Oleh: Rovicky | Januari 8, 2009

Bisakah Umat Islam Bersatu ?


Diskusi threat ini ternyata cukup lama di Mailist Muhammadiyah. Kembali saja ah …  ke judul thread ini Bisakah umat bersatu. Diskusi ini berasal dari tulisan di Republika tetapi konteksnya saya kaitkan dengan problem kini di negeri lain.

Ternyata ada hal yang sangat menarik, karena saya baru saja mengalami atau mengamati fenomena itu di depan mata dalam minggu ini. Dan sangat erat berkaitan dengan pertanyaan ini serta kasus yang sangat juga berhubungan.

Ini sebuah contoh fenomena saja.
Kalau emang terjadi ya mohon maaf.

Ada sebuah hajatan untuk mengadakan kajian (pengajian) yang isinya kepedulian kepada (maaf) pembantaian kaum Palestine di Jalur Gaza. Ada beberapa kelompok yang ingin menyelenggarakan pengajian bergengsi ini ini. Namun ntah mengapa niatan mulia ini menjadi sebuah ‘perebutan’ (maaf) bendera yang akan dibawa dalam pengajian ini. Siapa yang berhak menyelenggarakan, siapa yang berhak ngeklaim sebagai penyelenggara dan siapa yang hanya menjadi tamu ?

Whos incharge ?

Soal nama penyelenggaraan hajatan mulia (pengajian) menjadi penting, telah dan mampu menggeser niatan mulia menjadi sebuah ajang adu posisi. Mungkin kasusnya memang tidak se ekstrim itu. Tetapi saya melihat adanya embrio perpecahan.

Saya merasakan hal tersebut mirip sekali apa yang terjadi di Gaza. Fatah maupun Hamas keduanya jelas-jelas berniat mulia. (Mungkin) Tidak ada satupun diantara mereka yang berniat tidak benar. Mereka ingin sekali merdeka dari penjajahan. Namun benih-benih perbedaan ini ketika berada dalam kondisi tertekan berubah menjadi permusuhan.

Secara kebetulan saya pernah menulis (eh mendongeng) tentang bagaimana perilaku perbedaan antara kelompok yang tertekan dan kelompok yang terbebas. Secara sepintas saya tulis dibawah ini. Detailnya sila baca saja di link yang saya berikan.

Survival Mode kelompok tertekan.

survival-mode

Dalam kondisi terbatas laju perahu sangat rendah

Suvival mode

Walaupun tujuannya hanya sedikit berbeda, individu pada kelompok yang tertekan ini akan saling berhadapan. Mereka berubah menjadi berlawanan. Tujuan akhir menjadi terdistorsi. Komunikasinya saling mengadu argumentasi. Simbiose mutualis tidak terbentuk dan bahkan berpotensi lebih parah kalau keterusan menjadi saling mematikan.

Akhirnya jalan sekoci jauuh lebih lambat karena energinya saling meniadakan.

Develop/Growing Mode kelompok yang terbebas

develop-mode

Dalam kondisi serba kecukupan laju perahu sangat cepat. disebut Develope Mode / Growing Mode

“Develop Mode / Growing Mode”

Ketika resources berlimpah. Karena sadar bahwa tujuan akhir itu sama, maka individu dalam kelompok tersebut akan muncul interaksi yang komunikasinya dalam bentuk negosiasi.

Karena simbiose mutualis antar individu menghasilkan laju kapal yang lebih kencang walaupun energi (individu) yang tersedia lebih kecil dibanding yang diatas.

Bagaimana dengan yang terjadi di Gaza (Palestine) ?

Fatah dan Hamas keduanya dalam posisi tertekan, tentusaja, wong ditekan Israel dan bahkan ditekan negara adidaya lain atas nama UN. Bahkan secara fisik terkendala oleh kebutuhan hidup makan-minum dll. Karena pemikirannya tertekan inilah maka mereka yang berada di Palestine lebih mementingkan diri sendiri. Karena pemikiran mereka saat ini “survival“. Mempertahankan hidup.

Yang menurutku perlu dipikirkan buat rakyat Palestine adalah pembebasan berpikir. Banyak yang menginginkan Palestine untuk bertempur. Saya sendiri kurang setuju dengan tulisan yang mengatakan yang dibutuhkan Palestine itu senjata. Menurut saya yang dibutuhkan Palestine itu perasaan bebas. Perasaan ini bisa saja dimulai dari bebas dari rasa lapar dan haus, dan bebas dari rasa ketakutan serta bebas dari pemikiran terbatas.

Betapa pentingnya berpikir bebas.

😦 “Looh maksud Pakde manusia harus buebasss, bass gitu ?”
😀 “Halllah lah kok trus mleset ekstrim gituu ? Trus liberal gitu ?. Nek mikir ki alon-alon thole, pelan-pelan saja”

Wis ah diteruskan nanti. Si Thole udah mulai mau urakan lagi.
Kalau bicara soal kebebasan seringkali mudah terpeleset … 🙂

hef e nais dey !!

Bacaan terkait : http://rovicky.wordpress.com/2008/12/21/kreatif-itu-bakat-atau-bisa-dipelajari-creative-mindset/

Iklan

Responses

  1. pancen ngunu kui pakde
    jok kaget ae

  2. […] Ada sebuah hajatan untuk mengadakan kajian (pengajian) yang isinya kepedulian kepada (maaf) pembantaian kaum Palestine di Jalur Gaza. Ada beberapa kelompok yang ingin menyelenggarakan pengajian bergengsi ini ini. Namun ntah mengapa niatan mulia ini menjadi sebuah ‘perebutan’ (maaf) bendera yang akan dibawa dalam pengajian ini. Siapa yang berhak menyelenggarakan, siapa yang berhak ngeklaim sebagai penyelenggara dan siapa yang hanya menjadi tamu ? Baca Lanjutannya… […]

  3. kulo mumet nek mikir palestina,,hmmmm

  4. Jawaban atas pertanyaan pada judul artikel ini apa?
    Bisa bersatu ataukah tidak bisa?

  5. Mas Shodiq,
    Kalau aspek diatas disetujui ya tentunya bisa saja, Umat Islam bisa bersatu. Tetapi mau atau tidak itu terserah umat Islamnya.

    Kalau ditengok dari kajian diatas, maka syaratnya umat Islam harus memiliki rasa “kebebasan”, memiliki rasa toleran terhadap perbedaan.

    Kebebasan ini bisa bebas untuk berpikir (freedom), bebas melakukan sesuatu, serta bebas dari keterbatasan. Apakah Islam memberikan itu semua ? Saya rasa iya. Keterbatasan atau pembatasan selama ini saya kira hanya soal pemahaman yang berbeda saja.

    Pengetahuanku tidak banyaksoal Islam. Tapi saya tahu dalam soal ibadah (ritual), segalanya dilarang kecuali yang ada suruhannya. Artinya kita tidak dipaksakan, apalagi ada pernyataan sesuai kemampuan. Kata tidak dipaksa akan mengandung keleluasaan. Bukan keterbatasan.
    (please jangan diplesetkan trus melawan untuk tidak mau melakukan looh)

    Sependek pengetahuan saya lagi, dalam soal muamalah segalanya itu boleh dalam Islam kecuali yang dilarang. Kalau kita konsentrasikan pada ke”boleh”annya maka yang muncul “mind of freedom”.

    Ajarannya sendiri mengatakan toleransi (sesama), tentunya toleransi dalam cara bukan alasan untuk menjadikannya saling berhadapan, kan ?

  6. Terima kasih, pertanyaan saya sudah dijawab dengan sejelas-jelasnya.
    Keep on writing.
    Peace. 🙂

  7. Salam Pak Dhe,

    umat Islam ini memang sering keras ketika berhadapan dengan sesama Saudaranya, tapi jadi berpikir panjang ketika bertemu dengan musuhnya.

    di Palestina, masih ditambah adanya politik ala “devide et impera”, jadi [entah gimana caranya] diusahakan supaya HAMAS dan FATAH selalu tidak akur

    akibatnya ya DAMAI di Palestina gak muncul-muncul

    di Indonesiapun begitu, kita ini sering ribut membicarakan antara mengirim sukarelawan atau cukup kirim duit saja [untuk dijadikan makanan ataupun obat2an], sehingga lupa bahwa palestina terus dibombardir

    makasih pencerahannya ya pak Dhe

    salam

  8. Saya hanya bisa mengatakan…

    Bahwa tinggal sejengkal lagi kemenagan akan datang….

    Keadilan dan kedamaian akan kembali datang untuk Umat Manusia di muka bumi ini….

    Islam akan kembali bersatu ……Yaitu yang akan ada hanya Islam Indallah yang berlandaskan Tauhidullah wa Tauhidurrasul dan berpedoman kepada Ajaran yang Lurus…………….

    Dan akan kembali murninya Ajaran dari Rosulullah Saw yaitu Islam tanpa Aliran. Tetapi yang ada hanya satu Islam…. ya… Islam. dengan Mazhab yaitu Mazhab Rosulullah, dengan Tarikat yaitu Tarikatullah, dengan Zikir yaitu Zikrullah dengan Ma’rifat yaitu Ma’rifatullah dan dengan Islam yaitu Islam Indallah…….

  9. Pak dhe udah bebas bass bassss berpikir, maka apa saja yang di dengar, dilihat dan dialami jadi mudah mencari solusi, bukan gebrak sana gebrak sini dan hasilnya null, nihil. Ngomong bersatu itu gampang apalagi bercerai suami istri yang 20 tahun bisa CERAI BERAI, bangsa yang sudah merdeka 63 tahun mudah diobok-obok hanya oleh perbedaan paham, tapi satu bangsa dan tanah air. Ya, siapa saja bisa bersatu asal hati, pikiran dan perasaanya memiliki rasa empati dan simpati yang satu. Mantap pak dhe teruskan kekebebasan berpikir kita kembagkan biar perahu cita-cita pribadi, keluarga, bangsa dan agama kite berjalan maju mencapai cita-cita yang damai sejahtera. Tidak perduli berbeda warna kulit agama dan Ras.
    Cerdas dan cemerlang pikiranmu pka Dhe.

    Terimakasih sekali lagi.

    Salam,

    Soparmaruli

  10. Assalamu’alaikum, solidaritas itu semestinya bisa dilakukan masing-masing saja kalau memang sulit. Sudahkah Anda sendiri menyumbang untuk Gaza? Jangan-jangan hanya berkomentar saja tapi tidak berbuat. Gimana?

  11. assalamualaikum pak…
    pak anda dari mana asalnya sebenarnya???
    sip pak….
    jadi yang nyantai di taruh disini…
    hehehehe…

    –> Saya ini asline Jogja. Jogja Asli 🙂

  12. Hamas VS Fatah pancen wis kawit mbiyen to Pakdhe?… Mbiyen pas isih siji, PLO, si Israel menyeponsori Hamas supoyo merongrong PLO… Begitu saiki Hamas menang lan balik nglawan Israel, saiki sing disponsori Fatah… Ceritane persis koyo Afghan & Irak…

  13. […] Bisakah Umat Islam Bersatu ? […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: