjadi kalimat jangan berteman dengan orang yang sedang kesusahan looh. Memilih situasi atau teman memang perlu untuk membuat mood yang baik di lingkungan baik.
  • masih banyak yang lain kayaknya …
    ayo siapa yang punya pembelajaran dari perjalanan suksesnya ?

Kawanku yang lain masih penasan dengan keberuntungan

On Jan 4, 2008 7:55 AM, Suyono <suyono@ …. com> wrote:
> Pancen iyo, yen wong pinter thok biso keblinger, yen wong bejo
> dikapak-kapakno yo tetep bejo. Mulane yen duwe anak jenengno : Bejo,
> Slamet, Basuki, Widodo, Untung, Kuat, Rahayu dsb. Wong disik iku si
> Slamet tahu kesrempet becak tapi yo tetep Slamet…….

Bejo atau beruntung memang menarik untuk diobrolin. Lah hiya syapa yang ngga mau ketiban rejeki. Yang tambah menarik lagi ketika kabegjan (keberuntungan) sebenernya juga fenomena alamiah yang dapat diteliti dan dipelajari. Ga percaya ? silahkan baca buku “The luck factor“, kalau mau beli bisa lewat Amzon.com disini Buku ini menjelaskan secara ilmiah … hiya bener secara scientific buku ini berisi hasil penelitian tentang keberuntungan.
Secara singkat isinya merupakan hasil ‘penelitian’ orang yang mengaku bernama Richard Wiseman, namanya saja Wise-man (orang yang bijak), sebuah awal untuk menjadi seseorang yang bijak dalam melihat keberuntungan, ya ?

Seorang sahabatku menuliskan apa itu keberuntungan seperti dibawah ini :
Keberuntungan (luck) didefinisikan oleh dict.die.net sebagai sebuah penomena yang tidak terprediksi yang membawa pada sesuatu yang diinginkan. Atau dalam kalimat yg lain, keberuntungan adalah mendapatkan sesuatu yang diharapkan dengan cara yang tidak diketahui/diperkirakan sebelumnya.

Berdasarkan definisi di atas, dapat diketahui bahwa ada 2 faktor yg menyebabkan sesuatu itu disebut keberuntungan, yaitu:

  1. Mendapatkan sesuatu yg diinginkan
  2. Tidak mengetahui/memperkirakan cara untuk mendapatkan hasil tsb Jika hanya ada satu faktor, maka hal itu tidak disebut keberuntungan.

Dua faktor di atas, bisa dikombinasikan menjadi 4 kuadran, yaitu

  1. Orang Berhasil
    Orang yg mendapatkan sesuatu yg diinginkan dan dia tahu bagaimana cara mendapatkan sesuatu tersebut
  2. Orang Gagal
    Orang yg tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan walaupun dia tahu bagaimana cara mendapatkan sesuatu tersebut, (btw, ini bisa jadi orang ini mendapatkan sesuatu yang lain, jadi bisa saja gagal yang “itu” tapi bejo yang “ini”)
  3. Orang Beruntung (SI Bejo)
    Orang yg mendapatkan sesuatu yg diinginkan walaupun dia tidak tahu bagaimana cara mendapatkan sesuatu tersebut
  4. Orang Ngawur
    Orang yg tidak mendapatkan sesuatu yg tidak diinginkan dan tidak tahu bagaimana cara mendapatkan sesuatu tersebut

Nah sekarang kamu masuk nomer brapa ?

Dalam tulisan di buku ilmiah (scientific) ini, selanjutnya Pak Wiseman ini juga mengungkapkan bahwa “kabegjan itu bisa dikejar atau dicari”. Intinya harus ada “usaha“. Kalau tidak berusaha kemungkinan bejonya sangat keciil, sedangkan dengan berusaha anda akan mendapatkan kabegjan. Contohnya, saya “beruntung” bisa membeli apartemen yang bagus lokasinya dan harganya cukup menanjak setelah dibeli. Tetapi setelah ditilik ulang, ternyata proses kabegjan itu tidak “ujug-ujug”, ada sebuah proses dimana saya harus berusaha, paling tidak dengan mencari iklan dan menghubungi atau mendatangi-nya. Pernah juga tidak mendapat kabegjan, lah wong sudah pagi-pagi siap-siap nengok launching apartemen jam 10 pagi, eh ada urusan. Jam 12 kesana kok ya ternyata sudah habis. Ah, mendapatkan rumah (apartemen) memang juga sesuatu kabegjan. Tapi tanpa usaha mencari, aku yakin kabegjan tidak akan mendatangi.

“Kabegjan” iku ora ujug-ujug mak jlug !
Keberuntungan itu tidak datang tiba-tiba

Salam bejo

Iklan

Responses

  1. Bisa juga itu bener pak PQ, cuma bedane, “bejo” iku ora biso di goleki, isane ditunggu, sementara pinter itu bisa dicari atau diusahakan.

  2. Kalau menurut penelitiannya Wiseman atau Si Bijak ini, keberuntungan itu harus dikejar, bukan ditunggu. Penelitan beliau ini menggunakan ribuan responden dimana orang-orang ini mengatakan atau mengaku dirinya “orang yang beruntung”. Ternyata hampir semu arang yang mengaku dirinya “si beruntung” ini terlihat adanya pola (pattern) dimana kebanyakan karena adanya usaha (sekecil apapun, termasuk hanya sekedar datang). Jadi usaha kecil dari merekalah maka kabegjan itu timbul. Sedangkan orang yang mengaku “tidak beruntung” (masuk dalam SI Ngawur), ini hanya ndodok diem saja tanpa mau berusaha, dan hanya “menunggu” durian runtuh. Masih mending an kalau dia sambil menggoyang-nggoyang pohon. Lah kebanyakan si tidak beruntung ini hanya duduk dari jauh tanpa usaha.

    Bejo itu misalnya begini,
    Sesorang sedang kepingin membeli mobil sedan Toyota. Sudah ketemu penjual sedan corolla namun diminta untuk melunasi secepatnya, karena yg punya mobil butuh duwit. Karena tidak memiliki cash ditangan, maka dia harus mencairkan uang di bank, namun memerlukan waktu beberapa hari. Akhirnya dia tetap mencoba mencairkan walaupun ada kemungkinan si empunya Corolla akan keberatan. Pas duiknya cair si empunya Corolla ternyata sudah menjualnya, dan mengenalkan ke teman lain yang menjual Toyota Corona lawas juga dengan kondisi prima tetapi dengan syarat yang sama, yaitu harus cash, walaupun hanya setengahnya dahulu ga papa. Nah kebetulan dia sudah membawa cash itu. Dan akhirnya dia malah mendapatkan sedan Corona yang jauh lebih baik dari Corola.
    Disini si Bejo jelas mendapatkan keberuntungan bukan tanpa usaha. Kalau dia menunggu maka kebejoannya tidak akan dapat diraih.

    Nah, bejo-bejo yang seperti kisah diatas itulah yang menjadi subject penelitian Pak Wiseman.

    gitu

  3. On Jan 4, 2008 4:25 PM, Sritomo wrote:
    > Lha mungkin yang disebut Wong Ngawur kuwi adalah misalkan Pak Dhe ingin
    > memperselir Jenk Wulan Guritno tetapi tidak tahu caranya bagaimana untuk
    > mendapatkan concubine glek-glek-nyem-nyem tsb … Gandeng Pak Dhe wis
    > kesengsem berat maka tetep nekat wae menempuhnya nganggo carane dewe… Yo
    > gak entuk wong carane wae ngawur kok …. 🙂

    Kalau menurut Pak Bijak (Wiseman), tindakan padeST dengan nekd itu bisa tergolong sebuah “usaha” untuk mendekati luck. Mungkin saja Jenk
    Wulannya menolak tetapi ternyata disebelahnya ada Diajenk Dewi Kemben binti Persik Mlorot. Nah bisa saja Pakde ST mendapatkan SI Kemben tersebut yang juga bisa masuk kategori beruntung 🙂

  4. “Kabegjan” iku ora ujug-ujug mak jlug !

    Setuju Mas…bahwa Edison membutuhkan 10 ribu percobaan dan Bill Gates sudah menjual software sejak SMA seringkali tidak disebut-sebut. Bahwa Cocal-Cola dibangun dengan modal 500 dollar dan strategi jitu serta keringat tak terhitung juga jarang dikisahkan…

  5. Bank Al said:
    > Betul, saya setuju dengan Mas Rovick.
    Penelitian ini adalah tesis doktor-nya Om Wiseman.
    Jadi nggak betul jika ini tidak ilmiah.

    Mas Rovick bener, menjadi subjektif ketika ada “rasa” di depannya.
    Namun jika kriteria keberuntungan disepakati, maka keberuntungan itu
    bisa diukur.

    Syarat sesuatu peristiwa disebut keberuntungan ada 2, yaitu:
    – Adanya Sesuatu yg diharapkan atau diinginkan
    – Adanya Proses yg tidak terduga/direncanakan

    Kibroto Said:

    # Menurut wiki, itu adalah fallacy. http://en.wikipedia.org/wiki/Luck

    A brick falling on a person walking below, therefore, is not a function of that person’s luck, but is instead the result of a collection of understood (or explainable) occurrences. Statistically, every person walking near the building was just as likely to have the brick fall on them.

    Kejatuhan bata bukanlah fungsi apa yang dipikirken seseorang, apakah ia berfikir ia orang yang beruntung atau bukan, tetapi matarantai kejadian yang bisa dijelasken. Yang menjadi pertanyaan adalah, (a) apakah seseorang yang merasa beruntung memutusken liwat jalan lain karena ada semacem perasaan bahwa liwat situ bisa kejatuhan bata? Atau, (b) karena ia tidak kejatuhan bata lantas melakuken post hoc, merasa sebagai orang yang beruntung SESUDAH (post) ada orang kejatuhan?

    Contoh lain, kita terjebak macet dan ada simpang. Kita ragu2, mau belok atau terus? Jangan2 kalo belok mbalah lebih macet? Apakah benar kalau kita berfikiran beruntung kita membuat keputusan yang tepat ataukah karena ndilalah keputusan tepat kita lantas post hoc : keputusan benar karena kita adalah orang yang beruntung?

    Saya pikir ini mirip doa. Jika berdoa dan lulus, kelulusan bukanlah akibat doa tetapi karena sipendoa menjadi lebih pede. Ini disebut efek otosugesti atau plasebo. Dalam hal ini, doa berdampak langsung. Kesimpulan ini didukung riset yang menyimpulken bahwa untuk sakit2 ringan memang benar doa mempercepat kesembuhan. Tetapi untuk sakit berat, doa mandul. Doa juga mandul kalau mendoaken pihak lain.

    Identik dengan itu, orang2 yang merasa beruntung barangkali benar lebih beruntung untuk keberuntungan ecek2. Untuk keberuntungan besar, teori wiseman mandul. Kebalikan dari wiseman adalah murphy law : f anything can go wrong, it will. Yaitu orang2 yang ‘merasa’ selalu dirundung kesialan. Misalnya antre tiket, pas didepan loket tiket abis! Kesana kemari selalu bawa payung dan ndak pernah hujan. Pas ndak bawa, … hujan! TV rusak, pas ngundang tukang serpis, TVnya ndak rusak. Begitu tukang pergi, rusak lagi. Bisa jadi itu karena mindsetnya sial atau post-hoc. Sulit bagi kita untuk mengetahui.

    Andrew Matthew dalam bukunya being happy berteori segendang sepenarian dengan wiseman : orang2 yang mindsetnya hepi, akan mendapatkan kebahagiaan lebih dari yang mindsetnya ndak hepi. Misalnya kecopetan. Orang yang mindsetnya hepi akan bilang, untung hanya dompet yang ilang, deposito yang nilainya lebih besar ndak ilang 😉 Yang mindsetnya bukan hepi, akan mengumpat2. Modus operandi seperti ini ada pada kultur Jawa yaitu budaya ‘bejo’ yang maknanya adalah beruntung jika menghadapi kesialan. Misalnya ketabrak motor bebek, ia akan bilang : untung ndak ditabrak mikrolet. Seseorang di dipotong gajinya lantas bilang, untung bukan di phk. Seseorang ndak lulus dan bilang : untung tahun depan ada kesempatan lagi.

    Sifat seperti ini ada baiknya ada buruknya. Baiknya ia hepi, tidak mudah stres, iklas. Buruknya, ia tidak belajar dan bisa mengulang2 kesalahan. Seorang yang tidak memiliki sifat ‘bejo’ itu akan stress ketika mengalami apes. Sisi baiknya, ia lebih ati2 sehingga bisa menghindari apes.

    Demikianpun dengan teori wiseman, ada sisi baiknya. Ia menjadi lebih optimistik, lebih legowo menghadapi kesialan, dll. Sisi buruknya, ia menjadi pasif dan mistis. Berharap keberuntungan dan kurang tergerak/semangat untuk mengandalken metode konvensional (kerja keras, rajin, ati2, prepared). Maka saya menyimpulken, agak prematur karena belum baca bukunya, teori wiseman ADA BENARnya. Untuk keberuntungan ecek2, itu mungkin sekali. Dalam banyak kasus, teori wiseman akan mandul. Yang terjadi adalah post-hoc, pola pikir mistis.

    Pada akirnya teori wiseman maupun andrew matthew basisnya adalah positive thinking : lebih optimis, lebih merasa beruntung, lebih hepi.

    Saya cenderung berpegang pada resep kuno : luck = pereparation + opportunity. Opportuniti adalah sesuatu diluar kendali kita, hanya preparation yang bisa kita lakuken. Kedua, seseorang yang prepared akan bisa melihat opportunity lebih banyak katimbang yang ndak prepared.

  6. Setiap aku punya keberhasilan.. aku biasanya ngerasa beruntung..
    Tapi kalo aku gagal.. pasti aku ngerasa kurang kerja keras karena aku yakin bisa berhasil kalo usahanya ditambah..

    Akunya yang kurang pede atau terlalu pede ya?

  7. “# Menurut penelitian pesikologi juga, lebih banyak orang yang akan terinspirasi untuk sukses oleh sebuah kisah kesuksesan ketimbang terinspirasi oleh menghindari kegagalan. Kisah kegagalan hanya diperlukan bagi orang yang sering merasa gagal. Sehingga berteman dengan orang yang sukses akan mengajak diri kita ikutan sukses. Namun ini jangan diartikan menjadi kalimat jangan berteman dengan orang yang sedang kesusahan looh. Memilih situasi atau teman memang perlu untuk membuat mood yang baik di lingkungan baik.
    # masih banyak yang lain kayaknya …””

    WAH terutama ini pakde…bener sekali..pun…
    makanya senang baca2 blog-nya pakde biar ketularan sukses…hehe..maksudnya karena org sukses mungkin lebih banyak ilmu dan informasinya pakde…beda sama berteman sama org yg pikirannya negatif teyuss ga da informasinya lebih banyak makan hatinya…haha…..yg ada hati kita juga ikut keruh..pikiran tdk lagi bisa menerima yang positif2 hasilnya sudah keliatan…yg keluar dari kita juga banyakan yg negatip…positipnya berteman dgn banyak tmn juga variatip…ada yg plus dan negatipnya…jadi tergantung orgnya ya pakde…kalo plus manfaatnya banyak…klo negatip yaa diambil positipnya/hikmahnya aja….

  8. Menurut saya, beja/bejo itu tidak bisa dicari. Artinya beja itu bukan hasil jerih payah, bejo itu itu pemberian. Pemberian (full) dari yang di atas. Orang tidak bisa mencari “bejo”, tetapi orang bisa mendapatkan bejo. Mungkin hampir kaya hidayah. Cuman bejo itu konteksnya “jawa” banget. Itulah kenapa beja/bejo bisa dalam konteks keberuntungan dan kegagalan.

  9. Dari diskusi ini, aku dapatkan istilah bejo, pattern, prepare, luck. Kalau ilmu gathuke mas udin a=1, b=2 lst. Berarti kalau dijumlahkan artinya bisa persen benere:

    bejo karena “luck” bernilai 47%
    bejo karena “prepare” bernilai 79%
    bejo karena “pattern” bernilai 94%

    coba kalau

    bejo karena “attitude” bisa bernilai a=1+t=20+t=20+i=9+t=20+u=21+d=4+e=5=
    100%

    Dadi kalau dilihat ulasannya:
    1) bejo=luck prosentasinya kecil, ini hanya dapat diperoleh oleh seseorang yang mendapatkan anugerah. Wong sing pinter nyanyi (anugerah) gak perlu sekolah dhuwur2 untuk menjadi sukses (ukurannya uwang).

    2) Gak seperti aku ini, gak punya keahlian khusus ya sekolah sampai s1 s2 s3 sampai es teler… Aku harus prepare segalanya untuk mencari bejo. Tapi untuk yang ini hanya tahu formalitas saja. Sekolah untuk mencari “bejo”. Wah bejo kowe iso sekolah, punya pangkat dst.. Lha aku ini tak ada kesempatan sekolah..nah..

    3) Untuk yang ini mencari bejo karena belajar dari orang sukses. Tahu rahasianya orang sukses. Baca buku sana sini untuk menjadi sukses. Sehingga didapatlah pattern-nya. Seperti kalau main forex, tahu pattern secara teknis ada kemungkinan besar untung.

    4) Nah yang ini lain, attitude. Selalu bersikap optimis, tidak ngeluh terus. Positip thinking, Menerima dan mensyukuri apa yang diberikan. Selalu berusaha. Mudahan membentuk pattern, segala sesuatunya di prepare (usaha) dan akhirnya yang di atas memberi luck. Ada pepatahnya kan berakit berenang ketepian…

    Nah tergolong yang mana ya?

    salam prambanan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: