Oleh: Rovicky | Februari 9, 2008

Pendidikan tetap perlu, walaupun tidak menjamin mendapat pekerjaan.


00

Sebuah judul artikel berita di Kompas sangat mungkin mengundang pengeliruan dan membikin orang malas belajar. Bagaimana tidak judulnya secara tegas menyebutkan “Makin Tinggi Pendidikan Makin Gampang Menganggur”. Haiyak judul kok kontroversi gitu, bikin orang malas sekolah.

😦 “Wah Pakdhe, ini judulnya memang bikin kelirumologi ya ?”
😀 “Betul Thole, koran memang tidak mau dimintakan tanggung jawab soal kemajuan bangsa, walaupun mereka tahu dan mampu merubah nasib bangsa”

Kalau ditelaah lebih lanjut sebenarnya koran-pun mampu memberikan judul yang lebih positip atau netral. Misalnya “Semakin tinggi tingkat pendidikan semakin besar keinginan mendapat pekerjaan yang aman“. Namun nantinya akan berujung pada adu argumentasi juga, lah iya kalau dengan judul dibaca dan mampukah pembaca mencerna dengan baik ? Disinilah memang nilai jual sebuah judul artikel atau judul berita. Selalu memiliki dua sisi yang bertentangan.

Padahal soal perbedaan cerpen Korea-Indonesia itu koran Kompas juga menuliskannya sendiri

”Cerita begitu mengalir, saya senang. Penulis cerpen Korea menyampaikan persoalan tidak sambil lalu. Permasalahan yang diangkat sangat kuat. Sedangkan cerpen Indonesia ditulis hanya untuk kepentingan surat kabar yang panjangnya dibatasi maksimal 11.000 karakter. Ini bahaya,”

Kalau dibenturkan bisa jadi dua kubu. Ide yang kesampaian atau dampak yang ditimbulkan ? Wah pertanyaan ini mestinya tidak ditujukan kepada yang mengelola koran, ya ?
Wis ah ! … ini bukan bicara soal koran tetapi bicara kelirumologi saja.

Kelirumologi

Seringkali di Indonesia ini memang terjadi kelirumologi, banyak contoh-contoh lucu soal kelirumologi ini. Salah satunya yang ditulis oleh Kompas diatas. Looh apa iya pendidikan menjadikan gampang menganggur, sebenarnya (mungkin) bukan itu maksud tulisan kompas, tetapi karena judulnya sudah di-kelirumologi-kan, akhirnya orang (pembaca) akan dengan mudah mengatakan “Tuuuh, makanya ngapain sekolah ?“. Dimana akhirnya mental untuk belajarpun berkurang. Apa iya maksudnya kompas mengajarkan untuk tidak usah belajar atau tidak usah sekolah ?. Tapi yang jelas dua judul artikel Kompas diatas memiliki dua buah implikasi negatif tentang Indonesia. Iya ga ?

Lain lagi dengan Banjir Jakarta. Apa penyebab banjir Jakarta. Wah itu karena banyak sampah, soalnya yang buang sampah sembarangan. Lantas muncul teriakan, “Banjir di Jakarta itu masalah budaya membuang sampah !“. Looh wong jelas banjirnya itu sudah terjadi sejak jaman Jakarta masih dilalui delman dan kuda kok. Geolog tentunya mudah melihatnya ketika melihat endapan dibawah Jakarta itu endapan sungai. Atau endapan-endapan yang menggunakan air sebagai medianya. Ya mesti saja itu daerah aliran air, dan sudah ada banjir sejak dahulukala. Demikian juga penggunaan bantaran sungai untuk perumahan, kalau bantaran sungai itu kebanjiran tentunya bukan karena sampah, walaupun setelah banjir pasti sampah berserakan.

Yang lebih payah adalah pameo “Banjir itu masalah budaya!” … Whaduuh tugas Menteri Budpar sekarang ngurusi banjir juga ? …Lah kok enak banget jadi Gubernur Jakarta ya ? Whalllah !!!

Termasuk juga ketika ada yang bilang “Korupsi itu masalah budaya!“. Yang pasti korupsi itu masalah kriminal, itu tugasnya Pulisi !

Halllah kok menteri kebudayaan semakin repot saja. Kapan Menteri Budpar ini sempat ngurusi Visit Indonesia Year 2008 ?

Tetapi menyangkut soal berita di koran-koran, saranku tetep saja Pingin Sukses : Jangan Baca Koran Pagi Hari !”


Responses

  1. haiyah,, memang banyak sekali kelirumologi antara judul dan hal yang dimaksudkan.
    saya sendiri kadang salah beli buku padahal udah baca halaman belakangnya, slh juga si ga cari resensi dulu, tapi kalo tiap beli buku cari resensi terus ya…gimana…(gpp jg siy :D).
    mari..

  2. “koran memang tidak mau dimintakan tanggung jawab soal kemajuan bangsa, walaupun mereka tahu dan mampu merubah nasib bangsa”

    aq suka kalimat ini, keep post pak’

  3. Suatu media entah koran, radio atau televisi pasti selalu ada liputan2 yang terkadang mengandung sebuah kontroversi seperti artikel kompas tersebut, mungkin semua itu dilakukan untuk mencari ketenaran belaka, mungkin pengen disorot dan menarik perhatian, atau suatu pemberontakan dalam hal ini kualitas dunia pendidikan kita atau bahkan sistem rekruitmen di indonesia yang terpatok pada IPK 3 keatas, terus yang IPK nya di bawah 3 bahkan dibawah 2.75 kemana?
    banyaknya pengangguranlah yang mungkin ide utama dari si penulis koran tersebut, itu menurut saya lho mudah2an aja salah. lhooo kok ngono.

    wah kulo niki sakjane nggih prihatin kok katah sanget pengangguran wonten indonesia.

  4. saya juga ngerasa koran sekarang bahasanya emang sengaja di buat heboh om.. walau mungkin itu bukalah hal yang sebenarnya di bahas di dalam isinya.. dengan tujuan biar bisa bersaing sama media elektronik..tapi kayaknya gak elektronik ato cetak sama aja deh.. banyak yang tujuannya lebih buat cari rating daripada buat gimana caranya benerin kepribadian bangsa.. bukannya sok tau aku.. jujur aku ngerasa kadang peraturan buat pers masih perlu buat ngatur media ato pihak2 yang asal gitu…
    bener gak om? ^-^


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: