Oleh: Rovicky | Mei 8, 2010

Belajarlah “bahasa” NeoLiberal !


Bagi negara, yg perlu dicari adalah seorang ekonom yg ngerti banget teori dan aplikasi ekonomi NeoLiberal tetapi berjiwa nasionalis. Jadi keluar  bisa memanfaatkan “bahasa dunia” yg sangat neolib dalam “berdagang“. Jadi Indonesia sangat perlu ahli NeoLib supaya tidak mudah “diapusi” ketika melakukan transaksi bergaya neolib.

Banyak yg meyangka Mahatir anti terhadap paham neolib. Tapi menurut  saya justru dia “sangat neolib” terutama strateginya keluar Malesa menghadapi negeri sekitarnya. Otaknya Mahatir  itu sangat neolib minded. Mahatir memang tidak mau utang pada IMF pada  saat krisis karena dia ngerti banget paham neolib, akhirnya beliaupun  mampu memimpin Malesa untuk melibas ekonom-ekonom indonesia yg “gagap”  berbahasa neolib, terasa gagu dan mudah “ditipu“. Makanya saham Niaga akhirnya terbeli oleh CIMB,  dll. sila baca ini http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/04/18/08402031/Investor.Malaysia.Incar.Bank.di.Indonesia. Itu bukti langkah gaya neolibnya Malesa keluar termasuk kepada Indonesia yang ekonomnya  “gagap”  dengan bahasa dunia global moderen saat ini. Bahasa NeoLib kurang  dikuasai oleh ekonom Indonesia.

Jangan bicara basket tahun 2010 ini.

Tahun 2010 ini dunia saat ini sedang demam “main bola“, lah ya jangan sesekali mencoba  bermain basket di lapangan ini. Kalau anda ikutan bermain bola dengan  gaya bahasa main basket maka anda akan dikatakan “hands ball“,  pelanggaran !!. Kalau anda nekat men’dribble’ bola ketika main sepak  bola anda akan dikatakan “sakit loe, ye !”.

Walau berdarah-darah, kalau kalah bisa dianggap salah !

Bahwa SMI ahli ‘bahasa’ neolib murutku ga ada salahnya. Yang penting  ditanyakan  adakah jiwa nasionalisme didadanya. Nah kalau SMI kalah bermain Neolib dilapangan pasar bebas itu juga salah satunya mungkin karena tidak adanya  dukungan dari dalam negeri ketika bermain dilapangan pasar bebas.  Akhirnya SMIpun bisa juga kalah dalam permainan di lapangan neolib. Dan  karena beliau dianggap ‘kalah’ didalam perpolitikan inilah beliau dipertanyakan  pembelaannya dan nasionalismenya. Walaupun SMI telah berdarah-darah, melawan tetapi kalah, akhirnya divonis salah … doh !

Soal Bank Century itu bukan sekedar peperangan Neolib vs Kerakyatan. Tetapi kenyataannya kisah itu hanyalah perebutan kursi dengan mengatas namakan anti korupsi.

KKG menuliskan begini :

“Mengapa skandal Bank Century banyak menimbulkan keresahan dan kemarahan?” Kasusnya sendiri tidak termasuk yang luar biasa. Apalagi kalau dibandingkan dengan ekses dan korupsi yang menyertai bail out besar-besaran ratusan bank dalam krisis tahun 1997-1998. Jumlahnya meliputi BLBI sebesar Rp. 144 trilyun yang oleh BPK dinyatakan bahwa sekitar 90% tidak dapat dipertanggung jawabkan. Kemudian penyuntikan bank-bank yang rusak tetapi sudah menjadi milik pemerintah ini dengan Obligasi Rekapitalisasi (OR) Perbankan sebesar Rp. 430 trilyun. Kalau surat utang negara ini dibayar tepat waktu, bunga yang harus dibayarkan sebesar Rp. 600 trilyun, sehingga kewajiban pemerintah minimal sebesar Rp. 1.030 trilyun. Namun kalau OR yang jatuh tempo diperpanjang tenornya, biaya bunganya membengkak. Angka Rp. 6,7 trilyun menjadi kecil kalau dibandingkan dengan angka-angka historis tersebut.

Sebenarnya yang harus diketahui dan disadari para anggota partai-partai itu adalah soal perebutan kursi. Itu semestinya dilakukan satu kali dalam lima tahun, bukan dilakukan selama lima tahun untuk rebutan satu kursi !

Kemampuan “berbahasa” bukan soal nasionalisme.

Mirip pengetahuan dan kemampuan Bahasa Inggris.  Apakah mengerti dan  ahli berbahasa asing menunjukkan ketidak pedulian pada budaya Indonesia ? Tentu saja tidak. Kelemahan berbahasa Inggeris dikalangan TKI kita  menjadikan “kekalahan” dalam berkomunikasi. Karena salah komunikasi,  maka yang terjadi adalah tuduhan “pelanggaran” pada TKI yang tidak  mengerti aturan dan perjanjian yg ditulis dengan bahasa “Inggeris“.

Salah satu bahasa NeoLib adalah basa kesepakatan (atau bahasa hukum),  isinya diantaranya komitment, perjanjian tertulis, denda terhadap  pelanggaran janji. Makanya Indonesia kalah dan dianggap melakukan pelanggaran komitmen pada kasus Karaha Bodas.

Neolib & Kerakyatan

Kalau emang mau menjadi seorang negarawan bagi negeri ini, mestinya kalau bertindak ke luar (negeri) akan menggunakan cara dan prinsip NeoLib, sedangkan tindakan didalam negeri mesti lah dengan prinsip kerakyatan (melindungi rakyat sendiri).


Responses

  1. saya juga sempat membicarakan masalah bahasa :0

  2. Makasih atas infonya, TakeOnePicture.

  3. mantap tulisan nya pak….

  4. Awesome….
    Tapi seringkali para aktivis melakukan perlawanan (klasik-red) kepada neolib dengan anti tesisnya yaitu sosialisme. Selama beberapa tahun saya aktif di HMI MPO (Himpunan Mahasiswa Islam Majelis penyelamat organisasi) selalu digiring ke wacana Sosialisme-religius (Islam-kiri) untuk pembelaan terhadap kaum musthadh’afun (Orang2 yang teraniaya)….

    Namun secara prakktek, clash terhadap kapital;isme adalah kesalahan. Saya secara pribadi berpikir : “Seharusnya neolib harus dilawan neolib itu sendiri. ini nyata ketika saya melihat perlawanan Iran dengan nuklirnya, Arab dengan isu waktu dunianya. Tidak mungkin Iran dan Saudi berani kalau ekonomi, teknologi, politik dan militer mereka sangat kuat. terutama Ekonominya.
    Saudi membeli banyak saham (termasuk klub sepakbola) di Eropa. Ini membuat Eropa pusing dan malah melakukan perlawanan dengan Nasionalisasi aset swasta dan wacana nasionalisme dan sosialisme.
    Saya kira pemikiran mas Rovicky ada benarnya, jika ingin melawan neolib ya…harus tahu ilmu dan prktek neolib….

  5. sebuah pencerahan,, kesimpulannya kalau jadi pemimpin itu harus pakai otak. (nyambung ga nih🙂

  6. saya juga sependapat dengan pak Rovicky dan pak nasyaruddin.,
    kalo mau melawan neolib ya harus tau ilmu dan prakteknya.,
    la wong Setan itu nggodain manusia jg tau hukum syariatnya.,hehe


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: