Oleh: Rovicky | Maret 5, 2009

Wakil Golput – harus walkout setiap ada voting !


white_flag1

Partai hemat ndak perlu biaya kampanye

Seringkali banyak yang menggerutu soal fenomena golput yang juga adanya fatwa tentang tindakannya. Namun juga seringkali yang dipermasalahkan karena keterwakilan yang akhirnya termarginalkan … hadduh bahasanya sebenernya ya terabaikan gitu lah.

Pemilu hanyalah salah satu cara memberikan atau membagikan porsi keterwakilan dalam proses pembuatan keputusan karena tuntutan demokrasi. Nah, keterwakilan kita apakah harus disesuaikan dengan suku, dengan agama, atau dengan kekayaan dsb itu bisa menjadi dasar yang disepakati. Namun, kampret-nya eh sialnya, dalam proses keterwakilan demokrasi ini dipakai partai untuk menjadi wadah pembagian porsi keterwakilan.

Adanya partai-partai inilah yang menjadikan proses pembagian kursi utk menunjukkan keterwakilan menjadi rebutan, runyem dan bikin frustrasi !

😦 “Lah hiya Pakdhe bikin partai dongeng aja. Isinya menjual mimpi”

Dan cilakanya proses rebutan ini dilakukan dengan pesta yang disebut pemilu.
Apakah hanya pemilu saja ?

Sakjane ya enggak. Jaman dulu dalam DPR/MPR itu bisa saja ada “wakil daerah“. Dimana setiap daerah memiliki wakil yang membawakan daerahnya. Juga mungkin juga ada wakil cendikia sekian prosen, juga ada wakil tukang bakso, wakil tukang becak, wakil ptani dsb dst … Nah kalau mungkin juga ada wakil agamawan. Tentunya fraksi atau prosesntasenya bisa saja disesuaikan dengan si komunitas itu.

Slompretnya lagi …. proses yang non pemilu ini juga kadang masih dibumbui dengan kepartaian …. dan sepertinya emang sisitem keterwakilan dengan partai ini yang bikin runyem. Semua keinginan masuk menggunakan partai. Ada Partai berdasar agama (ndak perlu disebut), ada yang berdasar keprofesian (misal partai buruh), nasionalisme dll. Sehingga proses keterwakilannya menjadi mbundet ! Ya wis lah yang mau ikutan mbundet ya mbundet aja dewe disana.

Lah kalau emang golputnya banyak kenapa ngga sekalian bikin wakil dari partai putih, ya ? alias NON PARTAI ! Jadi jumlah kursi non partai disesuaikan dengan pemilih golput ! Tugas wakil golput ya sama, ikutan sidang dan menjadi anggota komisi-komisi dan lain-lain tapi hanya harus walkout setiap ada voting

Nah syapa mau aku wakili, sebagai wakil golput ? Ngga perlu biaya kampanye, ndak perlu kantor khusus. Pokoke hemat tapi bukan mlarat !

Silahkan pilih dibawah sini :

😦 “Waaah pakdhe kayaknya lagi runyem ya” 😛

😀 ” ….”

Iklan

Responses

  1. Seharusnya MUI tidak hanya mengharamkan golput, tapi juga mengharamkan memilih pemimpin yang akan menjalankan hukum dan tatanan masyarakat sekuler dan liberal yang tidak diberkahi Allah.

    Silahkan lihat di:
    http://sinauislam.wordpress.com/2009/03/01/keutuhan-dan-kesempurnaan-islam/

  2. Ide cemerlang Pakde…
    Cuma penerapannya susah juga ya. Jalannya panjang.

  3. hmm… gimana kalo suara golput diitung, pakdhe? jadi kl jatah kursi di MPR 500 org, trus yg golput 40%, brarti 200 kursi angus. lumayan kan ngirit APBN 😀

  4. Di Indonesia “Voting” merupakan salah satu kelemahan ketika mengaplikasikan sistem demokrasi, voting ini yang paling mudah dipelintir. Ntah dengan membeli swara (ansich dengan duwik), ataupun pemaksaan sehingga seolah-olah swara terbayanyak adalah yang terbaik.

    Kelemahan aplikasi demokrasi dengan voting inilah yang dimanfaatkan oleh partai-partai dalam menggaet kursi. Salah satunya adalah pasal-pasal di UU Pemilu (pasal 200 yg menyebutkan tidak mengenal golput). Jumlah kursi “dipaksakan” tetap. Sehingga golput menjadi tidak terwakili. Disinilah kata-kata “keterwakilan” dalam pengambilan keputusan dalam sistem demokrasi menjadi cacat.

    Apakah demokrasi yang sempurna ?
    Jelas tidak, tetapi saya sendiri yakin, demokrasi merupakan sistem pengambilan keputusan yang terbaik saat ini.

    Namun demokrasi juga bukan barang skaral yang tidak bisa dirubah. Sistem “keterwakilan” dengan pemilu mestinya bisa diperbaiki. Dan secara guyon saya mengusulkan usulan yang usil dengan membuat wakil golput .

  5. jadi bukan yang golput yang salah ya, tapi sistem yang tidak memberi kesempatan perwakilan dari pihak golputer.

    *jadi yang haram sistem politik Indonesia dung*

  6. Wah ikutan golput…. :mrgreen:
    Darim pada pusing mikirin calonnya yang ga jelas baik buruknya…

  7. Definisi golput jg masih belom jelas pakdhe…
    Gak nyoblos krn gak terdaftar?
    Gak nyoblos krn gak sempat ke TPS, sibuk?
    Nyoblos ttpi sengaja bikin surat suara gak sah?

    Ato emang yg dari awal udah apatis kalo pemilu bisa bikin perubahan….jadi gak bakalan ikut nyoblos dg alasan apapun.

  8. Wah waduh…. kalo yang nggak nyoblos disebut GOLPUT, berarti yang nyoblos disebut GOLTAM (Golongan Hitam) dong hehehe……….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: