Oleh: Rovicky | Mei 13, 2009

Wartawan itu tidak tahu


reporter-716750[1]Ini tulisan ringan mengapa wartawan sering dituduh yang ngga bener. Dibawah ini diskusi dari kawan dari mailist yang rasanya pantas untuk dibagi ke kawann lain.
Gini kata kawanku itu :
> hal ini sudah pernah dilakukan. Tapi mengapa pemberitaan miring
> tersebut tidak berkurang ?. He… he… katanya sih ada juga
> agenda / kepentingan tertentu dan UUD.
Waaaks ….. Saya berpikir positip saja.
Wartawan itu “tidak tahu”.
Kita yang merasa tahu harus memberitahukan ke mereka.
Pengalaman beberapa kali berjumpa dengan wartawan ternyata mereka emang banyak yang nggak ngeh alias ngga tahu dengan istilah-istilah dalam perminyakan. Ini baru permulaan. belum bagaimana sistem itu berjalan. Belom lagi masalah PSC term, bagi hasil Cost recovery, auditing dll.
Mereka, wartawan-wartawan ini emang bener-bener ngga tahu ! Mereka lebih sering hanya menuliskan apa yang mereka denger dan mereka lihat saat itu juga. Maaf kalau agak merendahkan kawan wartawan, ini hanya pengalaman pribadi saja, yang mungkin sangat sempit sudutnya.
Artinya tugas pekerja migaslah yang harus “terus-menerus” menjelaskan dan mensosialisasikan apa itu istilah-istilah “aneh” dalam migas. Istilah dalam dunia ini termasuk migas tentunya, “sangat dinamis” dan “terus berkembang“. Dan saya sendiri sering keteteran dengan perkembangan istilah ini.
Segalanya berubah dan berkembang.
Adakah yang ngerti apa itu istilah “value chain” ?
Dulu sih aku tahunya bagian pembelian, trus ada namanya procurement, belakangan berkembang “supply chain“. Belum lagi ditambah istilah “e-commerse“. Mboh apa lagi nantinya. Semua istilah-isilah aneh itu bertambah dan berkecamuk dibenakku setiap saat.
Dulu. Jaman masih sekolah SMA Teladan Yogya, setiap membuat proposal atau membuat kegiatan organisasi sering ada yang namanya “maksud dan tujuan”, belakangan berkembang istilah “visi dan misi”, trus mboh apalagi nanti perkembangan dalam menyatakan kata sederhana “aku mau ngapain, ya“.
Nah yang diatas itu perkembangan dari sisi lingkungan bisnisnya serta tehnis didalamnya.
Trus bagaimana dengan manusianya ?
Wartawan yang saya jumpai (dari media yang sama) orangnya selalu berbeda-beda dari tahun ke tahun. Aku dulu njelasin apa itu cadangan migas kepada si Fulan sampek berbusa-busa dengan panjang kali lebar …. eh ternyata Fulan saat ini sudah beralih profesi menjadi seorang design grafis yang sukses. Karena dia ternyata lebih suka grafis ketimbang menulis. Ya Fulan ndak salah, wong namanya mengejar cita-cita. Jadi wartawannya saja sudah berbeda !
Wartawan yang bagus tentunya banyak yang memiliki ilmu itu. Dan itu bisa dilihat pada artikel atau kolom-kolom para wartawan senior. Biasanya kolom “dari redaksi” atau kolom tulisan wartawan pakar yang ngilmiah lebih bagus dan kritis. Berita itu yang sering kita kutip dan disebarkan lewat mailist-mailist. Dimana berita-berita itu sering dibuat oleh wartawan muda yang mungkin sering keliru dalam mengutip. Dan kita yang kerja di migaspun lebih suka memfwd berita yang “njlegur” begini.
Bagaimana dengan diriku?.
Ya dulu aku masih anak bawang hanya sekedar tahu ini itu. Dan akupun sudah bergaya menjelaskan ke kawan dari media. Tentusaja aku sendiri keteteran dengan perkembangan istilah tehnis yang (seharusnya) aku kuasai dalam bidang eksplorasi khususnya geosains. Belom lagi istilah baru dari kawan sebelah juga berubah dan berkembang.
Jadi, walaupun ini mungkin jarang dijumpai, tidak mesti bahwa wartawan media itu hanya UUD atau membawa agenda kepentingan. Tidak mesti bahwa Media itu hanya mau untungnya saja. Tergantung bagaimana kita menyikapinya. Kalau jujur, thread dari diskusi inipun sudah sangat “mengundang”, kan ?
Ini tugas terus menerus
Kalau menurut hemat saja penjelasan dari yang berwenang dan mengerti itu perlu dan harus dilakukan terus menerus, berulang-ulang dan mesti berkembang. Bukan hanya sekali dua kali dalam setahun. Toh mereka yang bekerja di bagian PR/PA emang digaji untuk itu, kan ?.
😦 “Belom lagi cara menjelaskan dengan sederhana kayak dongeng itu ya pakdhe ?”
😀 “Hallah nek kui terlalu panjang tulisannya malah ndak dibaca, Thole”

Responses

  1. Setuju pakdhe. Saya dan istri suka ngumpat-ngumpat TV kalo ngegosip profesi kami. Kadang-kadang juga ketawa-ketawa karena tampak sekali sebagian mereka gak tau apa-apa. kasihan sekali ..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: