Oleh: Rovicky | Juni 21, 2009

Debat Capres. Kita memilih raja, atau panglima ?


Indonesia itu tidak terbiasa berdebat, kanapa dipaksakan ada acara debat antar pasangan capres-cawapres dalam satu gelanggang ? Apakah debat itu merupakan syarat atau cara Indonesia dalam memilih pemimpinnya ? Kalau memang kita tidak terbiasa dengan debat, kenapa harus ada acara debat ?.

Kita memilih “raja”, bukan “panglima !”

0060-0807-2502-1544_A_Spartan_Gladiator_clipart_image[1]

Sejarah Indonesia sepertinya jarang atau bahkan tidak mengenal perang tanding dalam memilih pemimpin. Adu jago, bukan adu pemilik jago. Jago hanyalah gladiator (petarung) tetapi bukan mempertarungkan sang kaisar pemilik jago. Pemimpin modern saat ini adalah leader . Dan leader yang pas itu adalah orang yang punya kemampuan “to lead, to control, and to persuade“. Yang diperlukan di Indonesia yang sangat paternalistik ini, adalah seorang presiden yang menjadi panutan. Presiden di Indonesia itu semestinya seorang panutan dan mampu mempengaruhi anak buah atau rakyatnya untuk bergerak maju, mundur maupun berbelok dalam barisan yang disebut negara.

Mahapatih Gajah Mada adalah seorang panglima yang gagah perkasa menguasai Asia Selatan pada jaman Majapahit. Tetapi yang menjadi raja adalah Prabu Hayam Wuruk. Gajahmada sebagai Maha Patih atau juga ada yang menganggap setara dengan Perdana Menteri saat itu. Walaupun Gajahmada sebagai orang yang kuat saat itu, dia tetap loyal kepada Hayamwuruk sebagai sang Raja Majapahit.

Gajahmada adalah panglima, namun dia bukan raja.

Jaman Romawi dulu gladiator-lah yang turun gelanggang bertarung. Pertunjukan pertarungan kadang diselingi cerita pertempuran. Tentusaja pertarungan sering tidak imbang, mirip kampanye terselubung. Atau bahkan sebuah cerita rekayasa, dan reka pakasa. Dalam hal ini gladiator dipakai sebagai “jago“nya sang kaisar. Pertarungan atau pertunjukkan gladiator ini juga merupakan salah satu kampanye sang kaisar. Ini sebagai sarana untuk menunjukkan bahwa dia (sang kaisar/senator) memiliki jago yang kuat untuk mempertahankan negeri ini. Dengan demikian Sang gladiator ini akan sangat loyal dengan Sang Kaisar.

Kalau kita mengadu capres-capres itu untuk perang tanding di gelanggang maka sebenernya yang terjadi adalah sang capres menjadi gladiator partai. Capres-cawapres ini ketika dipertandingan didepan akan menjadi “Gladiator jadi-jadian“. Pada akhirnya capres-cawapres akan ngikut apa maunya partai. Loyalitas gladiator itu bukan pada pemilih tetapi pada tuannya yaitu partainya. Gawats !

Bisa jadi bukan ini mekanisme yang diinginkan dalam demokrasi. Demokrasi ini semestinya memilih pemimpin yang memiliki jago-jago, bisa saja calon meteri-menteri kabinetnya nanti. Calon-calon menteri ini memang sudah sewajarnya loyal kepada presiden. Dengan demikian adu jago adalah adu calom menteri-menteri kabinet yang akan disusun oleh pasangan Capres-Cawapres, seandainya mereka menang dalam pilpres. Debat jago-jago ini sekaligus bisa dipakai sebagai uji kelayakan bagi calon-calon menteri itu sendiri. Kalau dalam debat ini sang jago keok, maka capres bisa menggantinya nanti seandainya ternyata jagonya kalah.

Jadi mengapa kita masih ingin mengadu perang tanding ketiga capres-cawapres dalam satu forum ? Apakah syahwat kita akan terpuaskan ketika sang calon “raja” saling “berdarah-darah” dipermalukan oleh lawannya ? Seperti itukah kita sekarang, yang bersorak-sorai melihat jago-jago kita saling mematuk lawan dengan tajinya ?
Kalau iya, maka jangan kaget kalau mereka nanti loyal ke partainya bukan ke pemilihnya 😦

Howgh !

Iklan

Responses

  1. Kartu-kartu As sudah dikeluarkan … dan sepertinya, sudah mati semua. Saya persilakan mengunjungi Negeri Khayangan, moga dapat membangun format demokrasi yang adil. Salam.

  2. Tapi kita jg tidak memilih “Raja” Pak De. Kok Presiden seolah2 diistilahkan “Raja” ? Kan dibeberapa negara, Raja dan penyelenggara pemerintahan berbeda. So…Pilih “Raja” atau pilih “Presiden” ?

  3. “Raja” disini pakai tanda kutip 🙂
    Dahulu namanya raja, bisa saja kaisar, atau presiden. Tapi bukan pimpinan perang, kan ?
    Negara ini bak sebuah kapal, berjalan terus, emang kadang perlu perang kalau ada perompak, tetapi Nahkoda adalah pimpinan “perjalanan” kapal.

  4. Sori Om Rovicky… saya tidak setuju.. dan ngajak debat… 🙂

    debat adalah cara yang gampang untuk melihat kapasitas intelektual dan kemampuan seseorang untuk mengambil keputusan cepat..
    hal-hal tersebut merupakan sebagian dari hal2 penting yg diperlukan untuk menjadi pemimpin..

    kalau memang benar indonesia tidak terbiasa berdebat (yg menurut saya tidak benar), maka harus mulai dibiasakan.

    banyak hal yang bisa dilihat, dan dilatih dari belajar berdebat.. keberanian, percayadiri, berani bertanggung jawab atas ucapan, dll..

    menurut saya, budaya tidak mau berdebat sudah seharusnya dihilangkan di indonesia, justru didik anak2 dari kecil untuk bisa berdebat.
    kalihatannya budaya tidak mau atau menghindari debat itu masih berhubungan dengan tidak mau keliatan jelek dari luar, padahal didalam tetap mangkel dan mencak-mencak…
    ibaratnya fasad rumah dibuat full keramik, tapi tembok kiri-kanan-belakang full gedek…
    karena orang2 indonesia “susah” diajak berdebat, seringkali kesempatan hilang diambil rekan2 WNA yang suka debat. kecerdasan dan keluwesan mereka terlihat oleh manajemen sedangkan rekan2 WNI tampak melempem semua.. untuk ngejar ketinggalan rekan2 WNI bekerja dengan keras, lembur, etc.. tapi tetap gak keliatan ama bos2 karena gak pernah mau tampil…
    ujung2nya ngeluh: “bule2 kerjanya dikit gajinya gede..” etc..

    sampai kapan indonesia mau jadi orang yg selalu menghindar dari perdebatan? pulau diambil tetangga: monggo… WNI di-babakbelur-kan di luar negri: monggo… yang penting gak keliatan berantem, yang penting dari luar keliatan ramah..

    disclaimer1: sekedar uneg-uneg.. waktu SMA dulu kagum melihat teman2 yg suka ikut lomba debat.. pengen, tapi gak PD…

    disclaimer2: smuanya pendapat pribadi yg tidak bermaksud menjelek2an pihak manapun .. hehe..

  5. “Raja” Indonesia adalah “Rakyat”
    “Panglima” Indonesia adalah Presiden.

    Memang dari debat, JK is the best.

    Bagi pendukung SBY, ini menyedihkan untuk disaksikan

  6. setuju dengan wayan young…..pak rovicky……jangan diperbodoh rakyat kita dengan alur logika yang menyatakan karena rakyat kita tidak ada budaya debat maka, tidak perlu ada debat…..ini sama dengan analogi: karena budaya kita adalah budaya amuk (lihat sejarah kerajaan-kerajaan di jawa) dan saling tikam dari belakang maka lestarikanlah budaya amuk dan budaya saling tikam dari belakang….
    negara-negara demokrasi didunia pun dahulu tidak ada budaya debat, tetapi mereka memulainya….(ingat, budata debat yg dipopulerkan oleh socrates tidak menjamin yunani sekarang sebagai negara paling demokratis) sebaliknya Amerika yang asalnya adalah kumpulan narapidana dari inggris yang terbiasa dengan kekerasan sekarang menjadi kampiun demokrasi, apakah amerika dulu mengenal debat?……eropa yang monarki dan dikuasai oleh otoriterianisme gereja katolik di abad pertengahan, yang baru “beradab” sejak zaman renaissance abad pertengahan, pun apakah mengenal budaya debat? tidak…..tetapi mereka lebih dulu membiasakan hal ini dan sekarang mereka adalah negara-negara demokratis……
    sekarang saatnya lah kita mengenalkan kebiasaan baru untuk generasi penerus bangsa ini ratusan tahun yg akan datang dengan membiasakan budaya debat, bukan beraninya hanya bicara di belakang….dan ingat, dari debat bisa terlihat cara berpikir pemimpin kita, karena itulah kita memilih dia…..jadi jangan alergi debat apalagi menganalogikan presiden (negara demokrasi) dengan raja (negara monarki)…..salam……

  7. Debat merupakan salah satu adu argumentasi. Di Amrik dimulai dari rakyat yg memulai budaya debat. Kmudian pemilihan presidennya dengan acara debat juga. Di Indonesia maunya ngikutin Amrik tapi topdown. Sebuah cara terbalik.
    Saya rasa sebaiknya mulai dulu dengan rakyat yang terbiasa debat. Baru nanti pemilihan pemimpin dengan debat atau adu kepiawaian. Mungkin suatu saat nanti Indonesia juga bisa memiliki budaya debat. Tapi budaya yg berkesan baik semestinya dimulai dari bawah. Politikana Indonesia bukan karena kemauan rakyat tetapi kemauan politikusnya. Mereka mencekoki bahwa memilih pemimpin yg baik itu cara amrik. Padahal indonesia jauh berbeda dari amrik.
    Amrik didominasi pendatang, sedang indoneisa lebih banyak orang tempatan (lokal). Keduanya memiliki diversifikasi yg berbeda jauh perilaku serta mentalitasnya.

  8. bung rovicky…..rakyat sudah memberi contoh para pemimpinnya…..dalam organisasi-organisasi kemahasiswaan yang saya kenal, mereka sudah berdebat dalam memilih ketuanya. Ditingkat pemerintahan, sudah dimulai dengan acara debat untuk memilih bupati, walikota bahkan gubernur…..jadi sekaranglah saat yang tepat untuk melihat kemampuan debat calon presiden setelah tahun 2004 megawati sebagai salah satu capres menolak debat. Untuk tahun ini dan selanjutnya, acara debat sudah diamanatkan oleh legislatif kita yang notabene perwakilan rakyat. Rakyat Indonesia semakin cerdas jadi jangan dimundurkan lagi bahkan dilecehkan kemampuan logka rakyat kita sendiri…..

  9. Rovicky: Debat Capres. Kita memilih raja, atau panglima ?…

    Kalau kita mengadu capres-capres itu untuk perang tanding di gelanggang maka sebenernya yang terjadi adalah sang capres menjadi gladiator partai. Capres-cawapres ini ketika dipertandingan didepan akan menjadi “Gladiator jadi-jadian“. Pada akhirnya……


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: