Oleh: Rovicky | Desember 6, 2010

Demokrasi di mata saya


Diskusi tentang makna demokrasi akan sangat panjang dan melelahkan. Demokrasi merupakan “cara terbaru” dalam memutuskan sebuah perkara. Saya menyebutkan “terbaru” tetapi bukan berarti “terbaik“. Terbaru ini dalam time frame karena munculnya paling belakangan. Sedangkan terbaik itu sifatnya relatif, baik relatif geografinya, masyarakatnya, maupun strata masyarakatnya.

Saya sendiri saat ini malah (masih) meragukan sistem demokrasi yang berjalan merupakan cara terbaik secara general. Dulu saya ikutan berkata aneh ketika ada istilah Demokrasi PancaSila. Walaupun saya juga ngga ngerti demokrasi itu seperti apa. Sampai suatu saat ada yang mengatakan demokrasi hanyalah salah satu dari sekian cara dalam memutuskan sebuah perkara, perselisihan dimana semua orang diberi hak yang sama. Caranya disebut VOTING. 

VOTING memang cara moderen (terbaru) dalam memutuskan,karena sebelumnya ada keputusan yang dilakukan oleh satu orang secara otoriter. Walaupun cara ini terbaru, namun masih banyak hal buruk muncul akibat voting ini. Salah satu sisi buruk adalah ketika adanya tindakan meng-“ abused ” dari sebuah voting. Salah satunya money politics, social engineering, hingga tebar pesona dan adu popularitas tapi bukan adu kemampuan. Dan memang VOTING bukan mencari yang terbaik, tetapi voting mencari apa yang disepakati. Dan kesepakatannya adalah kesepakatan dimenangkan yang terbanyak.

Cara voting ini masih lumayan lebih baik ketimbang cara-cara sebelumnya dimana adanya tirani minoritas yang menjalankan hukum sesuai keinginan segelintir orang. Bahkan hukum rimba siapa yang fisiknya kuat adalah yang berkuasa. Kalau yang kuat adalah terbaik ya ngga apa-apa. Kalau yang terkuat ternyata buruk, maka kontinuitas serta kelanggengan komunitas itu menjadi terganggu.

😦 “Pakdhe, kalau orang sekelompok itu menyetujui dan sepakat cara yg dengan kacamata lain bisa jadi buruk, tapi kalau kelompok itu sepakat cara otoriter itu terbaik pripun ?”

😀 “Ngko sik, Thole “

Social engineering

Kalau terbanyak ternyata memilih si buruk ya buruk akibatnya. Tetapi apakah ini disebabkan pemilihnya yang bermental buruk ? Saya jawab belom tentu !

Dalam sebuah komunitas banyak kelompok yang masuk kategori “tidak tahu” didalam komunitas pemilih (voter) ini. Dan ketidak tahuan inilah yang “dimanfaatkan” oleh yang lebih tahu, dimanipulasi atau bahasa kwerennya dengan social engineering. Termasuk didalamnya money politics dan adu pesona.

Salah satu contoh riil akibatnya adalah banyaknya artis menjadi pemimpin karena mereka mampu mepesona pemilihnya (tebar pesona). Tentusaja selain tebar pesona si artis yg sudah populer itu juga adanya kontestan yang membayar pemilih yang pada akhirnya diminta balik dalam bentuk palak ataupun korupsi.

Contoh social engineering adalah mengumumkan hasil survey yang seolah-olah hasilnya diduga akan munculnya kemenangan si A. Bagi sekumpulan orang yang “ngga tahu“, maka secara naluriah mereka akan MENIRU ! atau bahasa anakmuda LATAH ! sifat latah inilah yang dimengerti oleh politisi, sehingga diatur sedemikian rupa sehingga tehnik serta strategi kampanye digunakan untuk memenangkan si A. Apapun kemampuannya bukan hal penting bagi politisi. Karena bagi politisi yang penting MENANG. Bukan mementingkan kebenaran, tapi kemenangan.

Kenyataan munculnya pemimpin yang tidak “cakap” namun memenangkan ‘lomba populer‘ ini merupakan sisi buruk yang harus dihindarkan. menambah masyarakat supaya menjadi lebih tahu artinya diperlukannya pendidikan supaya dalam menjalankan proses demokrasi pemilihan atau voting, para pemilih (voter) ini akan berusaha memilih yang terbaik, bukan memilih yang paling populer. Bukan hanya memilih yang membayari, tetapi memilih yang terbaik sesuai yang diyakini.

Jadi demokrasi masih harus dikaji, diuji, dan dikritisi sampei kita mampu dan puas ketika harus menggunakannya atau bahkan harus meningggalkannya.


Responses

  1. Well… menurutku sendiri (ini menurutku ya): demokrasi berarti pemerintahan rakyat, yaitu pemerintahan dari rakyat, untuk rakyat dan oleh rakyat. Ciri demokrasi adalah adanya sebuah lembaga perwakilan rakyat yang merupakan perwujudan kekuasaan ada di tangan rakyat. Maka Lembaga perwakilan rakyat ini harus menjadi lembaga tertingi. Adapun voting, itu hanya salah satu cara dalam mengambil keputusan. Jadi demokrasi tidak sama dengan voting/pemilu. Masih ada cara lain dalam mengambil keputusan yaitu musyawarah dalam mufakat.
    Dalam demokrasi pancasila, artinya kekuasaan ada di tangan rakyat dalam bentuk adanya lembaga perwakilan. Namun cara yang dipakai untuk mengambil keputusan dalam demokrasi pancasila adalah musyawarah untuk mufakat. Ini adalah asas sila ke4 Pancasila.

    Setuju sekali bahwa sistem pemerintahan yang terbaik harus dilihat dari situasi dan kondisi masyarakat itu sendiri, apapun jenis pemerintahannya. Baik demokrasi, monarkhi ataupun kekhalifahan semuanya adalah bentuk pemerintahan buatan manusia. Maka semuanya ada titik kelebihan dan kekurangannya. Sejarah mencatat bahwa semua sistem tersebut akan baik jika pemimpinnya tepat. Correct me if i wrong. Terima kasih.

  2. kalau menurut saya pribadi demokrasi itu bebas namun tetap ada di dalam jalur dan tidak keluar dari kaidah dan norma yang berlaku..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: